Setiap mengawali pembahasan sebuah kajian, terlebih lagi kajian-kajian yang sifatnya hybrid, perlu ditemukan, dikuatkan, diyakinkan, atau dikemukakan terlebih dahulu mengenai asumsi keilmuannya. Sosiologi Komunikasi adalah salah satu disiplin ilmu yang hibrid. Satu sisi menggunakan perspektif sosiologi, dan sisi lain, bersentuhan dengan komunikasi sebagai sebuah ilmu. Komunikasi sebagai sebuah ilmu, sudah memiliki batang tubuh keilmuannya (body of knowledge), begitu pula dengan sosiologi. Tetapi, ketika dua disiplin ilmu ini hadir bersamaan, dengan nama Sosiologi Komunikasi, muncul pertanyaan, mungkinkah itu ? adakah relasi antara kedua disiplin ilmu tersebut ?

Sebagaimana dikemukakan di bagian awal, bahwa sosiologi komunikasi ini, atau dalam konteks wacana ini, adalah pemanfaatan perspektif sosiologi dalam mengkaji fenomena komunikasi. Sekali lagi, kajian ini bukanlah kajian ilmu komunikasi, tetapi lebih menitik beratkan pada kajian sosiologi mengenai komunikasi. Perspektif yang digunakannya pun, adalah perspektif-perspektif keilmuan sosiologi itu sendiri.

Mendukung upaya itu, pertanyaan mendasar yang memang perlu dijelaskan di sini, adalah apakah komunikasi itu adalah masalah sosiologi ? bila demikian adanya, bagaimana memosisikan komunikasi sebagai disiplin ilmu, dengan memosisikan komunikasi sebagai fakta sosial ? Bab ini, akan mendiskusikan mengenai pertanyaan-pertanyaan dimaksud. Dengan harapan, kita dapat menemukan benang merah, dan sekaligus mendapatkan manfaat dari perspektif sosiologi dalam memahami fenomena komunikasi.


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
Sebagian sosiolog memandang peristiwa-peristiwa tersebut, cenderung dari sisi mekanis. Sehingga peristiwa itu disebutnya sebagai sebuah interaksi, interaksi antara manusia dengan hewan, interaksi antara manusia dengan manusia, interaksi antar individu, dan interaksi antar kelompok, atau interaksi antara individu dengan kelompok. Dalam hemat kita, penjelasan tersebut masih sangat sederhana. Disebut sederhana, karena pemaknaan terhadap peristiwa itu sebagai sebuah interaksi, hanya melihat tampak luar dari peristiwa tersebut.

Sebagaimana yang kita tuturkan di bagian awal tulisan ini, kita dapat menyusunnya kembali ke dalam struktur pemahaman saat ini, dengan harapan kita dapat menggunakan konsep dengan lebih tepat. Pertama, peristiwa reaksi. Reaksi adalah komunikasi antar benda, yang tidak memiliki gerak dan kesadaran. Kertas bereaksi karena ada panas yang dikirimkan api. Proses itu adalah aksi-reaksi, atau kita sebut reaksi. Dengan demikian, untuk konteks wacana ini kedepan, tidak akan digunakan konsep komunikasi untuk antar benda. Karena benda mati itu, tidak melakukan komunikasi, melainkan hanya mengalami proses aksi-reaksi. Proses reaksi itu terjadi, karena ada potensi yang terrangsang oleh faktor luar. Bila tidak terangsang oleh faktor luar, tidak akan terjadi reaksi. Seperti kertas yang terbakar tadi.

Kemudian, bila reaksi itu gerak dari dalam dirinya sendiri, kita sebut interaksi. Contohnya adalah interaksi antar binatang atau tumbuhan. Hewan dan tumbuhan memiliki gerak. Reaksi karena gerak yang muncul dari dirinya sendiiri, kita sebut interaksi.

Sementara yang dilakukan manusia, bukan sekedar reaksi, bukan pula interaksi, tetapi merupakan proses transaksi, yaitu interaksi yang melibatkan kesadaran dalam melakukan pemaknaan. Setiap pelaku, baik pengirim maupun penerima, mengerahkan kesadaran dan kemampuannya dalam membuat makna dan mendapatkan makna dari sebuah proses interaksi tersebut. Oleh karena itu, perbedaan antara hewan dan manusia, pada dasarnya adalah pada proses pemaknaan, baik dalam pengertian creation maupun apperception (membuat atau memaknai). Meminjam istilah yang digunakan Deddy Mulyana, proses komunikasi kategori ini, bukan sekedar interaksi, tetapi bersifat transaksi. Komunikasi dalam kehidupan manusia adalah sebuah proses transaksi.

Cukup banyak definisi komunikasi. Konsep komunikasi termasuk konsep yang cair. Bahkan, hampir sulit untuk menemukan definisi utuh, dan disepakati oleh para pakar komunikasi. Ada yang melihat, komunikasi sekedar dari strukturnya. Sehingga komunikasi itu diartikan sebagai proses penyampaian pesan dari komunitor (sender), melalui media, kepada komunikan (receiver). Definisi struktural seperti ini, tidak jauh dari pendefinisian mesin. Pemancar persan (sender), melalui gelombang radio dan satelit komunikasi, kemudian diterima oleh alat penerima (receiver) untuk kemudian bisa dimanfaatkan masyarakat pengguna jasa radio atau Tv (user).

Deddy Mulyana (2010:67-77), mengutip pandangan dari John R. Wenburg dan William W. Wilmot, juga Kenneth K Sereno dan Edward M . Bodaken. Hasil telaahan terhadap pakar komunikasi itu, menurut Deddy Mulyana, setidaknya ada tiga konseptualiasi komunikasi.[1] Pertama, komunikasi diartikan sebagai tindakan satu arah. Misalnya, seseorang yang menyampaikan pesan melalui media massa. Pesan itu dikirim, disampaikan dan diterima oleh masyarakat. Peristiwa itu, menunjukkan pola komunikasi sebagai tindakan satu arah.

Kedua, komunikasi diartikan sebagai interaksi. Praktek komunikasi adalah praktek interaksi, interaksi antara si pengirim dan si penerima pesan. Dalam perspektif ini, komunikasi itu adalah proses aksi-reaksi, atau proses sebab-akibat, dengan arah saling bergantian. Seseorang menyampaikan pesan, kemudian direspon oleh orang lain, selanjutnya direspon oleh pihak lainnya. Dalam proses komunikasi, proses aksi-reaksi itu berkembang berkelanjutan.

Ketiga, komunikasi adalah proses transaksi. Dalam proses komunikasi itu, ada pesan yang dikirim, dan kemudian diterima serta ditafsirkan oleh si penerima itu seraca subjektif. Makna pesan yang diterima, tidak selamanya sama dengan pesan yang dikirim si pengirim. Judy C. Person dan Paul E Nelson (Mulyana, 2010:76) mengatakan bahwa komuikasi adalah proses memahami dan berbagi makna. Dalam sebuah buku yang dipublikasikan bookboon.com, dinyatakan bahwa komunikasi diartikan sebagai seni (art) dan proses membuat (creating) dan tukar ide. Buku yang digunakan untuk latihan keterampilan komunikasi tersebut, menekankan pada proses komunikasinya itu sendiri, sehingga menekankan aspek kreasi dan saling tukar ide atau gagasan.[2]

Berdasarkan gugus-gagas makan komunikasi itu, kita dapat menarik kesimpulan bahwa dalam komunikasi itu, ada proses publikasi, interaksi dan transaksi. Di sebut publikasi, jika komunikasi dilakukan hanya tindakan satu arah. Kemudian, bila melibatkan pihak lain, ada proses interaksi, sementara bila ada upaya pemaknaan terhadap pesan, disebutnya proses transaksi. Dalam hematan konteks, saya melihat tidak ada sesuatu yang harus dipertentangkan. Karena ketiga komponen itu, bisa hadir bersamaan, tanpa harus dibedakan. Kendatipun bersifat tindakan satu arah, tetap merupakan bagian dari interaksi-transaksi. Hanya saja, tindakan satu arah itu adalah komunikasi tidak langsung. Walaupun disebut sebagai komunikasi berorientasi sumber, tetapi reaksi terhadap pesan yang disampaikan dapat ditunjukkan dalam waktu yang berbeda dengan cara berbeda. Misalnya, ada orang yang berpidato dengan gaya tindakan satu arah. Pola komunikasi ini disebut sebagai komunikasi satu arah, tetapi reaksi publik dengan cara diam, adalah sebuah respon untuk menolak pesan yang disampaikan oleh si penutur. Oleh karena itu, ketiga komponen itu, pada dasarnya merupakan satu kesatuan sistem budaya komunikasi yang tidak bisa dipisahkan.

Sehubungan hal itu, kita dapat merumuskan kembali makna komunikasi dalam konteks antropologi. Dengan tetap mengacu pada sejumlah nilai dan konsep yang sudah berkembang dalam ilmu komunikasi, kita dapat merumuskan kembali bahwa yang dimaksud dengan komunikasi adalah seperangkat proses pembudayaan melalui transaksi simbol budaya untuk mempengaruhi perilaku sehingga terbentuk tatanan budaya baru. Penggunaan konsep transaksi simbolik ini, lebih ke arah menguatkan pandangan Herbert Mead. Dalam teorinya, dia menggunakan istilah interaksi simbolik, padahal Mead sendiri meyakini bahwa setiap individu berusaha menemukan makna melalui interpretasinya (West dann Turner, 2008:100-101).[3] Sehubungan hal ini, kita lebih menekankan konsep transaksi simbolik daripada interaksi simbolik.

Untuk menjelaskan makna komunikasi ini, perlu ditegaskan beberapa konsep dasar yang melingkupinya. Pertama, kita menggunakan kata seperangkat (sistem). Hal menggambarkan bahwa proses komunikasi, bukanlah proses tunggal, atau proses bagian perbagian. Komunikasi adalah kerja fungsi antar setiap komponen yang terlibat di dalamnya. Dengan kata lain, komunikasi tidak bisa dilakukan sendiri atau satu pihak. Komunikasi adalah interaksi antara satu pihak dengan pihak lain. Pada sistem ini terdapat interaksi fungsi, baik dalam skala mikro maupun makro. Sistem interaksi kemasyarakatan, akan terbangun antara budaya dengan budaya, sedangkan sistem interaksi manusia antara individu dengan individu atau antara individu dengan kelompok. Peristiwa komunikasi, melibatkan dua komponen atau lebih, dan oleh karena itu disebutnya sebagais ebuah sistem interaksi.

Komunikasi adalah seni (art) sekaligus juga proses mengekspresikan nilai, mentransfer nilai atau menyerap nilai. Tujuan dari proses itu adalah membangun nilai, baik didalam diri sendiri maupun di pihak orang lain. Oleh karena itu, proses komunikasi itu adalah pembudayaan. Everet M. Rogers (Mulyana, 2010:69) misalnya, mengatakan komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka. Penjelasan ini, secara tidak langsung mendukung pada konsep kita mengenai pembudayaan. Komunikasi adalah sebuah proses pembudayaan nilai.

Langkah yang dilakukan dalam proses pembudayaan itu, dikembangkan melalui transaksi nilai. Si pengirim mengirimkan pesan nilai, dan kemudian si penerima berusaha untuk menerima, memahami, dan merespon nilai yang ditawarkan. Transaksi nilai ini muncul dalam bentuk simbol-simbol komunikasi, seperti bahasa, kode, perilaku, alat dan teknologi atau artefact komunikasi lainnya.

Helio Fred Garcia (2012) menulis sebuah buku dengan judul The Power Of Communication.[4] Dalam buku ini, dibuka dengan paparannya peran komunikasi dalam mendukung kepemimpinan. Komunikasi yang baik, bukan saja memperhatika aspek pilihan kata, tetapi kecepatan tuturan, fokus dan perhatian terhadap audiens juga penting. Tetapi, dengan kajiannya jelas ingin menegaskan bahwa komunikasi memiliki peran dan tanggungjawab strategis dalam menyampaikan pesan, menyampaikan nilai, menanamkan nilai dan membangun nilai baru pada komunikan (khalayak, public atau audiens). Di sinilah, letak komunikasi sebagai proses pembudayaan dan/atau pemberdayaan.

Simbol adalah objek dan peristiwa, bahkan perilaku dan orang itu sendiri yang menjadi media penyingkapan makna. Oleh karena itu, makna simbol tidak (selalu) mengacu pada kenyataan atau benda nyata, melainkan kepada makna yang lebih luas lagi.[5] Simbol mengandung makna. Seorang yang berbicara, sedang mengujarkan simbol-simbol bahasa yang mengandung makna (pesan). Seorang yang membuat iklan adalah membuat simbol visual yang mengandung pesan (makna). Dengan kata lain, komunikasi adalah proses simbolik dan interaksi simbolik.

Proses komunikasi memiliki tujuan. Tujuan instrumennya adalah menyampaikan pesan, sedangkan tujuan akhirnya adalah mempengaruhi perilaku. Kendati dimaksudkan untuk mempengaruhi perilaku, tetapi mempengaruhi bukan berarti mengarahkan. Artinya, walaupun seorang komunikator bermaksud mempengaruhi orang lain, supaya bisa bertindak sesuai dengan keinginannya, reaksinya bisa saja berlawanan, yaitu malah menunjukkan sikap yang tidak sesuai dengan keinginan si komunikator. Oleh karena itu, tujuan komunikasi adalah mempengaruhi perilaku, tetapi hasil komunikasi tidak bisa ditetapkan secara kaku. Tetapi, dampak akhir dari komunikasi itu adalah lahirnya tatanan budaya baru.


[1] Deddy Mulyana. 2010. Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung : Rosyda Karya

[2] Anonim. Effective Communication Skils. MTD Training. Bookboon.com. ISBN. 978-877681-598-1

[3] Richard West dan Lynn H. Turner. 2008. Pengantar Teori Komunikasi : Analisis dan Aplikasi. Jakarta : Salemba Humanika.

[4] Helio Fred Garcia. 2012. The Power Of Communication. New Jersey : Pearson Education, Inc.

[5] Uraian ini, disarikan dari kutipan ahli Antropologi Budaya, sebagaimana yang disajikan Anton Bakker (1995:231). Lihat Anton Bakker. 1995. Kosmologi dan Ekologi. Jogjakarta : Kanisius.

Advertisements