Saat menjelaskan keadilan, Ustadz Aceng Zakaria, dari Pondok Pesantren Rancabango Garut menggunakan tamsil hidup dengan membandingkan pada masalah mimpi. Dalam pemahamannya, Tuhan itu maha adil. Kehidupan manusia itu diputar. Siang dan malamnya berbeda-beda. Orang miskin di siang hari, dia bisa saja kaya di malam hari. Begitu pula dengan orang kaya. Dia kaya di siang hari, tetapi miskin di malam hari. Orang miskin harus bekerja keras di siang hari, di malam harinya dia bisa santai, tertidur lelap. Sedangkan, orang kaya dapat tertawa di siang hari, namun malam harinya dia harus bertarung dengan berbagai rasa takut.

Coba bayangkan. Orang miskin itu kalau siang hari, dia harus bekerja keras. Hanya untuk sekedar mencari sesuap nasi, dia harus banting tulang. Keringat panas dan dingin bercucuran, tiada hentinya hanya sekedar untuk mendapatkan sesuap nasi. Tetapi di malam harinya, dia bisa tidur nyenyak.

Tanpa harus berpikir dimana dia tidur. Kadang di lantai, di gerobak, di atas ranjang kayu, atau di kasur rombeng sekalipun dia bisa tertidur pulas. Tanpa ada rasa takut. Bahkan, andai bermimpi pun, dia bisa memimpikan keindahan hidup dunia. Dalam mimpinya orang miskin, bisa jadi memimpikan tentang makanan enak, istana, fasilitas hidup yang indah. Itulah impian yang dialami orang-orang miskin. Sebuah mimpi indah. Malam yang indah.

itulah yan dialami orang-orang miskin. Di siang harinya bekerja keras dan banting tulang, malam harinya dia dapat tidur nyenyak, tanpa ada rasa takut. Lelahnya kerja di siang hari, pupus sudah oleh nyenyaknya tidur saat itu.

Berbeda dengan orang kaya. Siang hari dia bisa tertawa-tawa. Ke sana kemari, naik kendaraan mewah.  Pergi diantar, pulang di jemput. Mau makan tinggal bel, mau minum tinggal minta. Istana mewah pun siap menantinya tiap hari. Tetapi, itu di siang harinya.

Hanya saja, kejujuran nurani tetap saja hadir. Orang kaya itu, di sian harinya dia berbahagia. Tetapi di malam harinya, mereka masih juga terus berpikri dan bersiasat mengenai langkah esok hari. Sayangnya, dalam mimpinya, dia bisa dihantui oleh KPK, kejaksaan, kepolisian atau pihak lain yang menuntutnya terhadap berbagai hal yang sudah dilakukannya selama ini.

Paparan itu, menggambarkan bahwa roda kehidupan itu akan senantiasa tetap berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Bukan saja kelak di akhirat, tetapi saat ini pun kerap terjadi. Banyak orang yang bahagia di siang hari, namun malamnya dihantui kegelisahan. Ada juga yang banting tulang di siang hari, namun namun malamnya dia bisa tertidur pulas.

Catatan kita. Semua itu adalah gambaran umum. kisah kasus per kasus, ada juga pengemis yang mengalami penderitaan panjang. Siangnya kerja keras, malamnya takut di usir tibum (petugas ketertiban umum). Kadang kita prihatin. Di siang hari mereka harus mencari makan, tetapi di malam harinya, untuk sekedar tidur pun dia harus bermain kucing-kucingan dengan petugas tibum.  Andaipun sudah memiliki sekedar gubuk pun, ancaman penggusuran masih tetap juga menghantui kalangan ini.

Di samping, itu, kita pun bisa melihat ada dua kelompok manusia yang memiliki warna sama dalam siang dan mimpiny malam harinya.

Dalam pemahaman sejarah Islam, Abdurrahman bin Auf radiyallu ‘anhu, adalah  salah seorang sahabat yang mendapatkan KTP Surga sebelum meninggal.  Sejak di dunia pun, beliau sudah diberitakan sebagai salah seorang ahli surga. Hal itu terjadi, karena amal shadaqahnya yang amat besar bagi pembangunan peradaban Islam dan perjuangan Islam kala itu. Orang ini mendapatkan kebahagiaan di siang dan malam hari, di dunia dan akhiratnya.

Begitu pula ada orang yang memiliki KTP Neraka. Orang ini adalah Abu Lahab. Karena kejahatan yang dilakukannya, dan juga perbuatannya selama di dunia ini, Abu Lahab sudah diabadikan dan ditetapkan sebagai ahli neraka sejak di dunia ini. Tokoh ini, termasuk pada  elit politik puncak di Makkah. Ini adalah contoh elit sosial yang sengsara di siang hari, dan sengsara di malam hari.

Dengan kata lain, dimanakah posisi kita ? ada empat pilihan (1) siang bahagia, malam sengsara, (2) siang bahagia, malam bahagia, (3) siang sengsara malam bahagia, dan (4) siang sengsara malamnya pun demikian adanya. Semua itu, sudah tentu, amat sangat bergantung pada apa yang kita lakukan saat ini.

Advertisements