Menarik. Dengan publikasi dan atau euporianya pejabat kita mengenai mobil karya anak bangsa, khususnya anak-anak SMK, menjadi sebuah peristiwa menarik bagi kita semua. Bahkan, dengan adanya pemberitaan ini setidaknya kita dapat melakukan sebuah refleksi mengenai kurikulum pendidikan kita khususnya, dan orientasi pendidikan kita pada umumnya.


Bagi seorang tenaga pendidik, baik di tingkat pendidikan dasar, menengah maupun perguruan tinggi, masalah kurikulum atau orientasi pendidikan adalah masalah utama. Kesadaran terkait hal ini, merupakan hal penting dan utama bagi kehidupan seorang tenaga pendidik. Tetapi, mampu melahirkan karya sebagaimana yang terjadi pada kelompok SMK di Solo tersebut. Mengapa hal itu terjadi, dan mengapa hal ini perlu diperhatikan ?

Ada pelajaran penting, yang perlu menjadi perhatian semua pihak, khususnya kalangan praktisi pendidikan. Aspek penting ini, yaitu perlunya penguatan masalah kompetensi lulusan pendidikan. Ini adalah aspek utama dalam dunia pendidikan saat ini. Masalah kompetensi ini, bukan saja bagi kelompok siswa kejuruan, sebagaimana yang dialami oleh siswa di SMK Surakarta Solo tersebut, tetapi juga kompetensi lulusan bagi semua siswa dari setiap lembaga pendidikan tersebut.

Pernyataan tersebut mungkin tidak aneh, dan mungkin masih mudah untuk dipahami oleh kalangan pendidikan. Setiap siswa memiliki kompetensi, dan setiap sekolah telah menetapkan standar kompetensi lulusan (SKL)-nya. Dalam skala kecil, bahwa setiap sekolah telah memiliki Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), yang harus dicapai oleh seorang siswa di sebuah lembaga penddikan. Dengan adanya hal-hal seperti itu, maka masalah SKL atau KKM tersebut, maka masalah pentingnya kompetensi siswa menjadi tidak aneh lagi bagi lembaga pendidikan kita di Indonesia, baik itu pendidikan umum maupun pendidikan kejuruan.

Tetapi, apakah kompetensi lulusan itu menjadi standar utama ? inilah pertanyaan kritis yang perlu diajukan lanjutan kepada setiap lembaga pendidikan.

Sebagaimana kita maklumi bersama, seorang siswa belajar materi olahraga, dengan target dia kompetensi bersepakbola, kompeten bola volly, dan kompten bulu tangkis. Kemudian, dalam mata pelajaran lainnya, seorang siswa belajar kesenian, dengan tuntutan dia kompeten dalam bernyanyi dan atau menggambar. Tetapi, persoalannya adalah apakah cukup sekedar kompeten saja ?

Fakta empirik menunjukkan, bahwa banyak orang yang bisa nyanyi, banyak orang yang bisa menulis, banyak orang yang bisa menggambar, banyak orang yang sepakbola, dan banyak orang mampu melakukan kompetensi yang telah ditetapkan oleh lembaga pendidikan dimaksud. Tetapi, apakah hal itu sudah cukup bagi lulusan pendidikan Indonesia saat ini ?

Di sinilah, kita harus membedakan antara kompetensi akademik dengan kompetensi hidup. Kompetensi akademik, yaitu kemampuan dalam menyelesaikan tuntutan pembelajaran, sebagaimana yang disebutkan tadi, sedangkan kompetensi hidup adalah memanfaatkan kompetensi tersebut untuk kehidupan sehari-hari. Kemampuan seseorang dalam mengimplementasikan atau menerapkan pengetahuan, keterampilan atau kompetensi akademik dalam kehidupan sehari-hari itulah, yang kita sebut sebagai kompetensi hidup.

Perbedaan dasar antara kompetensi akademik dengan kompetensi hidup itu, sesungguhnya hanya terletak pada dua kata, yaitu ….hidup dari…. Contoh kompetensi akademik, yaitu bisa bulutangkis, sedangkan contoh dari kompetensi hidup, yaitu bisa hidup dari bulu tangkis. Contoh kompetensi akademik yaitu bisa nyanyi, sedangkan kompetensi hidup yaitu bisa hidup dari nyanyi…

Coba perhatikan dengan seksama, berapa orang yang membaca buku ? berapa orang yang bisa menulis ? berapa orang yang bisa main sepak bola ? bila sekedar hobi, dan atau kemampuan standar semata, maka kemampuan-kemampuan tersebut sekedar menjadi kemampuan akademik yang berimbas secara pribadi dan akademik semata. Tetapi, dalam kehidupan nyata ini pun, kita pun dapat mengajukan pertanyaan, berapa orang yang bisa hidup dari membaca buku ? berapa orang yang bisa hidup dari menulis ? berapa orang yang bisa hidup dari main sepak bola ?.

Pada konteks itula, pernyataan sikap hidup dari.. merupakan kompetensi hidup yang perlu menjadi perhatian dunia pendidikan. Karena dengan mengembangkan prinsip hidup dari… itulah, maka tujuan pendidikan, dan orientasi pendidikan menjadi jauh lebih terarah dan efektif. Kompetensi memperbaiki mesin motor, dan mobil, adalah kompetens-kompetensi yang dapat dimiliki oleh banyak orang. tetapi, kompetensi yang mendukung hidup dari… dari kompetensi tersebut, hanya dimiliki oleh kelompok tertentu saja.

Pada bagian lain, kompetensi hidup dari… ini merupakan sebuah keterampilan entrepreneurship yang perlu dikembangkan oleh dunia pendidikan saat ini. Karena, melalui aspek inilah, maka nilai-nilai kompetensi akademik diharapkan akan dapat memiliki manfaat praktis dan ekonomis bagi lulusan pendidikan. Sementara mengalpakan aspek entreprenuership ini, lulusan pendidikan kita hanya akan menjadi lulusan yang memiliki kompetensi akademik bernilai baik, tetapi gagal dalam menghadapi kehidupannya sendiri-sendiri.

Untuk pengembangan kompetensi akademik yang dikembangkan dengan nilai-nilai entrepreneurship itu, maka orientasi pengembangan kompetensi pendidikan itu, tidak boleh sekedar pada aspek kompetensi akademik. Artinya, setiap lembaga pendidikan, tidka boleh sekedar mengembangkan nilai-nilai akademik yang berorientasi pada masalah akademik semata, tetapi harus pula memperhatikan aspek-aspek pasar. Pendidikan kompetensi indonesia saat ini, perlu menjadikan pasar sebagai salah satu dari orientasi pendidikan. Artinya, kurikulum kompetensi itu perlu berorientasi pada kebutuhan pasar.

Ada pengalaman menarik. Sebuah sekolah menetapkan dalam struktur kurikulumnya mencantumkan mata pelajaran keterampilan. Sekolah ini adalah sekolah umum atau madrasah aliyah. Dalam mata pelajaran tersebut, diberikan materi-materi ajar yang sifatnya keterampilan. Salah satu diantara materi tersebut, adalah mencelupnya. Sayangnya, target dari keterampilan itu sangatlah sederhana, yaitu hanya mencelup kain dengan warna (satu warna). Setelah itu, siswapun dianggap sudah kompeten.

Dalam satu bulan, sekolah tersebut sudah mampu mengumpulkan kain dengan potongan ukuran 20 cm x 20 cm kain dengan warna sangat beragam sebanyak 350-400 potong (sejumlah siswa). Bayangkan, bila tugas itu berjalan dalam waktu satu semester, dengan jumlah kelas sebanyak 27 kelas (atau setara 1000 siswa) ! pertanyaan, dasarnya adalah apa manfaat praktis dari potongan kain hasil celupan tanpa motif, tanpa nilai estetika, dan tanpa nilai praktis tersebut ? ujungnya sekedar menjadi sampah di gudang sekolah semata.

Kondisi itu, merupakan contoh ril, bahwa tuntutan akademiknya anak sudah tuntas, yaitu dia kompeten. Tetapi kompetensi itu, tidak bisa membantunya untuk bisa hidup dari…, atau tidak mendukungnya pada kompetensi kehidupan lulusan pendidikan. Kemampuan SMK di Surakarta Solo tersebut, sesungguhnya memberikan sebuah lecutan kepada seluruh pelaksana pendidikan, bahwa kompetensi lulusan itu, hendaknya adalah kompetensi lulusan yang layak pasar, sehingga baik sekolah maupun lulusan sekolahannya itu sendiri, dapat mengembangkannya menjadi modal kehidupan di kemudian hari.

Kompetensi lulusan itu, bukanlah sekedar untuk mencapai ijazah sekolah, tetapi untuk modal kehidupan di masa yang akan datang. Inilah target dari kompetensi hidup lulusan sebuah lembaga pendidikan. Lulus dari sebuah sekolah itu gampang, tetapi bisa hidup setelah lulusan dari sebuah sekolah, itulah yang harus dipikirkan lebih seksama..

Advertisements