Nama baik itu bukan pada huruf-huruf yang kita tuliskan. Nama baik itu ada pada kelakukan kita.

 

 Dalam sebuah jejaring media sosial, ada guru geografi muda mengajukan pertanyaan, “siapa yang layak disebut bapak geografi dunia ?”, atau lebih sederhananya, “siapa yang layak disebut bapak geografi indonesia ?”

Pertanyaan sederhana, tetapi menyentakkan pikiran. Walaupun termasuk pertanyaan itu termasuk sederhana,  dan sering diajukan oleh siswa di kelas, tetapi tetap saja kadang membuat bingung untuk menjawabnya. Siapa tokoh yang layak disebut sebagai bapak Geografi tersebut ?

Dalam buku-buku paket, dapat dengan mudah ditemukan ‘sebutan’ mengenai bapak geografi. Erathostenes (276-198 SM), misalnya, disebut bapak geografi, karena pertama  kali mempekenalkan konsep geografi dalam sebuah karya ilmiahnya. Tetapi, bila diajukan inisial pertanyaan tambahanya, “apakah memang layak, diposisikan seperti itu ?”, atau “mengapa bukan Thales, Heraclides, atau pemikir yang agak baru yaitu Immanuel Kant ?”

Muncul lagi kebingungan itu.  Karena pada dasarnya, sebutan sebagai bapak geografi bisa jadi lebih bersifat ‘konvensional’ (atau malah politis ?!) dibandingkan berdasarkan hasil kajian.  Setidaknya sampai wacana ini dituliskan, belum terpublikasikan secara massal mengenai hasil penelitian dan penetapan tokoh geografi atau bapak geografi, baik tingkat nasional maupun dunia.

Bagi sebagian orang, termasuk saya sendiri, kadang menganggap masalah seperti itu bukan sesuatu yang mendesak dan urgen. Karena substansi dari masalah itu, hanya soal penghargaan dari generasi kita terhadap generasi masa lalu, yang sudah memberikan sumbangan pemikiran terhadap perkembangan geografi.  Tetapi, bagi sekelompok orang, masalah ini akan menjadi penting, khususnya untuk mengetahui standar pemikiran dan atau kontribusi pemikiran dari para tokoh tersebut.

Bagaimana kita bisa menempatkan seseorang sebagai seorang geograf, atau bapak geografi, bila kita tidak mengetahui kontribusi pemikirannya terhada perkembangan pemikiran geografi ? bagaimana kita disebut sebagai generasi yang hormay pada warisan pemikiran geograf, bila kita melupakan konstribusi seseorang yang sudah berjasa pada geografi, dan malah menempatykan orang yang sesungguhnya kurang memberikan kontrisbu nyata terhadap perkembangan geografi ?

Aha !

Pertanyaan-pertanyaan itulah, yang menggiring kesadaran ini, untuk menawarkan perspektif  lain dalam melakukan penelitian geografi.  Perspektif yang dimaksud adalah perspektif filosofi dalam kajian geografi.  Kedengarannya agak aneh. Tetapi saya anggap ini adalah satu kebutuhan bagi seorang geograf. Kedengarannya sangat tidak praktis, tetapi saya anggap kesadaran ini akan menjadi landasan praktis bagi seorang geograf. Untuk membuktikan dan atau mendukung dugaan-ddugaan inilah wacana ini terpaparkan di ruangtulis ini.

Sekedar contoh. “bolehkah kita melakukan penelitian mengenai fenomena poligami, kasus terorisme, kasus korupsi, kasus bunuh diri, atau gerakan demonstrasi mahasiswa ?“ Jawaban apapun mengenai masalah ini, saya yakin berkaitan erat dengan persepsi kita mengenai fenomena itu. Mereka yang menganggap bahwa fenomena itu ada kaitannya dengan kajian geografi, akan meng-iya-kannya, sedangkan mereka yang menolaknya, menunjukkan ada pemahaman mengenai geografi yang ‘berbeda’. Intinya, pernah kita mengoreksi kesadaran geografi yang ada dalam diri kita, bahwa kita ini, sudah berfikir geografi, sehingga kita bisa menilai bahwa sesuatu itu adalah masalah geografi atau bukan ?

Itulah masalah filsafat geografi !

Advertisements