Kedalaman kita dalam menghayati proses,  akan menjadi awal dari kualitas kebanggaan kita dalam menikmati hasil.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (Qs. Al-Baqarah : 183)

Tanpa membutuhkan perenungan yang terlalu dalam, kita bisa menarik kesimpulan bahwa untuk mencapai derajat taqwa membutuhkan sebuah proses. Proses yang dimaksud, adalah berpuasa. Puasa adalah proses, atau aktivitas, atau langkah yang mengantarkan seseorang untuk sampai pada tujuan yang diinginkan, yakni ketaqwaan.

Apakah ada, ketaqwaan yang instan ? apakah ada orang yang ujug-ujug jadi soleh ? mungkin iya. Karena mendapatkan ‘hidayah’ seseorang kemudian  berubah pikiran menjadi orang yang berbeda 180 derajat dari kehidupan sebelumnya. Tetapi, perubahan drastis tanpa kesadaran yang benar,  potensila melahirkan tindakan-tindakan kaku dan buta. Hal itu terjadi karena tindakannya tersebut,  belum mampu menyentuh hakikat amalannya itu sendiri.

Hidup ini adalah proses. Bahkan, kesuksesan yang diraih seseorang, apapun bentuk kesuksesannya adalah proses itu sendiri.  Karena orang yang merasa sudah sampai pada keberhasilan terakhir, adalah orang yang tengah merasakan kegagalan, yaitu  gagal melanjutkan kehidupan ini.

Perhatikan dengan seksama. Bila kita berhasil membuat kursi. Mungkin benar itu adalah hasil dari sebuah proses. Tetapi, hasil itu akan menjadi gagal, ketika kita tidak bisa mengembangkan lagi. Berhenti dalam satu kesuksesan, adalah kegagalan itu sendiri. oleh karena itu, kesuksesan adalah salah satu tahapan dalam proses kehidupan untuk mencapai harapan tertinggi.

Di sinilah, kita bisa memahami dengan tepat, makna dari firman Allah Swt, fa-idza faraghta fanshob, maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.  Dalam terjemahan Kementerian Agama, ayat ini mengandung makna bahwa apabila telah selesai berdakwah, maka beribadatlah kepada Allah; apabila kamu telah selesai mengerjakan urusan dunia, maka kerjakanlah urusan akhirat, dan ada lagi yang mengatakan  apabila telah selesai mengerjakan shalat berdoalah.  Hemat kata, setelah selesai melakukan sesuatu, maka bersiaplah untuk menghadapi tugas yang lainnya. Itulah yang saya maksud, bawha kesuksesan itu pada dsarnya adalah satu tahapan dalam proses hidup dan kehidupan. Kesuksesan bukan pemberhentian.

Fenomena yang muncul saat ini, ada indikasi manusia-manusia sekarang cenderung instan. Makan, senangnya yang instan. Untuk menjadi pintar, berharap dengan cara instan. Menjadi kaya dengan cara instan. (bahkan, perkawinan pun instan, nikahnya hari ini, besok luas, istrinya sudah hamil 6 bulan, mengapa ya..?).

Manusia serba instan.  Ada yang memanfaatkan mentalitas instan seperti ini,  menjadi peluang kejahatan. Para penipu mampu mengumpulkan dan membawa kabur uang milyaran rupiah, dari orang-orang yang ingin menggandakan uang dengan cara instan !

Tindak pidana korupsi adalah perbuatan instan untuk menjadi kaya.

Bunuh diri adalah cara instan dalam menyelesaikan masalah !

Ketahuilah, tindakan instan itu ternyata banyak kerugiannya dibandingkan kebaikannya. Hal itu mudah dipahami, karena tindakan instan merupakan tindakan yang melawah hukum alam.

Menikmati jalannya proses, akan meningkatkan kebanggaan kita dalam menikmati hasil.

Advertisements