Apakah ini adalah sebuah perubahan, atau keunikan. Entahlah. Tetapi, ini adalah kejadian yang dialami. Hari gini, pengamen pun bisa tawar harga…

Sambil membereskan kardus air mineral untuk minum atlet Kontingen Kota Bandung, Ustadz Herman berdiri tegak di samping motornya. Sementara saya sendiri, berdiri di belakang beliau, sambil menghadap ke arah depan jok motor di bagian belakang. Sementra beliau, memegang kardus yang sudah diisisipkan di bagian depan motor buatan Negeri Jepang tersebut.

“Pak, sumbangannya, atuh pak…” kata seorang pengamen. Taksiran, usianya sekitar 30-40an. Wanita pengamena berpakaian lusuh itu menegadah tangah di Ustad Herman. Karena memang posisi beliaulah, yang paling dekat dengannya. Atau mungkin juga, karena beliau tampil dengan penampilan sebagai seorang ustadz, jadi layak untuk diminta sumbangan. Mungkin. Mungkin begitu.

Melihat kondisi sang pengamen wanita di kawasan Jalan Cimanuk Kabupaten Garut Jawa Barat, Ustadz Suherman langsung saja memberikan uang berwarna abu, Rp. 2.000.

“gak mau ah, ingin yang hijau…” ujarnya (aslinya diungkapkan dalam bahasa Sunda).

Kami kaget mendengar ucapan itu, dan melihat kejadian seperti itu. Di sini dan saat ini, seorang pengamen bisa mengajukan tawaran kepada seorang penyumbang.  Karena ada permintaan itu, kami pun memberikan uang warna hijau lagi. Uang bergambar Patimura, adalah uang kertas Republik Indonesia yang berwarna hijau.

“Bukan yang itu….” ulahnya, sambil menepis. Dia menolak uang warna hijau yang bernominal seribu rupiah tersebut.

“Ya, udah kalau gak mau mah…”

“yang hijau, bukan yang itu tahu…” ujarnya agak membentak. Bentakan yang menurut kami tidak pada tempatnya. Merasa dibentak seperti itu, Ustadz Suherman pun, menarik niatnya untuk memberikan sumbangan tersebut.

“ya..gak usah..”sambil menarik uang tersebut, sambil melangkahkah kaki untuk memulai keberangkatan ke Pesantren Musadadiyah Garut untuk membagikan mibuman kepada atleit dari Kota Bandung. Tetapi, seketika itu pula, uang warna hijau pun disambar sang pengamen, sambil menggerutu dan melaku meninggalkan kami.

“Astagfirullah..” gumamku dalam hati, ‘apakah ini akibat dari kenaikan BBM kali ini ?”

Advertisements