Pakaian adalah diri kita. Pakaian adalah perasaan kita. Pakaian pun adalah budaya kita.  Karena itu, pakaian adalah kode budaya mengenai kepribadian kita.  Siapa diri kita, adalah apa yang kita pakai !

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (Qs. Al-Baqarah : 183)

Semenjak terbit fajar ramadhan, muncul hal-hal baru di tengah masyarakat.  Di media televisi, sejumlah artis, presenter, atau public figur ada yang  berubah penampilan. Mungkin perubahan penampilannya bukan hari itu. Tetapi, dihari-hari inilah, mereka tampil ke muka, atau diekspos oleh kalangan media.

Pada umumnya mereka itu adalah kaum hawa. Perubahan penampilannya itu, bersifat sederhana secara fisik, tetapi, sangat revolusioner dalam kode budaya. Secara fisik hanya berubah satu aspek, dan sifatnya sederhana secara kecil. Jilbab. Atau ada komunitas menyebutnya dengan komunitas hijaber (pencinta hijab). Komunitas ini memiliki peran dan fungsi yang sangat getol, dalam mensosialisasikan dan mengkomunikasikan busana hijab, khususnya jilbab.

Dalam pandangan sosial, berhijab adalah merupakan perubahan penampilan busana yang sederhana secara fisik. Berjilbab itu perubahan sangat sederhana,, yakni hanya mengenakan kerudung sebagai penutup kepala. Hanya itu. Tidak lebih dri itu. Tetapi, makna budaya dari perubahan busaha itu, sangat luar biasa. Setidaknya, makna normatifnya sangat luar biasa.

Bagaimana dengan kaum pria muslim Indonesia ? perubahan kecil yang bermakna revolusioner, yaitu bila pakaian itu beruban dari pakaian ‘nasional’ ke pakaian bernuansa Arab, seperti gamis.  Busana yang dikenakan kaum pria itu, memiliki makna budaya yang revolusioner, dan bukan sekedar lembaran kain saja.

Seperti halnya perubahan-perubahan busana yang dilakukan para  awak media dalam menjalankan fungsinya. Awak media, khususnya para presenter, kerap kali menampilkan busana dengan sifat tematik.  Busana-busana yang dikenakannya oleh tim atau kru, atau presenter kerap kali menyesuaikan diri dengan hari-hari sosial-politik yang berkembang di masyarakat.

Di hari kemerdekaan, pakaian-pakaian dengan warna-warna nasionalisme atau revolusi kemerdekaan Indonesia kerap ditampilkan. Setiap tahun baru China, Gong Xi Fa Cai,  warna bernuansa merah ditampilkan kalangan awak media. Sementara, setiap hari-hari besar agama Islam,sebagaimana yang terjadi pada bulan ramadhan, dan atau idul adha dan idul fitri, busana muslim berjilbab menjadi pilihan mode yang modis di  hari itu.

Sederhana dalam perubahan fisik, tetapi luar biasa dalam kode budaya. Di sebut luar biasa dalam kode budaya, karena jilbab yang dikenakan, bisa memberikan tafsir sosial yang sangat luas dan lebar. Pengenaan jilbab oleh seseorang, akan memiliki kandungan makna budaya yang berbeda, antara satu orang dengan orang lain.

Bagi pelaku seni (intertaint), mengenakan pakaian bernuansa gong xi fa cai atau bernuansa nasionalisme kemerdekaan, sekedar dimaknai sebagai sebuah perayaan, peringatan, dan ekspresi penghormataan terhadap hari-hari besar nasional. Pengenaan busana itu, dimaknai sebagai sebuah ‘in group’ dari sebuah komunitas yang merayakan kebahagiaan.

Akan berbeda jauh, bila para awak media, pelaku seni, atau selebritis yang mengenaikan busana muslim. Secara umum, masyarakat atau penonton, akan melihatnya sebagai sebuah perubahan-perubahan sosial dengan pemaknaan yang sangat beragam, kritis dan analitis.

Masyarakat memiliki kecerdasan luar biasa, untuk membedakan antara busana jilbab mode dengan jilbab kedirian. Seorang selebritis yang mengenakan jilbab di hari lebaran saja, atau sekedar menunjukkan diri sebagai bagian dari anggota yang merayakan hari agama tersebut, akan tampil sebagai pengena busana jilbab mode. Jilbab sekedar mode, dan dikenakan pada hari itu saja.

Akan berbeda kisah, bila seorang selebritis atau public figur yang berubah penampilan secara kedirian. Busananya berubah, dan mengenakan jilbab. Di sebut perubahan kedirian, karena pada saat itu, busana muslim yang dikenakan, atau jilbab yang dikenakan, merupakan perubahan kesadaran dan kedirian dalam diri seorang pelaku. Dalam hal konteks ini, perubahan penampilan, sesungguhnya meupakan sebuah kode revolusioner dalam sebuah kesadaran seorang pelaku dalam beragama.

Di bulan ramadhan inilah, kita melihat banyak perubahan-perubahan penampilan di tengah masyarakat. Setidaknya perubahan-perubahan muncul dan tampak dalam berbusana.

Memang, tidak banyak yang bisa diharapkan dari perubahan penampilan itu. Tetapi, hal yang perlu dicermati lebih lanjut, ada dugaan sosial bahwa penampilan pada dasarnya bisa menunjukkan kediriannya.

Pertanyaanya, apakah gairah beli baju lebaran itu sebuah mode, atau perubahan pemaknaan diri terhadap busana  ?

Advertisements