Dengan puasa di bulan suci ramadhan, telah mengubah, citra permukaan bumi, dari dikotomi tempat ibadah dan tempah muamalah (bisnis dan sosial), kini semuanya menjadi tempat ibadah. Dimanapun dan kapanpun, setiap titik di muka bumi dijadikan sebagai tempat ibadah.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (Qs. Al-Baqarah : 183)

Kendati  kurang tepat , ramadhan dapat diartikan sebagai upaya mengibadahkan seluruh permukaan bumi.  Seorang muslim, pada bulan ramadhan ini, mengubah makna dan persepsi setiap jengkal muka bumi, menjadi sebuah tempat ibadah.

Tanya Gulevich (2004)  membuat karya dengan judul yang sangat panjang. Tetapi, sederhananya, buku itu memiliki pokok pikiran ajakan untuk memahami Islam dan tradisi  masyarakat Islam itu sendiri.[1]  Salah satu pokok bahasan yang disajikan dalam karya itu, yaitu mengenai adanya tempat-tempat suci umat Islam.  Ada sepuluh halaman, yang menjelaskan mengenai tempat-tempat suci itu. Tempat suci yang pokok, yaitu Makkah, Madinah, dan Masjidil Aqsha di Jerusalem. Selain itu, dikemukakan pula sejumlah tempat suci lainnya, khususnya yang diyakini kesuciannya oleh kelompok muslim  tertentu, misalnya tempat suci di kawasan Iran, bagi masyarakat Syi’ah.

Bila disederhanakan lagi, pada dasarnya, Rasulullah Muhammad Saw membagi tempat itu ke dalam dua wilayah, yakni Masjid sebagai tempat ibadah, dan pasar sebagai tempat berbisnis.  Kedua tempat ini memiliki karakter dan orientasi yang berbeda. Masjid untuk kepentingan ibadah, sedangkan pasar untuk kepentingan duniawi, seperti bisnis, politik atau budaya.

Dari Abi Hurairah, Rasulullah Saw bersabda, ”Tempat paling dicintai Allah di negeri-negeri adalah masjid-masjid dan tempat yang paling dibenci oleh Allah di negeri-negeri adalah pasar-pasarnya” (HR. Muslim).

”Seorang lelaki bertanya kepada Nabi Saw, “Tempat apakah yang paling buruk?” Beliau menjawab, “Aku tidak tahu hingga aku bertanya kepada Jibril.” Maka beliau bertanya kepada Jibril, dia (Jibril) pun berkata, “Aku tidak tahu sampai aku bertanya kepada Miikaa’iil.” Maka (Miikaa’iil) dia pun datang lalu berkata, “Sebaik-baik tempat adalah masjid-masjid dan seburuk-buruk tempat adalah pasar-pasar” (HR. Ibnu Hibban).

“Seburuk-buruk majelis (tempat berkumpul) adalah pasar-pasar dan jalan-jalan sempit dan sebaik-baik majelis adalah masjid-masjid. Maka bila engkau tidak duduk-duduk di masjid, maka hendaklah engkau diam di rumahmu” (HR. Ath-Thabrani).

Robert H. Dalton (2010), menjelaskan mengenai adanya tempat-tempat suci (sacred place) di muka bumi. Dalam karyanya, dia berusaha untuk menjelaskan tempat-tempat suci di muka bumi dari berbagai agama. Mungkin inilah, buku yang bisa dirujuk sebagai kajian mengenai geografi tempat suci.

Sudah tentu,bila ada tempat suci (sacred place), berarti ada pula tempat yang tidak suci atau profane place. Karakter tempat yang kedua ini, diartikan sebagai tempat untuk kegiatan-kegiatan yang dianggap tidak ada kaitannya dengan peribadahan. Tempat profan, adalah tempat yang didominiasi oleh kepentingan duniawi, hal yang menyangkut urusan-urusan kehidupan manusia dunia, seperti yang terjadi pada dunia pasar, atau bisnis, atau ekonomi.

Islam padasarnya,  tidak memisahkan kedua tempat itu, namun kedua tempat mengandung makna budaya yang kritis. Bahkan, kedua simbol itu, sampai sekarang tarikan antara kedua kutub itu malah semakin kuat. Hal itu tampak dalam firman Tuhan, yang mengatakan bahwa selepas ibadah (shalat Jum’at), setiap muslim diwajibkan untuk segera bertebaran kembali dalam mengelola masalah-masalah keduniaan (QS. Al Jumu’ah: 9-10).

Sekali lagi, perlu ditegaskan padasarnya Islam tidak memisahkan kedua tempat itu, namun kedua tempat mengandung makna budaya yang kritis. Bahkan, kedua simbol itu, sampai sekarang tarikan antara kedua kutub itu malah semakin kuat. Kedua wilayah itu merupakan simbol tradisi atrau simbol nilai yang potensial konflik.[2]

Di zaman modern ini, tarikan spiritualitasme dengan materialisme, tarikan antara kapitalisme dengan humanis, tarikan antara sekularisasi dan spiritualisasi, terus terjadi.

Dengan kata lain, tradisi manusia modern, masih tetap berada pada tarikan dua kutub  seperti ini.  Satu sisi, manusia modern tertarik oleh kepentingan akhirat (disimbolkan oleh masjid), dan pada sisi lain tertarik oleh masalah duniawi atau kekayaan  (disimbolkan oleh pasar).

Hal uniknya, di bulan suci ramadhan, seorang muslim dikondisikan untuk beribadha di setiap tempat dan setiap aktivitas.  Menurut para penafsir agama, setiap amalan dinilai sunnah, dan setiap amalan sunnah dinilai wajib. Dengan kata lain, anjuran ini memberikan konsekuensi, dimanapun muslim beradan, dituntut tetap untuk bisa menjadikan tempat itu sebagai tempat ibadah. Tempat yang semula tidak suci, di bulan ramadhan ini, menjadi tempat suci atau bernilai ibadah.

Kerja di kantor, jadikan kantor sebagai nilai ibadah.  Seorang pelajar menjadikan sekolah sebagai tempat ibadah. Seorang nelayan, menjadikan lautan sebagai tempat ibadah. Seorang petani, menjadikan ladang dan kebun sebagai tempat ibadah. Seorang pemetik teh,  menjadikan kebun sebagai tempat ibadah. Seorang pemandu wisata menjadikan lokasi wisata sebagai tempat ibadah. Seluruh aktivitas muslim dikondisikan sebagai aktivitas ibadah, dan karena itu pula, seluruh tempat  dimuka bumi ini, menjadi tempat ibadah. Secara sederhananya, setiap tempat di muka bumi ini menjadi tempat ibadah atau tempat suci.

Bagi seorang geograf, mungkin itulah yang disebut reorientasi geografi ibadah. Ramadhan merupakan energi yang besar dan kuat, untuk mengubah citra tempat di  muka bumi, dari tempat profan menjadi tempat suci, dari tempat duniawi menjadi tempat ukhrawi, dari ruang-sekular menjadi ruang sakral.


[1] Tanya Gulevich. 2004.  Understanding Islam And Muslim Traditions : An Introduction To The  Religious Practices, Celebrations, Festivals, Observances, Beliefs, Folklore, Customs, And Calendar System Of The World’s Muslim Communities,  Including An Overview Of Islamic History And Geography.  Pengantar oleh Frederick S. Colby. Michigan : Omnigraphics, Inc.

[2] Koentowidjoyo. 2001. Muslim Tanpa Masjid: Esai-esai Agama, Budaya dan Politik dalam Bingkai Strukturalisme Transendetal. Bandung: Mizan

Advertisements