Dibandingkan dengan Kurikulum KBK, atau Kurikulum KTSP, kita tidak akan merasa nikmatnya Kurikulum 2013, kita tidak akan merasa sensasi kurikulum 2013,  bila kita tidak memiliki pemahaman mengenai filosofi Surabi dibandingkan dengan Lontong atau nasi goreng ?

Pengantar[1]

Banyak orang yang memiliki rasa harap-harap cemas dengan pemberlakuan kurikulum 2013. Disebut diharapkan,  karena ada sejumlah guru yang mendapat janji surga, dengan jumlah jam yang melimpah. Dengan jumlah jam yang melimpah, sudah pasti, kewajiban sertifikasi menjadi Aman ! sementara di lain pihak, ada yang merasa cemas. Dengan hadirnya kurikulum 2013, ada indikasi pengurangan jam, dan bahkan ‘potensial’ menghapus sejumlah mata pelajaran. Mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) adalah salah satu diantara mata pelajaran yang mengalami kecemasan.

Untuk mendapatkan spirit kurikulum 2013, dibutuhkan eksplorasi dan komunikasi yang efektif, sehingga setiap guru dapat memahami masalah dan tantangan kurikulum 2013 yang akan diberlakukan saat ini.

Khusus untuk konteks ini, wacana ini, akan memfokuskan “relasi kekuasaan” antara guru dengan kurikulum, dalam konteks membaca kurikulum 2013.

 

Arti : Relasi Kekuasaan

Guru pada satu sisi, dan kurikulum di sisi lain.  Secara sosiologis, kita bisa menemukan hubungan antara keberdayaan guru dengan keberdayaan kurikulum dalam konteks pelayanan pendidikan. Artinya, guru sebagai ‘individu’ memiliki kekuasaan terhadap diri dan otonomi perilakunya, sedangkan kurikulum pun, secara politik memiliki kekuasaan ‘memaksa’, mengatur, atau mengarahkan.

Masalah yang muncul adalah apa yang dilakukan guru dihadapan keberlakuannya kurikulum 2013 ? apakah guru memiliki kuasa untuk  berdaya, dan atau kurikulum yang jauh lebih berdaya ?

 

Relasi Kekuasaan

Meminjam dan memosisikan asumsi itu, kita dapat menemukan relasi kekuasaan guru dengan kuriklum dalam bentuk pemetaan kemandirian.

Meminjam pandangan Alex Moore (2006:87) kurikulum sebagai sebuah budaya (curriculum as culture).[2] Dalam kurikulum ada ide, norma, gagasan atau kepentingan. Dalam kurikulum pula, ada agenda, program, tujuan, atau misi. Oleh karena itu, untuk mewujudkan ideu atau misi itu, dibutuhkan tindakan operasional dari setiap komponen yang terlibat dalam layanan pendidikan. Kurikulum merupakan perangkat budaya, atau rekayasa sosial budaya untuk mewujudkan tujuan pembangunan manusia.

Sebagai sebuah budaya, dalam diri kurikulum itu ada gagasan, ada kompetensi, dan ada tuntutan. Gagasannya mengenai ide perubahan, kompetensinya adalah struktur kurikulum, sedangkan tuntutannya adalah respon positif dari seluruh komponen pendidikan di Indonesia.

guru

               
 10                
 8                
 6                
 4                
 2                
 1 2  4 6 8 10      

Kurikulum

 

Namun demikian, ternyata respon yang muncul atau reaksi yang muncul tidak seragam. Terdapat beragam respon yang ditunjukkan guru, pejabat atau masyarakat terhadap kurikulum 2013. Sebelum membahas masalah ini, kiranya kita dapat melihat, bagaimana posisi keberadayaan guru dihadapan kurikulum, termasuk pada kurikulumn 2013,

Pertama, kurikulum jauh lebih berdaya daripada guru. Fenomena yang terjadi, adalah guru berposisi sebagai pelaksana kurikulum. Guru kurang berdaya dihadapan kurikulum. Relasi ini, berada oada ordinat (10, 2).

Kedua, guru lebih berdaya dibandingkan kurikulum. Kurikulum sekedar berposisi sebagai panduan, sedangkan guru berupaya untuk mengembangkannya. Relasi ini ada pada titik ordinat (2,10).

Ketiga, guru cuek terhadap kurikulum, dan kurikulum pun tidak memiliki daya-gerak kepada guru.  Guru dan kurikulum sama-sama tidak berdaya untuk mengungkit layanan pendidikan. Ordinat untuk fenomena ini, yaitu (5,5).

Fakta empiris untuk menggambarkan masalah ini, yaitu munculnya perilaku guru yang terpengaruh besar oleh dinamika kurikulum. Ucapan para guru pad ordinat ini, biasanya berujar, “ah, praktek mengajar, terserah guru saja..”

“perubahan kurikulum itu hanya nama saja,  ternyata, dilihat dari isinya, begitu-begitu juga…”

‘kurikulum ini, hanya projek pemerintah saja…”

Ucapan-ucapan tersebut, diantara ucapan defensif dari sejumlah guru, yang berposisi pada ordinat (5,5). Mereka tidak peduli dengan perubahan kurikulum, dan tidak mau tahu dengan filosofi kurikulum. Pemerintah, dengan kurikulumnya sendiri, tidak memiliki daya paksa atau daya ungkit terhadap kinerja guru. Sementara guru itu sendiri, tidak merasa terusik dengan hadirnya kurikulum, yang menurut versi  penggagasnya, atau pemerintah, memiliki substansi yang berbeda dengan kurikulum yang direvisinya. Fenomena ini kerap terjadi pada sekolah negeri cluster menengah-bawah.

Keempat, ada fenomena ordinat (10,0). Ordinat sepuluh nol adalah memosisikan guru sebagai faktor utama, dan bahkan satu-satunya sebagai pewarna layanan pendidikan. Guru adalah kurikulum itu sendiri. Guru memosisikan diri sebagai struktur dan kurikulum pembelajaran. Guru seperti itu, merasa tidak perlu dengan kurikulum.

Dalam sistem pendidikan pesantren,  seorang kyai adalah pengajar tetapi sekaligus kurikulumnya. Kurikulum pesantren itu, khususnya pesantren tradisional, tidak memiliki kurikulum yang baku atau terdokumentasikan. Kyai adalah sumber belajar, dan sekaligus kurikulumnya itu sendiri.

Kelima, ada fenomena lembaga pendidikan dengan ordinat (2,2). Tidak ada kurikulum dan guru pun kurang berkualitas. Lembaga ini lebih mengacu pada formalitas. Jalannya pelayanan pendidikan, tidak seiring dengan Standar Nasional Pendidikan, dan kualifikasi tenaga pendidiknya ‘asal-asal’an.

Ketidaktegasan pemerintah dalam menegakkan aturan dan memberikan pembinaan, melahirkan lembaga pendidikan yang ‘asal jalan’. Kualitas pendidikan tidak terurus, dan kualitas tenaga pendidik pun tidak terbina. Fenomena lembaga pendidikan seperti ini, cenderung muncul pada sekolah swasta kluster rendah.

Terakhir, ordinat (10,10) yaitu adanya relasi kuasa yang dinamis antara guru dengan kurikulum. Guru memiliki pemahaman yang tepat mengenai kurikulum, dan mengartikan kurikulum sebagai sebuah rangsangan baru dalam mengungkit pelayanan pendidikan. Sementara kurikulumnya itu sendiri, memberikan konsep dan strategi yang matang, terpahami dan operasional, bahkan mampu memberikan jawaban terhadap kegelisahan kalangan pendidikan di lapangan.

 

Analisis dan Pembahasan

Sehubungan dengan hadirnya kurikulum 2013, potensial memunculkan melahirkan variasi respon guru.  Pemetaan sebagaimana yang dikemukakan sebelumnya, merupakan pemetaan normatif untuk melihat gambaran respon para guru, baik di tingkat satuan pendidikan maupun pada skala umum.

Perubahan kurikulum dianggap sebagai sebuah projek. Pernyataan seperti ini, wajar dan alamiah. Kurikulum dan pendidikan pada umumnya, adalah projek kemanusiaan yang berkelanjutan. Perbaikan dan pembaharuan projek kemanusiaan dan pemanusiaan ini, tidak boleh berhenti karena ditolak, tetapi juga tidak boleh berubah sekedar kepentingan politik.

Untuk merespon perkembangan zaman, lembaga pendidikan tidak bisa tinggal diam. Sekolah apapun, atau madrasah apapun, dia tidak berdiri di ruang hampa. Sekolah atau madrasah berdiri di tengah masyarakat yang terus mengalami perubahan, baik dalam pengertian sosial budaya, ekonomi, politik termasuk kebutuhan dan impiannya. Oleh karena itu, tidak masuk akal, dan tidak rasional bila lembaga pendidikan, termasuk didalamnya tidak mengalami perubahan.

Kalangan filosof, pernah mengajukan pandangan, bahwa ‘kurikulum apapun, akan senantiasa tertinggal dan ketinggalan’. Hal itu terjadi, karena pada saat kurikulum disyahkan, lingkungan sekitar sekolah, lingkungan sekitar masyarakat, bangsa dan negara, sedang berubah dan malah terus berubah. Kurikulum akan senantiasa tertinggal. Terlebih lagi, bila kurikulum tersebut, tidak akan atau tidak mau berubah.

Hal yang memang perlu disiasati, adalah membangun kurikulum berskala makro dan berupa grand design  atau core curriculum, atau basic curriculum, yang bisa digunakan sebagai landasan pendidikan, tetapi relatif mampu bertahan dalam waktu yang panjang. Perubahan kurikulumnya,  lebih mengacu pada kompetensi-kompetensi fungsional (praktis) saja.

Sayangnya ide dan pemikiran seperti ini, mudah dituturkan, tetapi sulit diwujudkan. Karena, terhadap kurikulum itu sendiri, terlalu banyak kepentingan yang terlibat !

 

Pahami filosofinya

Sebagian diantara kita, dimungkinkan memiliki pandangan yang berbeda mengenai  kurikulum di maksud. Ada yang memosisikan Kurikulum 2013, sebagai sebuah harapan. Menilik apa yang diinginkan Pemerintah, dan atau perumus Kurikulum 2013, agenda kurikulum ini dililiti oleh harapan, yaitu harapan bisa memperbaiki kualitas lulusan pendidikan.

Muhammad Nuh, sebagai Mendikbud sempat mengatakan bahwa inspirasi kurikulum 2013, muncul saat menunaikan ibadah umrah 2006. Dalam pengakuannya, kurikulum 2013 itu, dilandasi oleh nilai Konsep itu adalah Tazkiyah (attitude), Tilawah (pengetahuan) dan Ta’alim (keterampilan).[3] Dengan konstruksi teoriik itu, setidaknya melalui kurikulum 2013, diharapkan lulusan  lembaga pendidikan di Indonesia, bukan saja mengetahui, tetapi mampu memilik kompetensi.

Di lain pihak, kurikulum 2013 diposisikan sebagai sebuah tantangan. Tantangan untuk menguji kemampuan dalam merespon perubahan-perubahan. Dalam kelompok ini punya keyakinan, sebagai guru kreatif, dan siap pakai, perubahan apapun, tidak akan menjadi masalah. Perubahan kurikulum seperti apapun, akan tetap diposisikan sebagai peluang untuk meningkatkan kemampuan diri.

Pernahkah mendengar kalimat, “saya mah belum makan, baru makan lontong tiga, dan surabi dua ?”

Apa yang ada dalam masalah pernyataan itu ? satu sisi, orang merasa ‘menang’ dengan pikiran esensialis. Kelompok ini akan mengatakan,  si penutur termasuk orang yang tidak bisa membedakan esensi.  Nasi, surabi dan lontong, sama-sama saja,  karbohidrat, dan sama-sama bisa mengeyangkan.  Pernyataan itu, lucu, lelucon, dan juga termasuk pada kelompok esensialis.

Tetapi, bagi mereka yang eksistensialis, akan melihatnya secara berbeda. Manusia sedunia punya kebutuhan untuk minum, dan barang konsumsi itu pastilah air. Tetapi, tidak semua orang merasa butuh air (H2O). Respon manusia itu ada yang minum aqua, almaksum, cocacola, Teh Botol atau yang lainnya. Mengapa itu terjadi ?

Istilah Hermawan Kartajaya, manusia bukan sekedar punya kebutuhan, tetapi keinginan. Butuh minum untuk menghilangkan dahaya, “ya”, tapi keinginannya memiliki sensasi kenikmatan akan membedakan perilaku orang dalam menentukan pilihan. Barang boleh sama, tatapi pengalaman hidup dalam menikmati sensasi minuman, adalah sesuatu yang berbeda.[4]

Entah sama atau tidak. Tetapi, hal yang ingin dikemukakan di sini, orang tidak akan merasakan nikmatnya sebuah makanan, kendati memiliki bahan serupa, bila tidak memiliki impian atau hasrat tertentu. Dengan kata lain, dibandingkan dengan Kurikulum KBK, atau Kurikulum KTSP, kita tidak akan merasa nikmatnya Kurikulum 2013, kita tidak akan merasa sensasi kurikulum 2013,  bila kita tidak memiliki pemahaman mengenai filosofi Surabi dibandingkan dengan Lontong atau nasi goreng ?

 

Mengapa ada yang Reaktif ?

Muncul pertanyaan, mengapa muncul keragaman reaksi atau respon guru terhadap hadirnya kurikulum baru ?  lebih ekstrim lagi, mengapa ada sikap reaktif, dan bahkan melakukan penolakan terhadap hadirnya kurikulum 2013 ini ?

Tidak mudah untuk menjawab pertanyaan seperti ini. Tetapi, sebagai sebuah hipotesis, dan juga sebuah wacana,  tidak salah bila kita mengajukan beberapa gagasan mengenai fenomena respon reaktif guru terhadap rencana pemberlakuan  Kurikulum 2013 tersebut.

Kita tidak mungkin, untuk menyebutkan bahwa sikap reaktif guru menunjukkan bahwa di lembaga pendidikan terdapat sekelompok orang yang anti perubahan, dan banyak pendukung kemapanan. Kita tidak mungkin mengatakan begitu. Andaipun memang, ada kelompok guru yang memiliki sikap antiperubahan, dan pro-kemapanan, maka hal itu akan menjadi indikasi rusaknya kultur edukatif dan nalar akademik di lembaga pendidikan tersebut.

Alex Inkeles, menyebut salah satu ciri dari  manusia modern adalah memiliki pikiran yang terbuka (open minded), dan siap dengan adanya perubahan.[5] Karakter ini, karena fakta sosiologisnya, bila kita tidak berubah, maka lingkunganlah yang akan berubah, dan memaksa kita untuk berubah.

Dengan demikian, apa yang terjadi pada orang yang reaktif dengan perubahan ?

Mereka mengatasnamakan kritis. Sehingga,  merasa perlu dan berkewajiban untuk memberikan kritik terhadap kebijakan kurikulum 2013 ini..

Kita kerap kali merasa kritis,

padahal tidak mau

Kita merasa lebih tahu masalah pendidikan di lapangan, padahal maksudnya tidak mau diatur

Merasa berpegang teguh pada idealisme, padahal tidak mau berubah

Ada juga yang memberi kritik, dengan maksud untuk memberikan koreksi jangan sampai kurikulum dijadikan projek. Projeknya para pejabat negara, dan yang berkepentingan dengan masalah anggaran negara.

Khusus untuk kasus yang terakhir ini, pada dasarnya bukanlah sebuah kritikan akademik, saya lebih suka menyebutnya sebagai sebuah kritikan politis. Artinya, di luar masalah politis, adakah rasionalisasinya dan pemahaman objektifnya dari kita mengenai pentingnya  kurikulum 2013? Tetapi, memang inilah, masalah besar. Kurikulum itu masalah akademik atau masalah politik ?

 

Penutup

Hal yang paling mengkhawatirkan, jika kita tidak  memahami hakikat sebuah perubahan, khususnya perubahan kurikulum,  implikasinya adalah tidak akan terjadi perubahan.

Tidak akan ada perubahan dalam diri kita, bila kita tidak merasakan ada tantangan, atau harapan baru terhadap sesuatu. seorang guru, yang merasa tidak ada hal baru dalam kurikulum, tidak akan terangsang untuk melakukan perubahan. Seorang guru yang merasa tidak ada tantangan baru dari kurikulum 2013, tidak akan ada hasrat untuk melakukan perubahan.

Bila semua hal itu terjadi, maka Kurikulum 2013, yang sejatinya dapat dijadikan  tantangan baru, malah akan menjadi tantangan kosong. Sejatinya, kurikulum 2013 itu menjadi harapan baru, malah menjadi harapan KOSONG. Lanjutan dari dampak ini, TIDAK AKAN ADA PERUBAHAN BERARTI PADA SATUAN PENDIIDKAN KHUSUSNYA, dan TIDAK AKAN ADA PERUBAHAN BERARTI PADA LAYANAN ENDIDIKAN DI INDONESIA, secara umum.

Mentalitas yang kerap muncul, Kurikulum Baru tapi mental Lama. Kurikulum Baru tapi kualitas kerja  masih berkinerja Lama. Dalam bahasa politik, itulah generasi baru dengan mental Lama.


[1] Materi ini disusun sebagai bagian sumbang pikir terhadap kegiatan Workshop di MAN 2 Kota Bandung, 11 Mei 2013, di MAN 2 Kota Bandung.

[2] Alex Moore, “Curriculum As Culture”, Schooling, Society and Curriculum. 2006. New York :  Routledge.

[4] Hermawan Kartajaya. 2006.Marketing in Venus. Jakarta : Gramedia.

[5] Tulisan Alex Inkeles, dapat dilihat pada Myron Weiner (ed). Modernisasi: dinamika pertumbuhan. Gadjah Mada University Press, 1977

Advertisements