Jeda atau puasa adalah sebuah momentum untuk refleksi. Merenungkan. Memikirkan. Mengkaji ulang. Ramadhan adalah momentum untuk melakukan evaluasi terhadap apa yang terjadi dalam kegiatan rutin harian selama ini, dalam satu tahun terakhir.

Keseharian kita, kadanga disibukkan oleh kegiatan rutin. terlampau banyak alasan untuk ditinggalkan, karena kesibukkan yang kita alami dan jalani selama ini. Urusan anak, terlupakan karena kesibukan. Perhatian terhadap keluarga pun demikian.  Termasuk di dalamnya, urusan mendekatkan diri kepada Tuhan pun, kadang terlupakan karena alasan kesibukkan.  Kesibukkan diri, kerap menjadi alasan, dan karena kesibukan itu pula menjadi penyebab kelelahan.

Betapa bahagianya seseorang, menjelang datangnya  hari libur. Betapa bahagianya seseorang, bila tiba hari untuk berhiburan. Betapa bahagianya seseorang, bila  dari seluruh kegiatan yang dijalaninya selama ini, kemudian hadir satu atau beberapa hari untuk istirahat.

Manusia ini bukan mesin kaku. Manusia bukan mesin ekonomi. Manusia bukan  benda mati. Dalam kesehariannya,  tidak bisa dipaksakan untuk bergerak, beraktivitas dan menjalani kegiatan rutin tiada henti. Kebutuhan istirahat (leisure) itu, adalah menjadi kebutuhan dasar bagi manusia.

Apa yang dilakukannya, saat bertemu  dengan hari libur atau istirahat tersebut ?

Tidak bisa disamaratakan. Setiap orang memiliki kegiatan dan aktivitasnya sendiri. setiap orang memiliki cara sendiri untuk mengisi hari libur. Bertamasya, berpiknik, membaca koran, atau sekedar istirahat dan memanjakan diri. Semua itu hanyalah pilihan  manusia dalam mengisi liburan.

Hal yang perlu dikemukakan di sini, hakikat akvitas manusia itu adalah membutuhkan istirahat, atau dalam istilah lain, membutuhkan masa jeda. Istirahat dari rutinitas, atau jeda dari segala kegiatan. Ibarat mesin  kendaraan. Sehebat apapun kendaraan kita, semulus apapun mesinnya, dan secanggih apapun teknologi, kendaraan itu tetap membutuhkan masa istirahatnya. Mesin itru membutuhkan masa jedanya.

Tidak jauh beda dengan tubuh kita. Manusia memiliki tubuh. Setiap harinya, kita mengkonsumsi banyak makanan. Setiap hari beraktivitas. Setiap minggu beraktivitas. Tiada pernah berhentinya, selama satu tahun penuh beraktivitas.  Tubuh manusia pun ibarat mesin. Untuk menjaga kebugaran, membutuhkan masa istirahat. Untuk menjaga kesehatannya, membutuhkan masa jeda.

Jeda bagi tubuh manusia, jeda bagi kehidupan manusia, khususnya seorang muslim, amalan itulah yang disebutnya puasa di bulan suci ramadhan. Satu bulan penuh, seorang muslim berusaha untuk memainkan mekanisme hidup, baik untuk kepentingan biologis, maupun spiritual, memanfaatkan ramadhan untuk jeda dari kegiatan-kegiatan rutin duniawi.

Jeda atau puasa adalah sebuah momentum untuk refleksi. Merenungkan. Memikirkan. Mengkaji ulang. Ramadhan adalah momentum untuk melakukan evaluasi terhadap apa yang terjadi dalam kegiatan rutin harian selama ini, dalam satu tahun terakhir.

Kesibukan duniawi selama ini, kerap kali menyibukkan kita untuk sulit melakukan evaluasi diri, muhasabah, atau tafakkur. Ramadhan itulah waktunya. Di bulan suci ramadhan inilah, kesempatannya. Karena itu, alangkah tepatnya, bila ada pepatah, mengatakan, barangsiapa berbahagia menyambut datangnya ramadhan, maka terselamatkan ia dari bencana dunia dan bencana akhirat. Hal itu, sudah tentu dengan catatan, bahagia menyambut ramadhan, dan mengisinya secara efektif untuk melakukan refleksi terhadap perjalanan hidup !

Karena itu, berhentilah sejenak dan renungkan, perjalanan panjang setahun terakhir tadi. Apa yang sudah dilakukan, dan apa kemajuan spiritual kita selama ini ? di masa jeda di bulan Ramadhan inilah, kita melakukan reorientasi tujuan hidup, dan membugarkan kembali  spiritualitas kita !

Istirahat itu untuk membugarkan fisik kita. Karena kelelahan menyebabkan jiwa dan kehasulan spiritual kita menjadi lemah. Istirahatlah menjadi kuncinya.

kejenuhan spiritual kita karena kegiatan hidup ini  membuat kita mengalami kelelahan mental dan spiritual. Maka puasa di bulan ramadhan itulah kesempatan untuk menservicenya, mengupgradenya, membugarkannya kembali.

Advertisements