Keberhasilan kita sampai pada buka puasa, atau maghrib, tidak disebabkan oleh berapa banyak  makan sahur kita, tetapi ditentukan oleh bagaimana kita mengelola energi kita, sehingga kita bisa sampai ke buka puasa ?

Terkait dengan hal ini, setidaknya kita melihat empat karakter manusia saat ini. Pertama, ada orang boros. Di sebut boros, karena lebih banyak melakukan pengeluaran yang tidak efektif.  Di sebut boros, karena tidak mau tahu dengan modal yang dimilikinya, dan kemudian terobsesi banyak melakukan pengeluaran tanpa jelas arah dan  tujuannya.

Seseorang di sebut hidup boros, jika tidak sadar bahwa dirinya sedang puasa, tetapi malah melakukan banyak kegiatan yang besar dan berat. Akibatnya,  persediaan energi yang ada di dalamnya, terkuras habis, dan dia kehilangan tenaga untuk bisa sampai tujuan.  Akibatnya, jika tidak  mengalami kebangkrutan di tengah jalan, atau batal, dia akan merakan kelelahan dan kepayahan untuk sampai ke masa maghrib.

Mengapa seorang anak kecil kerap berpuasa hanya sampai jam 10 atau jam 12 ?  bisa disimpulkan secara sederhana, mereka belum mampu mengelola kemampuan dirinya hingga sampai ke tujuan. Akibatnya, kadang tidak  mau bermodal (sahur), atau banyak melakukan kegiatan yang menyebabkan borosnya energi.

Kedua, ada yang pelit. Di sebut pelit, karena melakukan pengurangan aktivitas seiring selaras dengana pengurangan modal.  Merasa sedang berpuasa, dia melakukan banyak pengurangan. Bahkan, yang diutamakan adalah malas bekerja. Kegiatan yang diutamakannya adalah tiduran, atau menghabiskan waktu dengan tiduran. Orang seperti itu, adalah orang yang pelit dalam berpuasa. Punya modal dan mampu melakukan banyak aktivitas, malah mengambil jalan yang teririt.

Ketiga, ada orang hemat.  Orang ini mengembangkan model manajemen diri yang baik.  Dari sisi ketercapaian tujuan, dapat dibuktikan. Pengelolaan diri pun dapat dilakukan secara efektif. Sayangnya, hasil yang didapatnya masih minimal atau pas-pasan. Orang ini adalah orang hemat.

Terakhir, adalah orang yang kreatif. Di sebut kreatif, karena mampu memanfaatkan modal kecil untuk mendapatkan  hasil yang melimpah. Kendatipun puasa, energi sedikit berkurang dibanding di luar ramadhan, tetapi semangat untuk ibadah tinggi, semangat menambah amalan terus meningkat, dan bahkan semangat untuk mengabdi pada umat terus ditingkatkan.

Orang kreatif, adalah orang yang mampu memvariasikan strategi, dan menggandakan keunggulan dari modal minim yang dimilikinya. Orang yang berpuasa, sebagaimana anjuran Rasulullah Muhammad Saw  dianjurkan untuk memperbanyak zikir kepada Allah, memperbanyak tadarusan, memperbanyak infaq shodaqah, dan amalan lainnya. Di saat eneri tubuh dikurangi, seorang muslim tetap dituntut untuk memakurkan ramadhan sebagai bulan ibadah. Seorang muslim dituntut untuk mengembangkan ramadhan sebagai bulan beramal.

Apapun yang kita lakukan, semua itu adalah pilihan. Pilihan  kita bergantung pada pribadi masing-masing. Apakah kita  orang boros, hemat, pelit atau kreatif?  Tetapi yang perlu dicatat tegas di sini, kita dapat menemukan informasi bahwa, apapun pilihannya, semua itu akan berkaitan dengan kemampuan kita dalam mengelola diri 

Keberhasilan kita sampai pada buka puasa, atau maghrib, tidak disebabkan oleh berapa banyak  makan sahur kita, tetapi ditentukan oleh bagaimana kita mengelola energi kita, sehingga kita bisa sampai ke buka puasa ?

Keberhasilan kita dalam mencapai tujuan,  tidak disebabkan oleh berapa banyak modal yang kita miliki, tetapi dipengaruhi oleh kemampuan kita dalam mengelola aset yang dimiliki ?

Advertisements