Kreatif adalah hak individu. Memanfaatkan peluang, pun hak setiap orang.  Tetapi, jika kreasi menyentuh sensitivitas budaya orang lain, maka apa jadinya ? perhatikan kasus yang terjadi dengan anak SMAN 2 Toli-toli Sulawesi Tengah. berharap untung malah buntung. Maksudnya kreasi malah mendapat sanksi !

Apa yang terjadi pada remaja Islam ? itu adalah salah satu pertanyaan yang diajukan komentator terhadap munculnya video remaja SMA di Tolitoli. Dalam video itu tertayangkan, sekelompok orang, dalam ruang kelas, tengah melakukan tarian (mungkin maksudnya tarian kreatif) dengan musik khusus.  Di sela-sela tarian itu, muncul gerakan dan lantunan ucapan-ucapan shalat, sebagaimana yang dilakukan oleh umat Islam.

Melihat gelagat seperti itu, pertanyaan awal tadi muncul ? apa yang sedang terjadi pada kalangan remaja kita ?

Ada banyak perspektif yang bisa digunakan untuk memahamai masalah ini. Kalangan antropolog, akan berujar, perlu adanya kajian mengenai budaya mereka, budaya anak remaja di daerah tersebut. Antropologi tidak memiliki kewenangan untuk menghukumi salah atau keliru terhadap praktek budaya orang lain, walaupun mungkin mirip  atau serupa dengan gerakan atau ucapan kita. Perhatikan saja, ucapan ‘momok’ di Sunda, dan kata ‘momok’ dalam bahasa indonesia ! siapa yang melanggar etika atau norma aturan ?

Pandangan kedua, bisa dilihat dari sisi trend komunikasi. Selama ini, memang sudah banyak yang populer gara-gara video unik melalui Youtube. Kejadian terakhir yang fenomenal, adalah munculnya pedagang asongan dari Subang, Tegar. Pedagang asongan cilik dengan suara istimewa itu, kemudian mencuat dan populer, juga melalui You Tube.   Kasus sebelumnya, kita masih ingat  tentang Norman Kamaru dengan tarian Sakhru Khan, Sinta dan Jojo dengan Keong Racunnya, dan termasuk Justin Bieber yang manggung di Youtube tahun 2007-an. Semua itu, adalah sejumlah orang yang pernah menikmati demam youtube.

Daya tarik inilah, yang menjadi bagian penting dari proses komunikasi dan budaya saat ini. Setidaknya dari sudut pandang ini, ada dua aspek yang menjadi titik pemahaman kita, pertama, pentingnya keunikan, dan kedua adalah daya tarik youtube. Dalam konteks itu pula, maka kemunculan video itu pun, tidak lebih dari sekedar ‘nyoba-keberuntungan’.

Terakhir, kita bisa melihatnya dari sisi psikologis. Kebiasaan mencoba hal unik, dan berbeda, menjadi bagian tak terpisahkan dari kalangan remaja kita. Mereka melakukan sesuatu, kadang lebih sekedar sebagai upaya mencoba. Bisa jadi, termasuk dalam kasus yang serupa ini.

Hanya kebetulan, beberapa saat sebelumnya, ada sebuah buku yang berjudul Islam Yang Teramati (Islam Observer) karya Clifford Geertz.  Buku yang ditulis tahun 1968, oleh pakar antropolog, dan juga pakar Indonesia ini, menyajika tema budaya Islam di dua negara. Dalam satu babnya, Geertz mengatakan bahwa ada dua negara dengan dua budaya, walaupun keduanya dihuni oleh warga negara beragama Islam. Menyimak argumentasi seperti ini, saya malah bertanya, bagaimana jika diturunkan dalam konteks Indonesia, atau konteks yang lebih lokal, bisa jadi di negeri ini yang memiliki  34 propinsi, dengan 34 budaya juga, termasuk juga karakter agamanya ?

Apa yang sedang terjadi pada anak remaja kita di ujung Indonesia sana ? bagaimana budaya beragama pada remaja di ujung Indonesia sana ? apakah, gejala itu adalah kreativitas yang menyentuh sensitivitas nilai budaya orang lain ?

di bagian inilah, kreasi adalah hak individu. Memanfaatkan adalah hak setiap orang. tetapi, saat kerasi dan produk kreasi itu menyentuh sensitivitas budaya orang lain,  maka alih-alih dapat untung, malah buntung, alih-alih berkreasi malah mendapat sanksi….

Advertisements