Beberapa hari mendatang, ramadhan akan berakhir.  Ruang ibadah akan kembali normal.  Dalam bahasa pendidikan, proses pembelajaran semakin mendekati masa akhir. Bila ada Ujian Akhir Shaum (UAS), berapakan  Standar Kompetensi Shaum ? [1].,  Tulisan ini, adalah tulisan lama, dan berharap bisa terdokumentasikan di media maya ini.

Bagi seorang pendidik, mungkin tidak aneh mendengar istilah standar kompetensi. Karena dalam kurikulum 2004 untuk pendidikan dasar dan menengah sudah menggunakan standar kompetensi sebagai alat ukur keberhasilan proses pendidikan. Dalam bahasa akademik, kurikulum pendidikan nasional saat ini, disebut dengan kurikulum pendidikan berbasis kompetensi (KBK, curicullum based competence).

 Dengan mengqiyaskan pada kebijakan pendidikan nasional tersebut, muncul sebuah pertanyaan, bisakah model kebijakan pendidikan nasional seperti ini diimplementasikan ke dalam praktek keagamaan, misalnya dalam kegiatan shaum ramadhan ?

Dalam implengan penulis, latar belakang pemikiran ini sudah sangat jelas, yaitu cantuman tujuan shaum sebagaimana yang diterakan dalam Qs. Al-Baqoroh : 183. Pada ayat tersebut, Allah Swt berfirman, ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”.  Tafsiran dan makna ayat ini, sudah sangat jelas, bahkan sudah banyak diantara kita yang hapal terhadap bunyi, terjemah dan tafsirannya. Namun demikian, adakah dengan ayat tersebut mampu ’mereformasi’ atau ’merevolusikan’ kualitas derajat keimanan dan ketaqwaan kita selama ini ? inilah pertanyaan dasar  kita saat ini.

Sangat sedikit, orang yang diantara kita mencoba untuk merenungkan pertanyaan seperti ini. Kita semua, lebih banyak terlena dengan seremonial ramadhanan, dan khilaf terhadap tujuan utama pelaksanaan shaum di bulan suci ramadhan ini. Sehingga, yang kita rasakan itu adalah seremonial tarawih di minggu-minggu pertama ramadhan, dan hiruk pikuk menjelang akhir ramadhan menyongsong idul fitri.

Terkait dengan hal tersebut, wacana ini berupaya untuk mengajak pembaca untuk merenungkan efek pendidikan dari ibadah ramadhan. Adapaun terkait dengan pentingnya membuat rumusan standar kompetensi ramadhan,  dilatari oleh beberapa asumsi sosial yang  mendukung dan memperkuat pertanyaan dasar kita saat ini.

Pertama, merujuk pada pandangan Jalaluddin Rakhmat (2004) bahwa ramadhan merupakan sebuah madrasah spiritual. Ramadhan merupakan sebuah mekanisme ilahiah dalam memberikan pendidikan, dan pembinaan kepada kaum muslim untuk meningkatkan kualitas diri dan kemampuan sosialnya di dunia ini.  Dengan merujuk pada asumsi ini, maka bulan ramadhan adalah bulan pendidikan (syahrut tarbiyyah) khususnya yaitu tarbiyah ruhaniyyah. Seiring dengan pandangan ini, maka layaknya sebuah proses pendidikan, maka setiap langkah dan kegiatannya selalu diarahkan pada sebuah tujuan tertentu.  Dalam konteks ini, shaum ramadhan pun, diasumsikan memiliki tujuan dasar dan tujuan utama pembelajaran.

Kedua, tulisan ini disandarkan pada asumsi bahwa proses pendidikan adalah usaha dan upaya sadar untuk melakukan perubahan, baik dalam konteks personal maupun sosial. Seorang yang menjalani proses pendidikan, secara teoritik diharapkan dapat menampilkan ciri adanya perubahan perilaku. Pembelajaran adalah usaha sadar untuk melakukan perubahan perilaku. Oleh karena itu, andai saja dari sebuah proses pendidikan terjadi perubahan perilaku, maka individu tersebut telah menjalani dan mengalami proses pembelajaran.

Seiring dengan hal tersebut, kita semua tampaknya harus skeptik terhadap efektivitas ramadhan sebagai proses pembelajaran. Dalam tataran kehidupan kita saat ini, sangat kasat maka mengenai adanya gejala telah membudayanya kebiasaan masyarakat untuk meninggalkan masjid di akhir bulan suci ramadhan.  Ini adalah praktek sosial yang secara normatif bertentangan dengan kemestiannya tindakan diakhir bulan ramadhan. Secara normatif, pada akhir bulan ramadhan ini, umat Islam dianjurkan untuk ber’itikaf di masjid, namun pada kenyataannya pada akhir bulan ramadhan ini, masjid banyak berkurang penghuninya.

Kemudian, jika analisis ini kita kembangkan ke aras yang lebih umum, kita dapat temukan gejala sosial  bahwa bangsa kita saat ini sedang mengalami krisis moral. Korupsi, kolusi, nepotisme, penyelundupan kekayaan negara, kriminalitas dan tindakan melanggar hukum yang lainnya.  Tindakan-tindakan tersebut, secara  nyata lebih banyak dilakukan oleh mereka yang sudah punya usia (dewasa). Dengan kata lain, jika mereka adalah muslim, maka mereka sudah menjalankan beberapa  kali berpuasa ramadhan. Namun demikian, kenapa tindakan kriminal tersebut masih terus dilakukan ? inilah pertanyaan dasar kita saat ini.

Merujuk pada hal tersebut, tidak mengherankan bila memunculkan tindakan skeptik terhadap efektivitas ramadhan sebagai bulan pendidikan.

Ketidakefektivan ramadhan sebagai bulan pendidikan, sudah barang tentu bukan karena keberadaan ramadhannya itu sendiri. Baik dari sisi hukum maupun manasik shaum (cara berpuasa) sudah jelas dan pasti (qoth’i). Dengan kata lain,   secara normatif, shaum di bulan suci ramadhan sebagai salah satu ibadah mahdhah yang menjadi kewajiban bagi seorang muslim yang telah memenuhi syarat. Nilai keaslian dan kemestiannya seorang muslim untuk menjalankan shaum ramadhan sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Hanya memang menjadi tanggungjawab kita sebagai manusia, untuk merumuskan rincian dan turunan cara (derivat) untuk mencapai tujuan pemberlakuan peribadahan tersebut. Dalam konteks ini, setiap diantara kita perlu menunjukkan tanggungjawab yang operasional dan praktis dalam mentejemahkan keyakinan atau  keimanan kita dalam menjalankan ajaran agama. Seperti sikap yang dikedepankan Muhammad Iqbal (Ali Audah, 1966 : xvi)  dalam memposisikan dirinya dan Tuhannya. Dalam masalah ini, Iqbal mengatakan, ”Kau yang menciptakan tanah liat // dan akulah yang membuat pelita // Kau menciptakan sahara, gunung-gunung dan belantara // aku yang membuat kebun anggur, taman-taman dan padang tanaman, // akulah yang telah mengubah batu menjadi cermin // akulah yang telah mengubah racun menjadi obat penawar.”

Dengan mengembangkan pemikiran Iqbal tersebut, dapat dikemukakan bahwa (a) ada hubungan yang erat antar tindakan kreasi Tuhan dengan kreasi manusia, (b) manusia memiliki kewajiban –lebih tepatnya potensi—untuk merumuskan kreasi-kreasi operasional dari kreasi Tuhan, dan (c) hal yang lebih dari itu semua adalah tanggungjawab manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi, adalah merumuskan cara,teknis, mekanisme yang relevan untuk  mencapai tujuan dari hidup beragama tersebut.

Dalam bidang hukum, upaya ini menuntut seseorang menjadi  fuqoha yang memiliki kemampuan untuk merumuskan hukum atau syari’at.  Dalam bidang keilmuan menuntut adanya kelompok orang yang menjadi seorang ilmuwan atau teknologi yang memiliki kemampuan untuk mengembangkan ilmu dan teknologi. Sementara dalam bidang pendidikan, menuntut adanya sekelompok pemikir yang memiliki kemampuan untuk mengembangkan rumusan kurikulum pembelajaran keagamaan yang dapat mengantarkan pada tujuan hidup beragama.

Pada konteks inilah, maka kebutuhan untuk merumuskan standar kompetensi shaum ramadhan menjadi sangat relevan untuk dijadikan wacana. Karena memang, pada satu sisi sudah ada rujukan teoritiknya yang menyatakan bahwa ramadhan sebagai sebuah madrasah spritual, kemudian dari sisi yang lain, amalan bulan ramadhan ini telah memiliki tujuan yang sangat  jelas, yaitu untuk mengantarkan seorang yang berpuasa ke derajat keimanan dan ketaqwaan. Kebutuhan kita sekarang adalah untuk menjawab pertanyaan, adakah standar kompetensi yang mudah diukur sehingga seseorang dapat dikatakan sudah mencapai tujuan pelaksanaan shaum ?

Tujuan kurikuler (tujuan pembelajaran) shaum ramadhan, sudah sangat jelas yaitu mencapai derajat taqwa. Untuk sekedar mengingatkan bahwa tujuan pendidikan nasional Indonesia pun, adalah diarahkan untuk menjadikan anak didik Indonesia yang beriman dan bertaqwa. Kendatipun berbeda dalam perincian makna atau ciri orang yang betaqwa, namun dengan sangat jelas bahwa ketaqwaan merupakan sebuah tujuan normatif atau tujuan akhir dari pendidikan nasional.

Bagi mereka yang berkutat dengan dunia pendidikan, tujuan ideal pendidikan nasional tersebut (beriman dan bertaqwa) diraih dengan cara membuat rumusan standar kompetensi yang harus dimiliki anak didik. Standar kompetensi ini, kemudian dibebankan atau disebarkan kepada berbagai mata pelajaran, kegiatan pendidikan  pada setiap jenjang pendidikan.  Upaya mengoperasionalisasikan tujuan pendidikan nasional ke dalam bentuk yang lebih nyata dan terukur ini, merupakan sebuah pendekatan praktis untuk mengontrol efektivitas proses pendidikan atau kegiatan belajar mengajar.

Sehubungan dengan hal tersebut, bagaimana operasionalisasi tujuan pendidikan sebagaimana yang diidealisasikan dalam praktek ibadah shaum ramadhan ?

Memang terdapat banyak kesulitan dalam merumuskan standar kompetensi shaum ramadhan, ke dalam rumusan spesifik. Kesulitan-kesulitan tersebut, ada yang terkait dengan hakikat tujuan atau perbuatan shaum, dan ada juga yang tekait dengan mekanisme operasionalnya. Namun demikian, hal yang paling mendasar dari berbagai kesulitan tersebut, adalah adanya ketidaksepahaman mengenai status atau hakikat puasa itu sendiri.

Bagi mereka yang memiliki wawasan ilmu kependidikan, sangat wajar bila memposisikan ramadhan dan shaum sebagai wahana pembelajaran baik sisi spiritual maupun intelektual. Namun, bagi mereka yang hidup dengan suasana keagamaan yang ’tradisional’ akan tetap memposisikan shaum ramadhan sebagai sebuah amalan ibadah  titik.  Bagi kalangan yang terakhir ini, shaum adalah ibadah, dan tidak bisa diintervensi oleh kepentingan yang lainnya.

Kesulitan berikutnya, yaitu shaum merupakan sebuah amalan bathin. Amalan ini berbeda dengan amalan sholat atau naik haji. Shaum adalah proses pendidikan bathin atau spiritualitas seseorang. Oleh karena itu, untuk mengukur efektivitas keberhasilan ibadah shaum ini menjadi sangat sulit untuk dilakukan. Tetapi, apakah dengan demikian, maka proses pendidikan bathiniah ini akan tetap dibiarkan demikian, sehingga tingkat efektivitas dan keberhasilannya menjadi sangat tidak jelas ?

Bagi mereka yang beraliran dogmatis, mungkin akan buru-buru mengedepankan sikapnya bahwa ’manusia itu hanya berusaha, sementar hasil adalah urusan Tuhan’, sehingga mereka tidak mau bersulit-sulit ria merumuskan standar kompetensi shaum ramadhan. Sikap seperti ini, adalah wajar, dan dapat kita maklumi bersama. Namun tetap pertanyaan kita yang awal perlu dijawab, yaitu mengapa kita sering berpuasa ramadhan, namun perilaku kita tidak mengalami perubahan yang nyata ?

Pada sisi yang lain, tuntutan dan kebutuhan untuk membuat rumusan standar kompetensi ramadhan ini, memang dilatari oleh paradigma pemikiran yang ilmiah (mungkin juga positivistik). Tetapi, tanpa harus berprasangka buruk terhadap paradigma ilmiah ini, kebutuhan untuk membuat standar kompetensi shaum ramadhan dilandasi oleh beberapa argumentasi operasional yang mendukung program yang sudah berjalan saat ini.

Hal yang paling nyata dan telah dilakukan oleh bangsa kita saat ini, adalah mengganti kegiatan belajar mengajar formal dengan pendidikan nonformal ’pesantren  ramadhan’.  Mau tidak mau, jika pesantren ramadhan ini dijadikan pengganti (badal) dari pendidikan formal, maka pertanggungjawaban proses kegiatan belajar mengajar pesantren ramadhan pun perlu untuk dirumuskan. Karena dalam konteks tersebut, pesantren ramadhan adalah bagian dari proses kegiatan pendidikan formal. Sehingga, tujuan pendidikan nasional pada umumnya, dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

Berdasarkan hal tersebut, maka standar kompetensi shaum ramadhan, pada dasarnya (a) pengembangan lanjutan dari kebijakan pemerintah untuk mengganti KBM pendidikan formal dengan pesantren ramadhan, (b) standarisasi kegiatan ramadhan sebagai sebuah bagian dari proses pendidikan nonformal, (c) andaipun sudah dilakukan —misalnya dengan menggunakan buku kegiatan ramadhan–, maka kebutuhan kita adalah perlu adanya formalisasi standar kompetensi pendidikan shaum ramadhan, sehingga tujuan pendidikan ramadhan dapat dioptimalkan.

Andai saja, hal-hal tersebut dapat diwujudkan, maka reformasi akhlak atau revolusi perilaku sosial masyarakat  akan dapat diwujudkan, dan mungkin kita akan memiliki rumusan operasional (standar kompetensi) untuk mencapai status shaum mabrur (puasa yang benar), yang dapat menghantarkan seseorang menuju orang yang bertaqwa. Wallahu ’alam bishowab.


[1] Pernah di muat di Koran Metro Bandung, Edisi 10 bulan Oktober 2005

Advertisements