Rasulullah mengalami masa amul huzni. Tahun kesedihan. Tahun duka. Dengan sabar dan keikhlasan yang dimilikinya, dari tahun duka itu, kemudian berujung pada hadirnya undangan Isra’ Miraj ke hadapan Ilahi Rabbi. Peristiwa ini seolah membuat sebuah skenario hidup, yaitu pengalihan dari ketergantungan pada istri dan paman, beralih pada Allah Swt.

Sejarah mencatat, bahwa seperti Siti Khadijah r.a., dan Abu Thalib adalah bagian dari kaum bangsawan Quraisy. Mereka adalah orang terhormat di suku bangsanya. Kemudian, di masa-masa awal kebangkitan Islam ini, Dakwah Rasulullah Muhammad Saw kerap mendapat dukungan dan perlindungan dari kedua Bangsawan Quraisy tersebut.

Andai saja, sejarah mencatat perjuangan Rasulullah itu senantisa mendapat dukungan dari Siti Khadijah r.a., dan Abu Thalib di sepanjang perjalanan Rasul, mungkin orang akan memandang bukan pribadi Rasul-nya, tetapi karena pelindungnya.

“pantas saja, kuat, orang disekitarnya itu kan orang-orang kuat ?”

Nalar nepotisme adalah nalar klasik dalam hidup manusia. bahkan, nalar nepotis dan aji mumpung ini, tampak masih tumbuhkembang di zaman sekarang ini. Atau mungkin, malah kian subur dibuatnya. “ya, iyalah, bapaknya kan di partai, jadi dia pun nyaleg juga…?”

Dengan wafatnya kedua pilar bangsawan Quraisy disamping Rasulullah Muhammad Saw, beliau ini merasa sedih. Mereka itulah orang yang paling gigih membela dan melindunginya. Bahkan, selepas itu pula, serangkan baik emosi, teror maupun fisik termasuk ancaman pembunuhan semakin meningkat dilakukan Kafir Quraisy kepada Rasulullah Muhamamd Saw, hingga kemudian Rasulullah Isra Mi’raj dan Hijrah pada tahun berikutnya.

Berdasarkan pertimbangan itulah, penggalan sejarah ini memberikan pelajaran penting bagi kita saat ini.

Sedih itu biasa, penyelasan itu yang harus dihindari

Peristiwa Isra Mi’raj menggambarkan penyadaran, dari ketergantungan diri pada manusia, kepada ketergantungan diri kepada Allah Swt

wafatnya dua pilar kehidupan Rasulullah Saw saat itu, merupakan awal dari kemandiran dan penyempurnaan keaslian (otentisitas) pribadi Rasul dalam berdakwah

dengan wafatnya seseorang di antara kita, Tuhan tengah memberikan kesempatan kepada kita untuk mengambil posisi strategis dalam hidup ini

dengan wafatnya seseorang di sekitar kita, Tuhan tengah memberikan peluang bagi kita untuk menunjukkan otentisifas diri dalam menjalani hidup ini.

Karena itu, sedih itu biasa, tetapi jangan disesali, jadikan kesedihan ini sebagai energi untuk bangkit dan mengisi ruang hidup yang masih terbuka

Advertisements