Saya agak ragu terhadap pertanyaan itu. Keraguan ini, bukan karena diri merasa bisa. Tetapi, karena memang setelah membuka beberapa referensi khususnya yang terkait dengan geografi murni, ternyata pertanyaan itu terasa menjadi tidak relevan. TIDAK RELEVAN !

Mengapa begitu ?

Jawabannya sederhana, karena geografi dan ahli geografi baik hari ini maupun masa lalu, sudah menunjukkan perhatian yang seksama terhadap Sejarah Kebudayaan Agama. Mau contoh ?

Baca buku Ellen Churchil Semple, geograf Amerika  (08-01- 1863 – 08-05- 1932), adalah geograf aliran fisis determinisme, yang sempat melakukan kajian fenomena agama.  Buku dengan judul “Influences of Geographic Environment” yang diterbitkan kembali tahun 2005 (setidaknya, buku yang saya punya hari ini), mengulas mengenai fenonema agama di dunia, termasuk agama-Agama di Afrika dan Arab Saudi. Dengan cerdas, dan bahkan dia terkukuhkan juga, sebagai seorang ahli geograf beraliran fisis determinism.

Kemudian, kalau kita membuka-buka buku, Human Geografi, karangan Erin H. Fouberg,  Alexander B. Murphy,  H. J. de Blij (2009), menulis buku tentang Human Geography, di dalamnya membahas masala Geografi agama. Kemudian, Alison Greiner (2012),bukunya “Visualizing Human Geography” pun membahas masalah geografi Agama. Ini hanya dua buku, yang dituliskan oleh empat geografi. Masih banyak buku serupa yang menjelaskan mengenai geografi agama.

Bila demikian adanya, jika ada seorang pimpinan, meragukan orang geografi bisa menjelaskan agama, khususnya dari perspektif geografi agama mengenai sejarah perkembangan kebudayaan agama (termasuk SKI), akankah nalar seorang geograf, seperti yang saya miliki ini, akan mudah menerima nalar itu ?

Saya tidak bermaksud untuk mengatakan MAMPU. Tetapi, ada tuntutan kehati-hatian dalam memvonis kemampuan orang.  Bisa jadi, karena latar belakang ilmu berbeda, kita kurang paham, terhadap kedalaman ilmu di luar ilmu kita.

geografi yang selama ini kita pahami, bisa jadi, bukanlah Geografi yang sesungguhnya berkembang dalam dunia akademik. Bukalah mata, untuk melihat ilmu lain, dan bersikaplah objektif.

Advertisements