Pejabat yang suka melakukan pembocoran soal, baik itu ditingkat sekolah maupun pemerintahan, pasti merasa terteror. Mereka tidak bisa berbuat banyak ! oleh karena itu, para guru, yang selama ini, idealis, atau mau jujur, tetapi tidak berdaya dengan paksaan pejabat, mestinya bersyukur dengan sistem seperti ini !? gimana ?

Bingung dan tidak mengerti terhadap komentar para guru. Katanya, UN seringkali bocor. Tapi, pada saat Pemerintah memberikan pengetatana dan pengamanan yang prima, disebutnya berlebihan. Kalau, pengamanan kurang sempurna, disebutnya tidak serius.

Ada juga yang mengatakan, bahwa dengan pengamanan yang super ketat seperti kali ini, menunjukkan bahwa pemerintah tidak percaya pada guru. Benarkah pernyataan itu ? bisa jadi ya, bisa jadi tidak.

Persoalannya akan menjadi sederhana. Bila guru merasa sudah bisa jujur, maka pernyataan itu benar. Dengan pengamanan yang super ketat, adalah bentuk ketidakpercayaan pemerintah terhadap guru. Tetapi, bisa jadi pemerintah pun, bisa membalikkan pernyataan awalnya, bukankah selama ini sudah diserahkan kepada guru, dan ternyata malah kebocoran itu terus terjadi ?

Guru di lapangan bisa berkilah. Bahwa pelaku pembocor UN  bukanlah guru di lapangan. Guru di lapangan hampir tidak berperan apa-apa. Atau kalau pun ada yang berperan, tingkat kelakuannya tidak terlalu besar. Karena guru pun kadang karena merasa terpaksa. Entah siapa yang memaksanya. Intinya, guru bukan pelaku utama.

Bila memang guru bukan pelaku utama, dan bila guru selama ini, merasa terpaksa, dan bahkan tidak pernah melakukan tindak kriminal dalam konteks Ujian Nasional, maka mengapa dengan sistem pengamanan yang ketat seperti kali ini, guru malah merasa terteror ?

Bila guru merasa terteror, ada banyak kemungkinan yang terjadi dalam situasi seperti ini. Pertama, yang  merasa terteror besar adalah mereka yang terbiasa dengan tindak kriminal pendidikan, yaitu pelaku pembocor soal. Kedua, orang yang  merasa terteror adalah orang yang semula terbiasa dengan bebas dan leluasa. Apapun artinya. Sehingga dengan sistem pengamanan yang ketat seperti ini, mereka merasa terteror. Begitu pula  sebaliknya, bagi mereka yang terbiasa terbuka, maka pengamanan yang ketat adalah alat bantu bagi dirinya dalam melaksanakan tugas negara ini.

Seorang teman bergumam, menjadi pengawas kali ini, jauh lebih mudah dan ringan. Pihak pengawas independen yang mengambil dan mengembalikan soal dan LJK. Pengawas umum sendiri, bersantai ria. Pengamanan malam, dilakukan oleh pihak keamanan, pihak sekolah jauh lebih nyaman. Oleh karena itu, pelaksanaan UN kali ini, jauh lebih mudah dan meringankan guru.

Pejabat yang suka melakukan pembocoran soal, baik itu ditingkat sekolah maupun pemerintahan, pasti merasa terteror. Mereka tidak bisa berbuat banyak ! oleh karena itu, para guru, yang selama ini, idealis, atau mau jujur, tetapi tidak berdaya dengan paksaan pejabat, mestinya bersyukur dengan sistem seperti ini !? gimana ?

curhatan ini saya maksudkan, jangan sampai, keluhan guru yang jujur, menyebabkan pemerintah menyerahkan kembali pelaksanaan UN kepada sistem masa lalu, yang membuat guru banyak tidak berdaya menolak perintah atau ajakan pihak tertentu. Berbahagialah, dengan sistem ini, guru dibantu untuk bisa berdaya melawan sistem yang selama ini memperdayanya…

Advertisements