Seiring perkembangan zaman, terjadi perubahan dan perkembangan ruang baca masyarakat terhadap peluang hidup. Karena pengaruh dari teknologi informasi, dan perubahan pemahaman mengenai ruang hidup dan peluang hidup, tampak ada pergeseran geografi peluang pada persepsi masyarakat Indonesia saat ini.

Dalam bulan Juni – Agustus seperti kali ini, banyak orang disibukkan dengan pekerjaan rutin tahunan. Anak sekolah berusaha menemukan sekolah impiannya. Lulusan SMA memimpikan perguruan tinggi harapannya. Para lulusan sekolah atau sarjana yang baru saja di wisuda, mencari lapangan dan lowongan kerja. Tak jarang pula, orangtua pun, turut tersibukkan dengan kebutunan putra-putrinya bersekolah.

“Ah, anak saya mah sekolahnya, ke tempat yang dekat saja…” ujar salah satu orangtua.

“Zaman kita sekarang ini, bukan sekedar sekolah, tetapi juga harus memperhatikan biaya pendidikan…” imbuh yang lainnya.

“demi kepentingan anak, biaya  itu sifatnya relatif, hal penting adalah kualitasnya, dan kita merasa puas dengan karakter anak yang terbangun…”

Itulah beberapa ungkapan dan cetusan yang muncul dan berkembang di tengah masyarakat. Ragam ungkapan dan ekspresi, tampak pula di kalangan siswa yang mencari perguruan tinggi. Ragam komentar pun, muncul pula dikalangan para sarjana yang tengah mencari lapangan kerja.

Ada satu fenomena menarik, yang sedang berkembang di tengah masyarakat ini. Entah hal itu, merupakan trend umum, atau trend musiman. Fenomena yang kita maksudkan itu adalah dinamika persepsi publik mengenai peluang.  Bila dilihat dari aspek geografi,  fenomena yang terjadi saat ini, sedang terjadi pergeseran —meminjam istilah yang digunakan William F. Tate IV (2008), yaitu geografi peluang (geography of opportunity).[1]

Dalam dunia pendidikan, orangtua siswa dan anak, sudah mulai menggeser persepsi dan perhatiannya dari Sekolah negeri ke Sekolah Swasta.  Lima tahun terakhir, sekolah swasta sudah mampu menunjukkan diri sebagai alternatif lembaga pendidikan pilihan orangtua. Sebelumnya, orangtua pada umumnya, sangat berharap putra-putrinya, bisa mengenyam pendidikan di sekolah negeri, dengan alasan murah dan berkualitas. Tetapi, untuk saat ini, sekolah swasta sudah banyak yang mampu  menunjukkan kualitas bersaing dengan seklah negeri.  Alasan seperti itulah, pilihan orangtua menjadi berubah, dan memosisikan sekolah swasta, bukan sebagai sekolah kedua atau ketiga, tetapi bisa diposisikan sebagai sekolah pilihan alternatif dalam memberikan peluang pendidikan kepada putra-putrinya.

Dengan dimunculkannya konsep ekonomi kreatif, dan juga perkembangan zaman, orientasi lapangan kerja pun, bergeser. Masyarakat sekarang ini, sudah tidak lagi terobsesi menjadi pegawai negeri atau menjadi buruh di pabrik milik orang lain, tetapi kemudian mengambil jalan memanfaatkan peluang wirausaha (entrepreneurship).

Menjadi pegawai negeri (PNS) bukan pilihan utama (atau mungkin malah menjadi pilihan terakhir?). Orientasi pengembangan diri dengan mengembangkan sektor ekonomi kreatif, menjadi alterantif pengembangan karir dan kemampuan. Itulah perubahan orientasi geografi peluang yang tengah berkembang di zaman sekarang ini.

Mobilitas masyarakat Indonesia saat ini, jauh lebih luas dan terbuka. Orang sudah tidak laku terbatasi oleh ruang gerak geografik. Mereka tidak saja, terbatasi oleh ruang-hidup di tempat tinggalnya, tetapi peluang usaha dan peluang hidup di luar tempat tinggalnya, pun dijadikan salah satu pilihannya.

Tinggal boleh saja di kampung, tetapi ruang gerak usahanya bisa merambah ke lokasi seluas bumi. Tinggal di pelosok desa, melalui internet, mereka mampu menjangkau belahan bumi yang luas. Itulah, yang kiranya dapat disebut sebagai perubahan persepsi mengenai peluang hidup.

Berdasarkan amatan sepintas lalu ini, kita dapat mencatat bahwa (a) ada pergeseran persepsi manusia mengenai nilai ruang, (b) ada pergeseran persepsi masyarakat mengenai makna tempat tinggal, (c) ada pergeseran persepsi masyarakat mengenai batas ruang hidup.

Implikasi dari itu, di zaman kita sekarang ini, makna kota tidak selamanya diartikan sebagai “pusat kesuksesan”. Makna tempat tinggal, bukan sebagai “tempat tinggal”. Makna luar negeri, tidak lagi disebut sebagai “tempat orang lain”.

Banyak orang yang menemukan peluang kesuksesan di desa. Banyak orang yang tidak lagi terbatas pada kampung halaman. Daerah lain pun, sekalipun di luar negeri, adalah juga tempat tinggal sendiri. Di masa lalu, ada ucapan, ‘sejah-jauh terbang bangau, akan kembali ke sarang juga”, sejauh-jauh orang merantau, berharap mati dan dikubur di kampung  halaman tempat dilahirkan. persepsi seperti ini, sudah mulai luntur.

Pada sekelompok orang, masih ada yang mengartikan tempat lahir itulah tempat pribadi.  Sementara tempat tinggal bukan tempat pribadi. Di zaman sekarang ini,  sudah mulai muncul persepsi dimanapun kita tinggal itulah tempat pribadi. setiap orang berusaha untuk mengartikan, dan memaknai tempat tinggal sebagai bagian penting dari hidupnya. Sense of place-nya, bukan saja ke tempat kelahiran, tetapi juga ke tempat tinggalnya yang


[1] William F. Tate IV . 2008.  “Geography of Opportunity”: Poverty, Place, and Educational Outcomes. Sumber Educational Researcher, Vol. 37, No. 7, pp. 397–411, http://er.aera.net, diunduh 3 Oktober  2009.

Advertisements