Minggu ini, khususnya Kota Bandung diramaikan dengan munculnya surat ajakan untuk ‘berpartisipasi dalam pesta seks bebas”. Di media massa, peristiwa ini kemudian dinamai dengan istilah sekte seks bebas.

Bagi para penjaga gawang moral, seperti para ulama, pendeta, atau bikhu-bikhuni, masalah itu bisa memancing keprihatinan. Karena walau bagaimanapun juga, secara normatif, seks bebas itu masih merupakan sesuatu hal yang tabu.

Tetapi masalahnya, apa yang salah dengan fenomena itu ?

Ada dua hal penting yang perlu dicermati, pertama, istilah sekte, dan kedua perilakunya. Kedua hal ini penting, diluar masalah lain yang juga penting untuk diperhatikan. Artinya, kita tidak akan mengulas mengenai, (a) mengapa muncul di Kota Bandung, (b) mengapa muncul di insitusi pemerintah, (c) mengapa muncul dengan membawa-bawa logo pemerintahan, dan sebagainya.

Dalam wacana ini, kita hanya akan mengulas dua aspek saja, yaitu istilah sekte dan perilakunya. Khusus untuk yang pertama, dikamus Oxford, dapat dicek di intenet,kata sekte itu adalah kelompok kecil masyarakat yang menganut agama atau kepercayaan tertentu, yang memisahkan dari kelompok besarnya (mainstreamnya). Di Indonesia, padanan kata untuk sekte, mungkin, istilah “Aliran Kepercayaan”.

Berdasarkan pertimbangan itu, dapat dikatakan bahwa sebuah sekte itu setidaknya memiliki dua sifat (a) adanya nilai-nilai atau aspek keagamaan yang dianut, (b) menyimpang dari pemahaman agama secara umum. Bila demikian adanya, apakah kelompok itu merupakan sebuah sekte ? bila yang dimaksudkan sebagai sebuah sekte dalam pengertian dasar dari kata ‘sect’ itu sendiri, tampaknya kurang tepat.

Terus, bagaimana dengan fenomena yang ada sekarang ini ? bukankah mereka itu kerap (a) ada pemimpinnya, (b) ada pengikutnya, (c) ada ajarannya. Bukankah hal itu, menunjukkan kelompok dan kelakuan itu sebagai bahwa sebuah sekte ?

Kelompok Gang Motor, sebagaimana yang sering dipublikasikan media pun, pada dasarnya memiliki ketiga aspek tersebut tadi. tetapi, mereka tidak pernah disebut sebagai sebuah sekte, mereka itu lebih dikenal sebagai kelompok atau gang. mengapa ? karena kelompok dan pemahamannya, bukan sempalan dari sebuah agama, tetapi hasil konvensi (kesepakatan) diantara kelompok itu sendiri.

Sehubungan hal itu pula, saya lebih ‘nyaman’ menyebutnya dengan istilah kelompok gaya hidup. Perilaku itu adalah gaya hidup pada kelompok sosialita tertentu (komunitas tertentu).

Di sebut gaya hidup, karena muncul di daerah perkotaan. sebab, kalau munculnya di pedesaan, atau di masyarakat tradisional, pesta seks bebas serupa itu, bisa jadi buka gaya hidup, tetapi sebuah norma adat. Seperti kasus paiderastia di Yunani, atau berbagi istri pada masyarakat tradisional Nepal-Himalaya, atau pesta nudis di Perancis dan Belanda.

Kalau dilihat dari gejala sosial yang ada saat ini, khususnya di Indonesia, laku-laku tradisional masyarakat tertentu, ternyata banyak juga muncul di tengah-tengah masyarakat di Kota Besar. Moammar emka, dalam Jakarta Undercover-nya, banyak menunjukkan perilaku yang berkaitan dengan masalah seks bebas tersebut.

terus, apa masalahnya dengan surat tadi ? apa masalahnya dengan ritual seks bebas tadi ? bukankah, rakyat di negeri ini, sudaha terbiasa merayakan perilaku seks termasuk perayaan seks-berkelompok ? maka masalah dasarnya dari kesalahan itu, hanya satu ‘ketahuan’. Itu saja !

tetapi, di luar itu semua, peristiwa ini, patut menjadi bahan renungan. Jika di Ruang Dewan saja, perayaan seks ‘pernah dipertontonkan’, maka itulah yang muncul di masyarakat ?!

Advertisements