Ramadhan, sebagaimana yang kita jalankan selama ini, pada dasarnya adalah upaya membangun kesadaran dan kemampuan manajemen waktu dan kekuatan diri. Sadari kemampuan, kelola peluang, dan lakukan aktivitas yang efektif dalam mencapai tujuan hidup. Itulah efficacy seorang muslim di bulan ramadhan.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (Qs. Al-Baqarah : 183)

Banyak ulama yang menyebut ramadhan sebagai bulan pendidikan (syahrut tarbiyah).  Lebih khususnya lagi, yaitu pendidikan ruhani atau dalam bahasa modernnya yaitu pendidikan karakter. Ramadhan adalah pendidikan karakter kepada setiap pelakunya.

Diantara sejumlah karakter yang dibangun itu, kita bisa menemukan dan merasakan, yaitu pentingnya karakter kedirian yang mengacu pada sikap kemandirian atau self-efficacy. Dalam kajian psikologi, self efficacy itulah keyakinan diri seseorang, terhadap kemampuannya untuk meraih tujuan.

Ramadhan, disadari atau tidak,  menciptakan lingkungan pembelajaran kepada setiap muslim untuk mampu mengelola diri (self-organizing) sehingga memiliki self-efficacy yang baik.  Mungkin kebanyakan kita tidak sadar, tetapi bila kita melaksanakan ibadah shaum ramadhan secara seksama, secara perlahan namun pasti, kita akan merasakan hal itu dalam pribadi kita.

Taruhlah, dan ini kisah yang sangat sederhana. Di pagi hari, Anda sahur sepiring nasi dengan lauk pauknya. Kemudian minum jus atau minuman bernutrisi yang menyegarkannya. Berapa banyak pun yang dikonsumsi Anda di waktu sahur itu, adalah modal-hidup  atau modal ketahanan fisik kita untuk waktu kurang lebih 11-12 jam ke depan.

Dengan kemampuan modal itu, pikiran, perasaan, emosi dan langkah Anda, secara tidak langsung akan mengkondisikan dan mengkoordinasikan diri terhadap lingkungan hidupnya sendiri. Dalam setiap langkah dan geraknya, Anda akan senantiasa mengukur, menimbang, memperhitungkan, antara waktu tempuh panjang, dengan persediaan ‘energi’ (modal hidup) yang sudah diinvest sebelumnya (waktu sahur).

Salah perhitungan ?! Anda celaka. Energi yang sediakan ‘pas-pasan’ misalnya, tetapi kemudian malah Anda melakukan aktivitas harian yang sangat berat. lari keliling lapangan sepakbola 5 kali misalnya, kemudian bekerja mengangkut barang berat beberapa kali, dan aktivitas berat lainnya. Dengan pengeluaran energi yang berlebihan seperti itu, maka ketahanan diri akan tumbang, dan tujuan hidup hari itu, tidak akan tercapai. Mengapa ?

Langkah yang ada lakukan, tidak sesuai dengan energi yang dimiliki untuk bisa sampai pada tujuan  hidup anda !

Jangankan salah perhitungan, untuk salah alokasi saja, akan menyebabkan kita mengalami kepayahan. Waktu yang dibutuhkan banyak, persediaan modal banyak, tetapi aktivitas boros,  bisa menyebabkan kita gagal sampai ke tujuan, atau setidaknya kita akan mengalami kepayahan yang akut dalam target yang sudah ditetapkan tersebut.

Berdasarkan pertimbangan itu, melalui ramadhan ini, pendidikan karakter yang ditekankan dan dibangun, adalah kemampuan self-efficacy. Menurut Albert Bandura, self-efficacy adalah keyakinan diri seseorang terhadap kemampuan dirinya untuk meraih sebuah target.

US.  Pada mulanya adalah seorang cleaning service. Tahun 2004 adalah honorer di Pemerintahan Daerah Provinsi Jawa Barat.  Dengan seorang istri, dan seorang anak, dia tinggal di kawasan Bale Endah Bandung. Setiap hari, kerja selama hampir 12-13  jam.  Masuk ruang kerja, sekitar pukul 06.00 Wib, datang paling duluan, dan pulang harus paling akhir, karena bertugas membereskan kembali ruangan kerja di Pemprov tersebut. Sehingga, kadang pula itu antara pukul 18.00 – 19.00 WIB, lebih lama dari jam kerja pegawai negeri sipil.  Dengan gaji, sedikit diatas UMR, dia harus menghidup keluarganya dan kebutuhan tranportasi dirinya.

Suatu saat bertanya, “mungkinkan saya bisa mengubah nasib seperti ini ? pendidikan hanya lulusan SMA, dan tidak memiliki keterampilan apa-apa ?”

Mendengar pertanyaan itu, saya yang berkesempatan hadir di depan curhatannya itu, sempat mengatakan, “apapun yang kita inginkan, pada dasarnya diawali dari keyakinan kita terhadap kemampuan diri sendiri. Sayangnya, manusia banyak yang membunuh masa depannya dengan cara, memvonis bahwa dirinya tidak bisa, atau tidak mampu”.

Entah bagaimana kelanjutannya. Apakah ungkapan itu yang terpikirkan olehnya. Hal yang pasti, selepas saya pindah kerja dari Pemprov tersebut, dan menjadi tenaga pendidik, bertemu kembali dengan beliau. Hampir lima tahun sudah berlalu. Kemudian beliau berujang, “Kang, alhamdulillah, dengan gaji apa adanya, saya selesai kuliah dengan biaya sendiri, dan ruang kerja pindah, masuk ke jajaran adminstrasi…” katanya. Mendengar ungkapan itu, ucap syukur terlontar. “obrolan kita masa lalu itulah, yang saya rasa mengubah hidup saya sekarang. Saya harus yakin dengan kemampuan diri, dan tidak boleh menghinakan diri sendiri…” ujarnya lagi.

Apa yang dialami oleh saudara kita ini, memberikan contoh nyata, bahwa self-efficacy merupakan energi kuat bagi seseorang untuk bangkit dan maju dalam meraih cita-citanya. Orang yang tidak memiliki rasa percaya diri, tidak percaya pada kemampuan diri, tidak bangga dengan potensi diri,  akan menjadi tanda awal dari kegagalan dalam mencapai impian.

Karena itu, kita bisa melihat, bahwa kegagalan itu bukan disebabkan karena kita tidak mampu mencapai target itu, tetapi kita sudah menghentikan, menghambat bahkan membunuh kehebatan energi diri untuk meraih cita-cita oleh diri sendiri. Kegagalan, lebih disebabkan karena kita sendiri sudah memvonis diri tidak mampu untuk mencapai tujuan tersebut !

Ramadhan, sebagaimana yang kita jalankan selama ini, pada dasarnya adalah upaya membangun kesadaran dan kemampuan manajemen waktu dan kekuatan diri. Sadari kemampuan, kelola peluang, dan lakukan aktivitas yang efektif dalam mencapai tujuan hidup. Itulah efficacy seorang muslim di bulan ramadhan.

Advertisements