Persoalan kita sekarang ini, apakah geografi adalah sebuah sains, atau sekedar pseudosains ?  akankah geografi itu disebut ilmiah, pseudoilmiah atau suprarasional, atau ada sebutan lain lagi ?

Filsafat memiliki banyak cabang, salah satu diantaranya adalah filsafat ilmu.  Cabang filsafat yang satu ini, mengkhususkan diri untuk mengkaji mengenai berbagia hal yan terkait dengan ilmu (sains) itu sendiri.  Artinya, bila kita menyebut geografi sebagai sebuah ilmu, maka kita dapat mengajukan pertanyaan, benarkan geografi itu sebagai sebuah ilmu ? apa ciri ilmu ? apa ciri ilmu pada geografi, atau apa buktinya, bahwa geografi itu benar-benar sebuah ilmu ?

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada informasi yang beragam. Banyak informasi yang ada kaitannya dengan geografi.  Masalah itu diajukan di forum ilmiah, dan kadang diiringi pula dengan permohonan untuk mendapatkan jawaban yang ilmiah.

Sejak awal tahun 2012, dunia digemparkan dengan berbagai  opini, pemberitaan dan termasuk juga kajian mengenai akan terjadinya kiamat 2012. Tanggal 21.12.12, akan terjadi kiamat.  Dugaan ini dikaitkan dengan hasil kajian mengenai adanya Planet “X”, atau planet Nibiru, yang konon juga sudah diketahui oleh NASA dari Amerika Serikat. Prediksi akan terjadinya kiamat ini, berawal dari pernyataan suku bangsa Maya, di kawasan Benua Amerika.

Pernyataan atau pandangan dari Suku Bangsa Maya, yang kemudian didukung oleh sejumlah opini dan pemberitaan dari berbagai kalangan, bukanlah kajian ilmiah, dan bukan  hasil dari kajian ilmiah. Opini disambung dengan opini, dan dilakukan rasionalisasi sehingga terlihat ‘ilmiah’. Untuk menguatkan keilmiahnya, diungkap pula mengenai potensi badai matahari di ujung tahun 2012, yang potensial menyebabkan kehancuran planet bumi khususnya, dan dunia pada umumnya. Para pendukungnya, berusaha meyakinkan, dengan berbagai sumberdaya yang mereka miliki. Pada kenyataannya, kiamat 2012, tidak terjadi.

Di sini ada masalah krusial yang kerap menjadi bahan bincangan banyak pihak. Masalah yang kita maksudkan itu adalah makna dari konsep ‘ilmu’ dan ‘science’ (sains). Istilah ilmu berasal dari bahasa Arab, artinya pengetahuan atau knowledge. Orang yang memiliki banyak pengetahuan disebutnya ilmuwan, atau ulama (bahasa Arab). Tetapi, maka ilmuwn atau ulama ini, bukanlah saintis (scienties).

Sains berbeda dengan ilmu.  Konsep sains mengacu pada kumpulan informasi hasil dari prosedur yang disepakati bersama dengan menggunakan metode-metode ilmiah (scientific methods).  Identitas keilmiahan (saintific) itu ditentukan oleh kedisipliannya dalam menggunakan metode sains. Artinya, sesuatu disebut sains, jika menggunakan metode atau prosedur sains (ilmiah), sedangkan yang tidak menggunakan pendekatan sains (ilmiah), bisa disebut juga  pseudosains.

Perlu dijelaskan di sini, istilah pseudo sains bukan berarti perlu diposisikan sebagai buruk.  Pengetahuan lokal (local knowledge), sebagaimana yang berkembang pada masyarakat tradisional, bukanlah pengetahuan ilmiah. Pengetahuan lokal, adalah pengetahuan alamiah, dan tumbuhkembang secara budaya, dan bukan hasil dari kerja ilmiah. Karena itu,  pengetahuan lokal belum seposisi dengan kaian ilmiah, atau ilmu-ilmu lain yang sudah mapan.

Michael Shermer (2002) yang menyebut dirinya sebagai bagian dari kelompok Skeptics Society, mengeluarkan majalah Skeptic magazine, dan juga ensiklopedia skeptik. Tahun 2002 lalu, dia mengedit buku yang diberi judul The Skeptic encyclopedia of pseudoscience, dan diterbitkan oleh ABC-CLIO, Inc. California. Dalam ensiklopedia itu, terdapat sejumlah informasi, atau kajian yang erat kaitannya dengan geografi, tetapi dimasukkan pada ensiklopedia ini. Bisa jadi, kita  mengambil posisi yang tidak selamanya sepaham dengan  apa yang dilakukan Michael Shermer, tetapi sebagai sebuah keberanian dan kajian profesional, Mihcael Shermer sudah bersikap  ilmiah dalam menyajikan informasinya. Di buku ini, terdapat tema-tema yang kerap muncul dalam geografi itu, yakni misteri Alien, Astrologi, Ball  lighting,  misteri segitiga bermuda,  Earthquake Prediction, Crop Cyrcle, UFO, kajian mengenai benua Atlantis, mengaitkan antara ras dengan IQ, atau mengaitkan ras dengan olahraga.[1]

Mengkaji masalah serupa itu, mau tidak mau, menyeret kita untuk menengok masalah filsafat ilmu. Untuk konteks ini,  ditemukan informasi mengenai klasifikasi ilmu. Max Scheller (1874-1928), misalnya, sebagaimana dikutip Endang Saefuddin Anshari,[2] merinci pengetahuan itu ke dalam enam kelompok, yaitu pengetauan teologis, pengetahuan filosofis, pengetahuan  tentang dunia lahir, pengetahuan tentang Yang Lain, baik kolektif maupun individual, pengetahuan teknis dan pengetahuan ilmiah. Sementara, Endang Saefuddin Anshari sendiri, menyebut pengetahuan menjadi empat kelompok, yaitu pengetahuan biasa, yaitu hal-hal keseharian, pengetahuan ilmiah yaitu yang dipandu dengan metode tertentu, pengetahuan filosofis, dan terakhir  yaitu metode theologis.

Memperhatikan pengelompokkan pengetahuan terrsebut, kita menemukan terdapat cukup banyak pengetahuan yang tidak dikategorikan sebagai sains (pengetahuan ilmiah).  Selain pengetahuan lokal, ada pengetahuan agama. Agama, bukanlah sains, dan memiliki epistemologinya sendiri, biasanya disebut epistemologi religius [3]  atau pengetahuan teologis,[4]  Ahmad Tafsir  menyebutnya pengetahuan yang suprarasional.[5] Di mana posisi pseudosains ?

Seth C. Kalichman melakukan kajian masalah HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome). AIDS adalah Human Immunodeficiency Virus.  Masalah HIV/AIDS bukan tanpa kontroversi. Kajian itu, menggunakan judul yang sangat provokatif, yaitu memosisikan masalah AIDS dalam peta antra tragedi manusia, teori konspiradi dan masalah pseudosains.  Dalam konteks itu, Seth C. Kalichman (2009:57) mengatakan : [6]

Simply put, pseudoscience –also known as fringe science or alternative science – masquerades as real science but because of its defects it is not science at all. The most important of these defects is its lack of thoughtful experimentation, the very foundation of science. Michael Shermer, noted author and skeptic of the extravagant claims of pseudoscience, defines it as claims that appear scientific even though they lack supporting evidence and plausibility. Pseudoscience does not advance, it does not move forward; there is no accumulation of knowledge. Pseudoscientific thinking relies instead on anecdotes, scientific-sounding language, bold statements without supporting evidence, and after the fact reasoning.

Berdasarkan  pandangan dari Seth C. Kalichman, tersebut, setidaknya dapat ditemukan informasi bahwa yang disebut Pseudosains adalah (a) merujuk pada klaim ilmiah, padahal belum dilakuakn eksperiman, (b) pernyataan-pernyataan yang disampaikannya kurang didukung bukti, (c) cenderung menjadi bahan pembicaraan atau anekdot, dan (d) oleh karena itu, pernyataan tersebut disebut pernyataan alternatif, dan belum ilmiah atau ilmiah semu pseudisains).

Persoalan kita sekarang ini, apakah geografi adalah sebuah sains, atau sekedar pseudosains ?  akankah geografi itu disebut ilmiah, pseudoilmiah atau suprarasional, atau ada sebutan lain lagi ?


[1] Michael Shermer. 2002. The Skeptic Encyclopedia of Pseudoscience.  California. : ABC-CLIO, Inc.

[2]  Endang  Saefuddin Anshari. Ilmu, Filsafat dan agama.  Jakarta : Bina Ilmu, 1983, Halm. 45-46

[3] Ahmad Hasan Ridwan dan Irfan Safrudin.2011. Dasar-Dasar Epistemologi Islam. Bandung : Pustaka Setia

[4]  Endang  Saefuddin Anshari. Ilmu, Filsafat dan agama.  Jakarta : Bina Ilmu, 1983, Halm. 45

[5] Ahmad Tafsir. 2012.  Filsafat Ilmu. Bandung :Rosyda Karya.   Pada karya ini, Ahmad Tafsir mengatakan bahwa perlu ada pembedaan antara rasional dan logis.  Sesuatu disebut rasional, katanya, bila berkesesuaian dengan hukum alam, sedangkan  sesuatu yang logis bila bisa dipahami. Pengetahuan logis, tidak selamanya rasional (sesuai hukum  alam), tetapi ada yang suprarasional. Lihat, pada halaman 12-18.

[6] Seth C. Kalichman. 2009.  Denying AIDS : Conspiracy Theories, Pseudoscience,  and Human Tragedy. New York : Springer Science‏Business Media, LLC

Advertisements