Menjadi bagian dari orang yang terundang, adalah sebuah pengakuan dan penghargaan. Sementara memenuhi undangan merupakan bentuk dari pemuliaan. Karena itu, menerima undangan adalah pelayanan, dan santun dalam bertamu, merupakan keagungan sikap.

Setelah melaksanakan shalat  dan minum susu, Rasulullah bersama malaikat Jibril berangkat naik ke langit. Di depan pintu langit, Malaikat Jibril berdiri dan kemudian mengetuk pintu langit, serta meminta penjaga langit untuk membukakan pintu.

Melihat ada yang datang, penjaga pintu langit mengajukan pertanyaan kepada Jibril, ”Siapakah ini ?”.  Pertanyaan ini, bukanlah pertanyaan karena ketidaktahuan, atau pertanyaan investigasi. Pertanyaan ini, menurut pendapat para ulama, merupakan bentuk dari pertanyaan retoris, karena sesungguhnya mereka sudah tahu, siapa orang yang berdiri di depan pintu. Tujuan dari pertanyaan retoris ini, sekedar memastikan dan meyakinkan mengenai kehadiran orang yang ada di depan pintu.

”Jibril.” jawabnya singkat.

”Siapakah yang bersama Engkau?” tanyanya kembali.

”Muhammad.” Jibril menjawab dengan singkat.

”Apakah ia telah mendapat panggilan”. Mendengar pertanyaan itu, Jibril langsung menjawab.

”Ya, dia telah mendapat panggilan”.

Setelah mendengar jawaban itu, penjaga langit dunia itu membuka pintu untuk Nabi Muhammad Saw dan malaikat Jibril, sambil mengucapkan salam sambutan atas kedatangan Nabi Muhammad dan Jibril.

Menjadi bagian dari orang yang terundang, adalah sebuah pengakuan dan penghargaan. Sementara memenuhi undangan merupakan bentuk dari pemuliaan. Karena itu, menerima undangan adalah pelayanan, dan santun dalam bertamu, merupakan keagungan sikap.

Rasulullah Muhammad Saw saat itu, adalah insan yang mendapat undangan dari Allah Swt untuk hadir ke Arsy. Itulah kehormatan agung yang diterima seorang hamba,  dihadapan Tuhan-Nya.

Kita akan merasa bahagia, bila diri ini mendapat undangan langsung dari pimpinan yang kita hormati. Kita akan merasa dimuliakan, dengan adanya undangan dari pimpinan kita. Dengan hadirnya ke undangan itu pun, kita sudah memuliakan pengundang, dan juga memuliakan diri ini.

Mi’raj tahap pertama sudah dimulai, dan Rasulullah dihadapkan pada perjalanan spiritual yang agung, dahsyat dan spektakuler. Pada malam ini, Beliau akan menjalani proses perjalanan mi’raj dan bertemu dengan berbagai ayat-ayat Allah. Salah satu diantaranya, adalah bertemu dengan Nabi dan Rasul, di setiap lapisan langit. Pertemuan pertama, diawali dengan bertemunya Nabi Muhammad Saw dan Jibril As dengan Nabi Adam As.

Bagi seorang pembaca sejarah umum, mungkin sudah merasa cukup bila mendapatkan informasi apa yang terjadi dan kapan terjadinya peristiwa mi’raj Nabi tersebut. Namun, bagi kita sebagai masyarakat lainnya akan bertanya-tanya, apa hikmah dibalik pertemuan dengan para Nabi tersebut ? dan mengapa tidak bertemu dengan nabi Nuh As, Nabi Ismail As, atau yang lainnya ?

Dari pertanyaan inilah, usaha pencarian makna dapat kita lakukan dengan melihat sebagian dari karakter kenabian atau kepemimpinan yang ditunjukkan oleh para nabi yang bertemu dengan Rasulullah Muhammad Saw di antara langit ke langit. Ada beberapa hal yang perlu dijelaskan dalam menguraikan makna ini, (a) tokoh tidak bisa dilepaskan dari sejarah atau biografi hidupnya, (b) pertemuan Rasululllah Muhammad Saw dengan tokoh terkait, dapat dimaknai sebagai peringatan untuk kembali mengenai kontribusi dan sikap tokoh yang ditemuinya. Dengan dua alasan inilah, tepat kiranya bila di sini kita menelaah mengenai tokoh-tokoh dimaksud.

Advertisements