Bukti cinta itu adalah hadirnya perjuangan dan pengorbanan untuk mengoptimalkan pasangan hidup kita. Bukti cinta itu diwujudkan dengan kesungguhan kita untuk memaksimalkan kualitas dan kemampuan pasangan hidup kita. Cinta itu adalah berkorban untuk mewujudkan impian bersama, dan bukan menikmati hasil pekerjaan orang lain, apalagi memenjarakan potensi dan kemampuan pasangan hidup kita.

Tidak ada yang melarang untuk bermimpi. Tidak ada orang yang bisa dihalangi untuk menetapkan sebuah impian.  Tetapi sikap yang paling bijak dalam kaitannya dengan kelangsungan hidup kita, adalah sikap yang realistis. Realistis adalah sikap yang menunjukkan adanya pengakuan terhadap apa yang terjadi, dengan tetap mengacu pada impian itu sendiri.

Dalam sikap realistis, impian tetap sebuah impian, dan tidak pernah bermaksud  untuk menghapus sebuah impian.  Pada sisi lain, seorang yang realis tidak menunjukkan pengingkaran terhadap kenyataan. Kenyatan harus tetap diterima apa adanya, dan bila ada peluang untuk memperbaiki, maka realitas yang ada di sekitar dirinya itulah yang perlu diperbaiki.

Pada kesempatan lain,  kita sudah ulas bahwa, tanggungjawab moral kita terhadap pasangan hidup ini, adalah memberdayakan pasangan hidup secara optimal. Artinya, terima apa adanya, apa yang terjadi hari ini. Andaipun kita berharap, tampilan dan kualitas pasangan hidup kita lebih baik, maka berdayakan potensi pasangan hidup kita, sehingga mencapai apa yang ada dalam impian kita.

Tidak perlu dipaksakan, dan memaksakan diri. Jangan paksakan sesuatu yang tidak mungkin diperbaiki. Hal yang perlu dilakukan itu adalah berdayakan potensi fisik dan nonfisik pasangan hidup kita, sehingga mencapai prestasi optimal dalam hidupnya.

Jika saat ini, kita memiliki pasangan hidp yang berkulit gelap, jadikan pasangan hidup kita ini, berkulit gelap yang manis. Rawat dan rawat sebaik mungkin, sehingga memiliki tampilan fisik yang menarik. Perhatikan sejenak, kita dapat melihat sejumlah selebritis, yang memiliki kulit gelap, tetap menarik, menawan dan cantik dalam tampilannya. Kata orang, itulah tipe orang yang hitam manis.

Pasangan hidup kita yang belum cerdas, maka sekolahkanlah dia. Pasangan hidup kita belum bekerja, maka bantulah untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Pasangan hidup kita yang belum sehat, maka bugarkanlah dia. Inti kata, cinta itu adalah memberdayakan potensi pasangan hidup, sehingga mampu mencapai kriteria yang diimpikan sebelumnya.

Bisa jadi, bukti cinta itu adalah hadirnya perjuangan dan pengorbanan untuk mengoptimalkan pasangan hidup kita. Bukti cinta itu diwujudkan dengan kesungguhan kita untuk memaksimalkan kualitas dan kemampuan pasangan hidup kita. Cinta itu adalah berkorban untuk mewujudkan impian bersama, dan bukan menikmati hasil pekerjaan orang lain, apalagi memenjarakan potensi dan kemampuan pasangan hidup kita.

Selama ini, banyak orang yang terjebak sebagai ‘penikmat’ hasil pekerjaan orang lain. Karena ingin bahagia, dia berusaha mendapatkan istri yang cantik, yaitu kecantikan perempuan hasil  karya orangtuanya, dan ikhtiar dari perempuan itu sendiri. sementara sebagai sang suami, hanya sekedar menikmatinya semata. Seharusnya, sebagai bentuk cinta kepada istri, rawatlah istri kita, dan percantiklah istri kita, dan dengan kecantikannya yang dimilikinya itu, kita bisa bahagia hidup bersamanya. Itulah peran nyata Cinta suami kepada sang istri.

Berharap ada kebahagiaan, seorang istri berhadap mendapatkan suami yang sudah pekerjaan. Rizki dari pekerjaan suami itu adalah hasil usaha keras laki-laki (yang kini suaminya itu) dan perjuangan keluarga suaminya. Sementara sang perempuan tersebut, hanya menikmati hasil jerih payah laki-laki tersebut.

Pola pikir kita saat ini, mestinya pada tindakan realistis pemberdayaan.  Baik dalam posisi sebagai istri maupun suami, kita berkewajiban untuk berkorban mendukung upaya pemberdayaan potensi pasangan hidup kita, sehingga mampu mencapai kualitas optimal. Selepas itu, barulah kita menikmati hasil dari perjuangan dan  pengorbanan tersebut.

Dari perjalanan itulah, maka kita dapat bahagia dengan menikmati kecantikan Istri kita, hasil dari perjuangan dan pengorbanan perawatan dan kebugaran bersama. Dari perjalanan itu, kita dapat menikmati indahnya berkeluarga dengan harta hasil kerjasama. Melalui pengorbanan kita, selanjutnya dapat menikmati berkahnya keluarga dari hasil perjalanan hidup bersama.

Advertisements