Untuk menjaga kekritisan kita, tepat bila di sini diajukan mengenai paradoks perubahan sosial di masyarakat. Dengan hadirnya media komunikasi, seperti media jejaring sosial, atau Tv, pada dasarnya sudah memberikan dampak pada perubahan sosial.  Perbedaan peradaban manusia, cenderung tampak sebagai dampak dari perbedaan aksesibilitas terhadap sumber informasi. Masyarakat yang dapat mengakses informasi, akan mampu  menunjukkan respon yang berbeda dengan mereka yang tidak dapat mengakses informasi.

Kendati demikian,  dapat dicatat  ada beberapa paradoks perubahan sosial yang ada di masyarakat. Pertama, paradoksia sosialitas. Dengan adanya media jejaring sosial, diduga setiap orang bisa berinteraksi dengan  orang lain tanpa batas, dan tanpa jarak. Hal ini dirasakannya sebagai sebuah kemajuan luar biasa dalam proses keluasan dan keluwesan interaksi. Tetapi pada saat yang sama, seorang anak bisa menjadi manusia cuek terhadap lingkungannya. Di rumahnya sendiri, seorang anak jauh lebih asyik  bermedia jejaring-sosial dibandingkan dengan  berkomunikasi dengan anggota keluarganya.

Kedua, media jejaring sosial mampu meningkatkan solidaritas sosial. Dengan adanya media sosial itu, seseorang bisa mempromosikan gagasan gerakan sosial kepada siapapun. Gerakan koin prita di Indonesia, gerakan selamat bumi (save our earth) dan gerakan sedekah-rombongan, merupakan gerakan sosial yang berbasis pada media jejaring sosial. Tetapi pada saat yang sama pula, media sosial  dijadikan sebagai media yang menyulut konflik sosial. Peristiwa kriminal dan konflik sosial, tidak jarang terjadi gara-gara  komunikasi di media jejaring sosial.

Ketiga, internet misalnya, adalah sumber informasi yang ragam dan melimpah. Di media ini, setiap orang bisa mencari dan mendapatkan informasi yang beragam dan kumplit. Tetapi tanpa ketelitian dan kecerdasan yang dimilikinya, seseorang akan terjebak pada informasi salah. Informasi di dunia maya, banyak kalangan menyebutnya ibarat tempat sampah, barang apapun ada. Informasi di media ini, ada yang baik dan buruk, ada yang benar dan ada yang salah, ada yang serius dan ada yang hiburan, ada fiksi dan nonfiksi. Ada informasi hasil rekayasa dan ada informasi yang disajikan seadanya.

Kealpaan kita menghadirkan sikap kritis dalam membaca informasi tentang sesuatu hal, akan menyebabkan kita terjebak pada persepsi yang tidak tepat. Sehubungan hal itu, manfaat media massa akan terasa lebih baik, sepanjang kita mampu menunjukkan sikap kritis terhadapnya.

Terakhir, dengan hadirnya media informasi seperti Tv atau internet, setiap  saat orang bisa mengakses informasi. Berita apapun, dan dari  belahan bumi manapun, bisa diakses dengan cepat. Hal ini mendorong keyakinan sebagian orang untuk mengatakan bahwa media informasi sebagaimana yang terjadi dan ada hari ini, meningkatkan keluasan wawasan seseorang. Hanya saja, dengan tingginya perubahan informasi, dan cepatnya perubahan informasi, secara filosofis manusia mengalami kekurangan waktu untuk melakukan refleksi.  Bahkan, dalam konteks itu, manusia tidak sempat  berfikir reflektif, yang ada hanya menerima informasi yang disajikan oleh media massa tersebut. Di sinilah, media informasi yang melimpah ini, mengalami paradoks pada sifatnya sendiri, satu sisi meluaskan wawasan dan pada sisi lain malahan mendangkalkan pemikiran.

Advertisements