Malam pertama ramadhan, para pembicara yang tampil dalam khutbah tarawih memberikan keterangan dan penerangan mengenai amalan ramadhan.  Mulai dari dalil naqli, sampai pada  penjelasan contoh-contohnya, dengan harapan para pendengar itu mampu memahami makna dan esensi ramadhan.

Hal yang tidak tersadari oleh setiap pendengar, sikap kritis seorang pengkhutbah di malam ramadhan itu, ternyata terus berlanjut, berlanjut dan berlanjut lagi hingga malam terakhir ramadhan, dan bahkan di hari idul fitri.

Bila ditelaah dengan seksama, nasihat dan/atau informasi yang diberikan selama bulan ramadhan itu, tidaklah jauh dari upaya pembicaranya (khatib) memberikan kiat dan upaya untuk melakukan perbaikan diri, sekaligus memberikan pandangan kritis terhadap perilaku muslim yang berkembang saat itu.

Malam pertama, memberikan peringatan mengenai minimnya nilai pahala seseorang yang berpuasa, hanya dengan meninggalkan nafsu biologisnya di siang hari. Orang yang malam harinya, yang dimulai dengan buka puasa (ifthar) sampai pada makan sahur, ternyata tidak mampu menahan diri dari nafsu biologismenya (konsumerisme), diposisikan sebagai pelaku puasa yang berpahala minim. Kritikan ini relevan dengan tujuan untuk melakukan kritik terhadap sifat-sifat biologisme atau konsumerismenya manusia zaman modern.

Ketidakrelevanan sifat atau karakter manusia muslim dengan syari’ah pun, kemudian dikritisinya pada malam-malam berikutnya. Ada yang mengkritisinya mengenai kualitas kesyahadatan, mengkritisi sikap kesabaran kita, mengkritisi ketaatan kita kepada Allah Swt, mengkritisi kedisiplinan kita dalam beribadah kepada Allah Swt, dan mengkritisi dimensi-dimensi kehidupan yang lainnya.

Hemat kata, dalam satu bulan penuh itu, tergambarkan bahwa manusia itu yang sudah berbaju lengkap, menor, dan gagah itu, secara perlahan dipreteli dan dikoreksi. Ternyata, baju-baju yang disematkan dalam diri manusia itu, banyak aspek kehidupan yang kurang sesuai dengan ajaran Islam.

Bila demikian adanya, dan bila sikap kritis atau pempretelan baju-baju kotor, dan atau selimut dusta mengenai identitas manusia saat ini, terlucuti semua, dan kemudian dapat diganti dengan baju baru, maka akan lahirnya seorang insane yang bersih, dan berada pada titik kesucian. Itulah yang kita akan sebut kelak dengan manusia fitri.

Advertisements