Fondasi rumah itu wajib, tetapi asesoris rumah itu adalah sunnah atau tambahan. Hanya fondasi saja, bangunan rumah kita tidak akan indah, dan bila asesoris saja yang bagus, rumah kita akan ambruk. Sementara, jika fondasi kuat, yang wajib hebat, maka amalan sunnah akan memperhebat kembali kualitas dan keindahan bangunan tersebut !

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (Qs. Al-Baqarah : 183)

Di pertengahan bulan suci Ramadhan ini, kita sudah melihat aktivitas umat Islam yang beragam. Salah satu diantaranya adalah berusaha keras untuk mendapatkan busana muslim bagi anggota keluarganya. Seorang ibu, rela berjam-jam berdiri menunggu antrian untuk sekedar bayar pakaian yang sudah dipilihnya. Mereka antri, bukan saja karena berharap besar segera mendapatkan baju dan memberikan kepada anggota keluarganya, tetapi karena memang, di hari-hari itu, para pengunjung mal, pusat perbelanjaan begitu melimpah.

Ramadhan tiba, baju baru datang. Itulah kira-kira salah satu impian dari anak-anak muslim di pertengahan ramadhan, dan menjelang idul fitri. Impian, harapan, atau keinginan itu, hampir merata di setiap lapisan sosial, baik di desa maupun di kota. Bahkan, diduga, tradisi itu berkembang bukan saja di negeri kita, tetapi juga terjadi di negeri jiran Malaysia.

Fenomena ini unik. Terjadi di setiap sudut kota. Terjadi juga di setiap tahunnya. Tak pernah ada rasa kapok dengan antrian panjang dan melelahkan. Tidak pernah merasa kaget dengan harga barang yang melonjak naik. Apapun kondisinya, seolah ingin tetap dicapainya juga.

Khusus untuk konteks ini, kita tidak bermaksud untuk membahas masalah busana muslim, atau budaya belanja ramadhan. Masalah ini pernah kita singgung pada artikel sebelumnya. Aspek penting yang perlu dikemukakan di sini, mengenai cara kita memahami amalan ramadhan.

Perlu digaris bawahi, apa jawaban kita bila ada seseorang bertanya kepada kita, mana yang lebih baik, amalan sunnah atau amalan wajib ? dugaan sementara, banyak orang yang menjawab pertanyaan itu dengan kalimat, “amalan wajib”.  Mereka berargument, bahwa yang wajib itu tidak bisa ditinggalkan, sedangkan yang sunnah boleh dilaksanakan.

Wacana ini, akan mengambil kesimpulan yang berbeda, atau akan mengambil kesimpulan yang lain, dari sekedar jawaban seperti itu. Kita akan mengatakan bahwa amalan wajib itu amalan minimal,  sedangkan amalan sunnah itu lebih baik, lebih indah, lebih unggul dan lebih berkualitas. Mengapa begitu ?

Ingat kembali busana yang kita beli tadi. Coba renungkan kembali pakaian yang tengah kita kenakan saat ini. Hal yang wajib dari pakaian kita itu adalah menutup aurat dan melindungi tubuh kita dari sengatan sinar matahari. Itu adalah amalan wajibnya. Sedangkan, pakaian yang mengenakan renda, bordiran, atau selendang sebagai pasangan baju itu, adalah hal-hal yang sifatnya sunnah. Tetapi, justru karena adalah hal-hal yang sunnah itulah, maka busana kita akan tampil lebih indah, lebih asyik dan lebih memesona.

Seorang pria mengenakan busana kemeja. Aspek wajibnya, yaitu menutup aurat dan melindungi tubuh dari sengatan sinar matahari. Tidak wajib pakai kacamata, tidak wajib pake peci. Tetapi, jika dia mengenakan kacamata, peci dan sorban,  orang  tersebut, akan tampil jauh lebih tampan, lebih asyik dan lebih memesona lagi.

Seorang pegawai, tidak akan disebut kaya, jika hanya mengandalkan gaji pokok atau gaji wajib. Justru tunjangan-tunjangannya, yang sifatnya tambahan, itulah yang kemudian menjadikan dirinya memiliki  rejeki lebih. Hal itu pun menggambarkan bahwa upah wajib itu sifatnya minimal, sedangkan upah yang sunnah akan menambah dan meningkatkan.

Berdasarkan pertimbangan itulah, kita dapat menarik kesimpula bahwa sesungguhnya amalan sunnah itu adalah amalan yang meningkatkan. Amalan sunnah it adalah amalan yang lebih baik, dan memperbaiki. Sementara, amalan wajib adalah amalan yang minimal. Fondasi rumah itu wajib, tetapi asesoris rumah itu adalah sunnah atau tambahan. Hanya fondasi saja, bangunan rumah kita tidak akan indah, dan bila asesoris saja yang bagus, rumah kita akan ambruk. Sementara, jika fondasi kuat, yang wajib hebat, maka amalan sunnah akan memperhebat kembali kualitas dan keindahan bangunan tersebut !

Sayangnya, kerapkali kita mengabaikan amalan-amalan sunnah. Padahal, itulah sektor yang akan membedakan kualitas diri kita dengan orang lain !

Advertisements