Pada umumnya, Geografi sebagai sebuah disiplin ilmu terbagi menjadi dua bagian-besar, yaitu geografi fisik dan geografi manusia (human geography). Gerald R. Pitzl (2004:127), geografi manusia termasuk bidang kajian yang sangat luas. Semua kajian geografi termasuk kajian geografi manusia, kecuali geografi fisik dan kartografi. Hal ini menunjukkan bahwa geografi itu ada 3, yakni geografi fisik, geografi manusia dan geografi teknik (contoh kartografi dan  SIG).

Pemilahan kajian, menjadi geografi fisik dan geografi manusia, terjadi pada akhir abad XIX dan awal abad XX. Ironisnya, pemilahan seperti itu menjadi tetap tidak mulus, karena geografi dianggapnya sebagai kajian ruang-muka bumi kaitannya dengan manusia.  Karena itu, bagi pandangan tertentu, pemilihan  geografi menjadi geografi manusia dan geografi fisik, dianggapnya menjadi tidak relevan.

Khusus dalam konteks wacana ini, penyebutan geografi fisik atau manusia, lebih disebabkan karena masalah pengarusutamaannya saja. Bila kajiannya, dimaksudkan untuk mengkaji aspek manusia, dengan data-data geografi fisik,  atau dalam bahasa statistik, aspek kemanusiaannya lebih dominan dibandingkan aspek fisik, disebut sebagai geografi manusia. Sedangkan, bila penelitian geografi itu, pengarusutamaannya pada aspek fisik, dengan informasi budaya atau manusia sebagai imbuhannya, kajian itu disebutnya geografi fisik.  Khusus untuk konteks ini, dan untuk memantapkan pemahaman kita mengenai geografi manusia, kita akan melakukan telaahan kritis terhadap makna geografi manusia.

Terdapat ragam definisi atau batasan pengertian mengenai geografi manusia. Batasan definisi geografi yang mengandung sikap kritis dan analitis, dikemukakan Erin H. Fouberg,  Alexander B. Murphy,  H. J. de Blij. Dalam karya bersamanya  (Fouberg, Murphy dan de Blij, 2009:8) mengatakan bahwa Geografi Manusia:

Memfokuskan kajian terhadap bagaimana manusia memanfaatkan tempat, bagaimana manusia mengorganisasir masyarakat dan ruang, bagaimana manusia melakukan interaksi dengan sesama yang laiinya pada satu tempat dengan tempat lain, dan bagaimana mereka memiliki kepekaan terhadap yang lain, dan lokasi, region serta dunianya.

 Dari batasan makna geografi manusia itu, ada empat pokok pikiran yang menunjukkan identitas kajian geografi manusia.  Pertama, kajian mengenai pola perilaku manusia dalam memanfaatkan tempat.  Setiap orang memiliki persepsi, penilaian, dan tindakan nyata yang berbeda terhadap tempat. Sebuah pohon besar dan rindang, akan dinilai berbeda oleh setiap orang. Orang bernalar ekonomi, akan memandangnya sebagai modal kekayaan untuk mendapatkan uang, dan dia berniat untuk menebang serta menjual kayunya. Seorang arsitek akan memandangnya sebagai bahan yang baik untuk membuat rumah atau seni kerajinan. Seorang yang mistik, akan menjadikannya sebagai tempat pemujaan. Sementara seorang ekolog, akan memandangnya sebagai modal utama dalam menjaga kelestarian lingkungan.  Kajian mengenai keragaman manusia dalam memanfaatkan tempat dan sumberdaya yang ada di tempat tersebut, merupakan kajian geografi manusia.

Kedua, geografi manusia melakukan kajian mengenai pola dan perilaku manusia dalam mengorganisasir masyarakat dan ruang. Tempat, sebagaimana yang dikemukakan sebelumnya, tidak sekedar individu atau parsial. Sebuah tempat,  seperti sawah, misalnya, merupakan lokasi yang dihuni oleh berbagai komponen lainnya.  Geografi melakukan kajian mengenai pola dan perilaku manusia dalam mengelola ruang-ruang tersebut. Karena ruang yang ada, bukan sekedar tempat menyimpan barang, tetapi membutuhkan penataan yang baik, sehingga bisa dijadikan sebagai tempat tinggal manusia.

Ketiga, geografi manusia mengkaji mengenai interaksi antara manusia dengan tempat dan interakasi keruangan. Getis, Getis dan Fellmann (2008), menyebut aspek ini sebagai aspek interaksi keruangan. Sosiologi mengkaji mengenai interaksi sosial, sementara geografi manusia mengkaji mengenai interaksi keruangan. Di dalam kajian ini, geografi manusia berusaha unuk mengkaji mengenai interaksi manusia dengan lingkungannya, dan interaksi ruang satu dengan ruang yang lainnya.

Terakhir, merujuk pada pandangan Fouberg, Murphy dan de Blij (2009:8), geografi manusia berusaha untuk mengkaji mengenai kepekaan dan rasa memiliki manusia terhadap lokasi, region dan dunianya. Aspek ini, biasa disebut dengan sense of place.  Keragaman rasa memiliki  tempat (sense of place), bukan sekedar terhadap rumah, desa, negara, tetapi juga terhadap planet bumi ini. Target pelestarian bumi, dan penyelamatan lingkungan, pada dasarnya bersandar pada besarannya sense of place. Kerusakan lingkungan, adalah contoh nyata rendahnya sense of place dari manusia.

Untuk memahami hakikat geografi, kita bisa menggunakan kalimat pertanyaan untuk mengujinya. Dalam hal ini, kita bisa meminjam pertanyaan yang diajukan Marvin Mikesell (Fouberg, Murphy dan de Blij, 2009:9) yang berupaya untuk menjelaskan hakikat geografi. Dalam kesempata itu Marvin Mikesell, mengatakan bahwa geografi itu adalah ilmu yang berupaya menjawab pertanyaan “why of where”.

Oleh karena itu, mudah diterima bila Fellmann, Getis,  dan Getis (2003:5) berpendapat bahwa geografi manusia berkaitan dengan kajian mengenai dunia sebagaimana adanya, dan dunia-sebagaimana-menjadi.  Geografi manusia mengkaji tentang penduduk, dimana mereka, apa yang mereka sukai dan lakukan, bagaimana mereka berinteraksi denagn ruang dan ruang yang lainnya, dan bagaimana pola manusia dalam menggunakan alam dan sumberdaya alam. Batasan makna yang diajukannya itu, sejalan dengan hakikat geografi yang disampaikan Marvin Mikesell.

Berdasarkan pertimbangan itu, dapat disederhanakan bahwa geografi manusia merupakan disiplin ilmu geografi yang mengkhususkan kajian mengenai keragaman fenomena manusia terkait dengan perilaku keruangannya.  Dalam perilaku keruangannya tersebut, erat kaitannya dengan persepsi ruang, pengetahuan, emosi dan tindakan keruangan.


Advertisements