Perspektif keilmuan terus berkembang. Satu dengan yang lainnya, saling bersentuhan. Saling pinjam. Tak jarang pula didalamnya ada saling kritik. Kalangan posmodernism menyebutnya sebagai sebuah proses trans-disipliner keilmuan. Artinya karakter dengan perangkat keilmuannya, antara satu dengan yang lainnya saling pinjam.

Bila demikian adanya, maka batas keilmuan menjadi kabur. Ziauddin Sardar (2003:313/2003:261), menyebut era posmodern ini, era disiplin ilmu tanpa disiplin (undisciplined disciplines).[1] Setiap ilmu mewujud dan membentuk diri dengan karakternya yang baru, dan leluasa atau bebas meminjam konsep, prinsip, dan ‘paradigma’ keilmuan dari disiplin ilmu yang lainnya.

Bicara masalah ini, teringat pada Kristen Renwick Monroe (2001), yang mencoba menjelaskan peta perkembangan ilmu di zaman kiwari.[2] Menurut pandangannya itu, disaat kita tidak mendapatkan kepuasan terhadap teori-teori yang ada hari ini, kemudian orang akan beralih pada teori psikologi keilmuan, yaitu teori pilihan rasional (rational choice theory). Tetapi pandangan ini pun, menjadi tidak penting lagi. Karena pada kenyataannya, orang akan menemukan dan menentukan sendiri pandangannya mengenai kasus tertentu. Di sinilah, maka teori pilihan rasional digantikan oleh teori perspektif.

Teringat pada pernyataan Dr. Ahmad Yani dari UPI. Dalam satu kesempatan, beliau menuturkan bahwa di kalangan geografi di tingkat akademik, sudah terbiasa membicarakan masalah ini. Sekarang, mereka sudah “tidak lagi” membicarakan geografi sebagai sebuah disiplin ilmu. Mereka sudah mulai mewacanakan, geografi sebagai sebuah perspektif.

Waktu itu saya belum memberikan respon serius terhadap masalah ini. Bersitan pemikiran saat itu, menganggapnya sebagai sebuah kegelisahan intelektual, dan keragaman pemikiran dalam ‘filsafat ilmu’. Sehingga, cetusan konsep atau perspektif keilmuan, adalah sesuatu hal yang biasa.

Kegelisahan dalam diri ini, muncul kembali, setelah beberapa waktu ini menemukan tulisan dari Kristen Renwick Monroe (2001) yang mengulas adanya perkembangan terakhir dari teori ilmu politik. Dengan kata lain, apakah pemikiran yang berkembang  di tingkat akademisi geografi itu pun, menunjukkan bahwa geografi sedang meminjam teori perspektif sebagai bagian dari teori geografi ? atau ada kecenderungan lain ?

Bagi mereka yang terbiasa dengan teori, akan bertemu dengan kenyataan bahwa teori fisis determinisme sudah tidak memuaskan. Teori posibilisme pun demikian adanya. Kemudian, teori probabilisme atau ekologi budaya, kurang begitu jelas memberikan arah kerangka pikirnya. Akibatnya, hal yang paling mungkin, adalah menerapkan teori pilihan rasional. Tetapi, bila kita tidak puas dengan hal itu pula, maka hal yang mungkin adalah meminjam pandangan dari Kristen Renwick Monroe, yaitu memosisikan geografi  sebagai sebuah perspektif.  Bagaimana ?

Dalam Teori Perspektif, menurut Kristen Renwick Monroe (2001:159) disadari bahwa setiap individu memiliki kompleksitas pertimbangan atau alasan dalam menentukan sikap. Hal itu pun berdampak pada perilaku keruangan. Pada setiap orang terdapat kompleksitas identitas, karakter, faktor atau pengaruh, yang bisa dibedakan dengan orang lain dalam merespon lingkungannya. Karena itu pula, maka perilaku keruangannya bisa beragam. Pada konteks itulah,  pandangan geografi dan atau teori geografi tidak bisa diberlakukan secara kaku dalam menganalisis masalah itu.

Bila asumsi ini bisa dibenarkan, geografi pada akhirnya memang akan menjelma sebagai sebuah perspektif, dan tidak lagi (sekedar) sebagai sebuah disiplin ilmu khusus. Bagaimana ?


[1] Ziauddin Sardar. 2003. Kembali ke Masa Depan. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta. Penerjemah R. Cecep Lukman Yasin, dkk. Versi Bahasa Inggrisnya, Sohail Inayatullah and Gail Boxwel (ed.). 2003.   Islam, postmodernism and other futures : a Ziauddin Sardar reader. London : Pluto Press.

[2] Kristen Renwick Monroe, “Paradigm Shift: From Rational Choice to Perspective. Sumber dari International Political Science Review / Revue internationale de science politique , Vol. 22, No. 2, (Apr., 2001), pp. 151-172.

Advertisements