Obrog-obrog atau musik ramadhan, ternyata tidak hanya berkembang di tanah air saja. Di Nigeria Barat Daya, menjelang sahur, remaja muslim setempat membudayakan musik khas ramadhannya.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (Qs. Al-Baqarah : 183)

Untuk tahun 2013 ini, pagi hari menjelang sahur di kompleks Vijaya Kusumah Bandung tidak diramaikan dengan musik menjelang sahur. Di tahun ini, tradisi serupa ini sudah tidak ada lagi. Berbeda dengan malam-malam ramadhan, di tahun 2008-an, awal mula menjadi penghuni kompleks ini.

Musik Ramadhan adalah tradisi yang muncul sesaat, dan hanya satu bulan ramadhan saja. Kendati sudah tidak terdengar lagi di kompleks ini, tapi di kampung halamanku, Desa Leuweunggede Kecamatan Jatiwangi Kabupaten Majalengka – Jawa Barat, musik khas bulan suci ramadhan masih terdengar bergema.

Banyak nama untuk menyebut ini. Nama yang paling kental di kawasan Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan), sebutan untuk musik ramadhan ini, yaitu obrog-obrog. Di Nigeria Barat Daya, musik khas ramadhan ini disebut ejisaari,  istilah bahasa Yoruba – Nigeria, dalam  pengertian kita, yaitu ‘musik membangunkan sahur’.[1] Prakteknya, baik di Ciayumajakuning maupun di Nigeria Baratdaya, sama saja, yaitu berkeliling dari satu rumah ke rumah lain, sambil meneriakkan ajakan untuk bangun dan makan sahur.

Dilihat dari instrumennya, tampaknya kurang menunjukkan karakter yang khas. Amy Hackney Blackwell, misalnya, mengatakan bahwa di Nigeria Baratdaya itu, kelompok musik menabuh drum sambil bernyanyi. Tahun 1970-an, obrog-obroh di Majalengka masih menggunakan kohkol, atau kendang. Tetapi dalam tahun-tahun terakhir, instrumen musik ramadhan ini sudah berkembang dan mengadopsi alat-alat musik modern, seperti gitar, dan suling, atau organ, dan kendang.

Kegiatan ini dilakukan oleh kelompok musik informal, bukan kelompok musik yang berorientasi ekonomi atau sudah mapan. Kelompok ini dibentuk untuk sesaat, yaitu untuk selama ramadhan. Anggotanya biasanya berasal dari kalangan remaja atau warga setempat, atau yang dikelola oleh masjid setempat. Sifat keanggotaan sukarela. Masa kerja, hanya satu bulan, dan itu pun kurang lebih hanya untuk 2 – 3 jam kerja, yaitu sekitar pukul 1.30 – 3.30 WIB.

Walaupun memang ada unsur ekonomi didalamnya, tetapi tidak bersifat bussines oriented. Hal itu tampak, dengan imbalan yang didapat oleh kelompok musik itu sendiri. Mereka tidak berharap besar mendapatkan upah berupa uang. Mereka menerima imbalan, bisa berupa uang, beras atau apapun yang diberikan oleh warga kepadanya.

Di Majalengka, group musik ramadhan itu tidak hanya satu. misalnya, dalam satu RT ada satu kelompok musik. Wilayah kerja dari group musik ini, pada umumnya hanya di lokasi setempat. Bergantung ‘kesepakatan’ atau lebih tepatnya kesediaan penguasa daerah setempat. Izin dari RT, RW atau kelurahan menjadi sangat penting, untuk menjaga wilayah edar dari setiap kelompok musik ramadhan tersebut.


[1] Amy Hackney Blackwell . 2009. Ramadhan.  New York : Chelsea House Publisher. Halaman 32.

Advertisements