Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (Qs. Al-Baqarah : 183)

Saat makan Kurma, ingatlah Kurma itu bisa juga diartikan kurangi maksiat, Atau saat kita mengkonsumsi nasi, itu artinya nahan emosi. Bila kita mengkonsumsi, talas itu artinya tarawih jangan malas.

Jika di sore hari kita keluar rumah, kemudian mencoba jalan-jalan di sekitar jalan raya atau di pusat-pusat keramaian, akan kita temukan ragam kuliner ramadhan. Menjelang buka puasa (iftar), atau mulai bada ashar hingga larut malam,  sejumlah pedagang menjajakan kulinernya bagi masyarakat yang bermaksud untuk mencari makanan untuk buka puasa.

Di Kota Bandung, misalnya, kita akan dengan mudah  menemukan canil, kolak dengan ragam kolaknya, gorengan, es campur, shop es, dan lain sebagainya. Sementara, untuk wisata kuliner Ramadhan di Surabaya, dapat ditemukan ragam makanan daerahnya, seperti baso gentong, kentang goreng, tahu crispy dan sebagainya. Sebagaimana dilaporkan Dimas, yang unik, di Jakarta ini bisa muncul sejumlah jajanan yang jarang ditemui pun biasanya muncul di Bulan Ramadhan. Sebut saja kolak dengan berbagai varian, bubur sura yang berisi berbagai jenis kacang, dan berbagai jenis makanan dari berbagai daerah pun banyak dijual sebagai makanan berbuka puasa seperti gabus pucung, es kacang merah, dan es pisang ijo.[1]

Semua itu, adalah kreasi masyarakat dalam menyambut buka puasa atau membantu mengisi ramadhan dengan menu kuliner yang beragam.  Tetapi, perlu dicatat di sini, semua itu adalah kreasi-kreasi yang tidak selamanya, asal kreasi, tapi ada juga kreasi yang ada referensi teologisnya.

Khusus kolak, misalnya, adalah menu ‘setengah wajib’ bagi masyarakat Indonesia yang tengah berpuasa. Dalam pandangan masyarakat, kolak manis adalah makanan pembuka buka puasa, sebagai pengganti kurma, yang dianggap sebagai makanan sunnah untuk orang yang buka puasa.

Dari Salman ibn ‘Aamir, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian akan berbuka puasa, maka berbukalah dengan kurma sebab kurma itu berkah, kalau tidak ada, maka dengan air karena air itu bersih dan suci.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).Dalam prakteknya, makanan manis untuk buka puasa, atau penafsiran kontekstual dari sunnahnya makan kurma sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah Muhammad Saw, diterjemahkan dalam banyak ragam.

Amy Hackney Blackwell (2009:26) mengatakan bahwa salah satu kuliner Ramadhan yang muncul di Aljazair yaitu Zalabiya.[2] Zalabiya menurut Amy yaitu a honeyed doughnut. Bentuk dan nama makanan ini, mirip dengan yang berkembang di Indonesia. Di Jawa Barat,  ada jenis makanan yang mirip donat, dengan rasa manis, dan disebutnya jalabria. 

Kulak, manisan atau jalabira, adalah makanan yang memiliki ‘makna teologis’ yang muncul di bulan suci ramadhan, dan bisa jadi emosi dalam membuat,  menjual, dan mengkonsumsi makanan tersebut,  sedikit banyak terimbuhi oleh motivasi ibadah. Dengan kata lain, hal itu akan terasa beda, kalau seseorang memebuat menu makanan, dan atau mengkonsumsi makanan yang kurang ada ‘akar referensi teologisnya’. Misalnya, rujak atau kurupuk atau surabi !

Di lain pihak, bagi mereka yang suka aktif dalam dunia facebooker atau twiff, mungkin pernah mendengar kreatifitas anak muda atau penceramah mengenai materi ramadhan. Salah satu diantaranya, ada yang membuat  peta konsep materi ramadhan dengan membuat jargon dari kuliner yang beredar di masyarakat. Untuk sekedar contoh, Nasi – nahan emosi, apel – al-quran pelajari, talas – tarawih jangan malas, tomat – tobatlah dari maksiat,  Kurma – kurangi maksiat, Pisang – pantang iri, sombong dan akuh. Jeruk – jangan berbuat buruk. Itu adalah beberapa contoh menceramahkan makna ramadhan dengan memanfaatkan idiom-idiom kuliner.

 


[2] Amy Hackney Blackwell . 2009. Ramadhan.  New York : Chelsea House Publisher.

Advertisements