Ciri utama dari keberhasilan pendidikan sebagai bagian dari peningkatan kualitas hidup, yaitu hadirnya kebahagiaan menjalankan profesi, dan kebahagiaan memberikan pelayanan terbaik kepada peserta didik. Hemat kata, melalui peningkatan kesejahteraan, diharapkan berpengaruh pada meningkatkan gairah untuk belajar, dan kemudian semangat untuk mendongkrak kualitas pelayanan pendidikan di satuan pendidikannya masing-masing.

Ada fenomena unik di lingkungan pendidikan. Selepas, pencairan dana sertifikasi, banyak guru (untuk sekedar menyebut lebih dari satu) yang mendadak bersemangat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Bukan sekedar mereka yang sudah cair, bagi mereka yang baru dinyatakan lulus pun (catat : tunjangannya belum cair) banyak yang sudah mendaftar ke perguruan tinggi.

Kebanyakan perguruan tinggi yang mendapat limpahan guru yang melanjutkan ini, yaitu perguruan tinggi pendidikan atau LPTK (Lembaga Pendidik Tenaga kependidikan), seperti UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), UN (Universitas Negeri), UIN Universitas Islam Negeri atau perguruan tinggi swasta lainnya. Pilihan lembaga pendidikan itu, sudah tentu, selain sebagai pilihan yang diminatinya, juga konsisten atau sesuai dengan ijazah sertifikasi profesi yang dimilikinya.

Sekali lagi fenomena ini unik dan menarik. Unik karena, sebelum adanya tunjangan sertifikasi, sangat jarang minat guru untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Strata 2. Hanya mereka yang memiliki modal besar dan/atau semangat belajar tinggi, yang berada di kursi pendidikan itu. Hal itu pun, kadang menjadi bagian pertanyaan di bangku kuliah, kalau ada seorang guru yang melanjutkan pendidikan. Mirip pengalaman seorang rekan, yang sempat ditanya oleh rekan sekelasnya, karena dirinya bisa duduk di bangku S-3, padahal dirinya bertugas di sebuah SMP di Jawa Barat.

Kita semua berharap, melanjutkan pendidikan ke jenjang S-2 atau S-3 ini, bukan sebuah gaya hidup. Ini hal penting yang harus dicermati dengan baik. Melanjutkan pendidikan bukan sekedar gaya hidup. Pendidikan sebagai gaya hidup, tidak akan mampu mendongkrak pelayanan pendidikan, termasuk tidak akan mampu meningkatkan kualitas siswa maupun kualitas dirinya sendir

Bila dicermati dengan baik, pemposisian pendidikan sebagai gaya hidup sudah muncul di negeri ini. untuk sekedar contoh, seorang anak memaksa orangtuanya untuk bisa mendaftar ke sebuah sekolah favorit. Tanpa memperhatikan SKHUN (Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional) dia memaksa orangtuanya untuk daftar pada SMP/MTs atau SMA/MA/SMK yang diinginkannya. Anak tidak peduli dengan kemampuan dirinya, dan orangtua pun tidak peduli dengan biaya yang harus dikeluarkannya. Hal terpenting bagi mereka, anaknya terdaftar di sebuah sekolah favorit di kotanya.

Retorika orangtuanya menyekolahkan ke sekolah favorit itu (yang dieksplisitkan orangtua) yaitu untuk meningkatkan kualitas anak. Namun, dibalik itu semua, ada tujuan implicit (laten) dari diri orangtua dan anaknya tersebut, yaitu meraih status social atau gengsi social yang maksimal. Karena, bila dirinya diterima di sekolah favorit tersebut, dirinya akan mendapatkan citra sebagai orang pintar (sisi intelektual), atau orang mampu (dari sisi ekonomi). Kemudian, bila kita tidak memiliki kedua modal social tadi, maka nasibnya sangat jelas, yakni masuk ke sebuah sekolah yang ‘biasa-biasa’ saja. Dalam kasus itulah, sekolah diposisikan sekedar gaya hidup.

Implikasi lanjutan dari sekolah/pendidikan sebagai gaya hidup, sangat jelas, selain tidak mendongkrak kualitas diri dan kualitas pelayanan kepada anak didik, juga akan menyumbang kualitas hidup masyarakat di sekitarnya. Karena, ketika lahir generasi muda usia, serta berijazah tinggi, namun tidak mengalami perubahan kualitas diri, maka individu-individu tersebut akan menyumbang terjadinya proses overedukasi.

Overedukasi yang kita maksudkan yaitu kondisi social yang menunjukkan adanya kelebihan individu yang berpendidikan tinggi, sementara lapangan kerja semakin sempit dan kualitas diri yang minim. Dampak dari ketidakseimbangan ini, yaitu warga terdidik itu akan berada pada posisi yang sulit. Kompetisi untuk mendapatkan lapangan kerja semakin tinggi, sedangkan peluang terus mengecil.

Ujung dari ketidakseimbangan ini, yaitu (a) munculnya pengangguran intelektual, (b) mismatch antara ijazah dengan jenis pekerjaan yang digeluti, dan (c) semakin rendahnya nilai ijazah, sehingga mereka “mau” bekerja pada satu jenis pekerjaan tertentu, yang tidak memiliki kompensasi (gaji) setara dengan ijazah yang dimilikinya.

Minimnya lapangan kerja ini, dapat dimaknai dalam dua pengertian, yaitu tidak ada lapangan kerja (sudah penuh), dan atau tidak ada lapangan kerja yang sesuai dengan jenjang pendidikan yang dimiliki si pelamar. Seorang sahabat, dengan gelas Doktor harus dipusingkan mencari lapangan kerja, karena ternyata jurusannya tidak dibutuhkan oleh lembaga pendidikan tertentu. Akhirnya, dia pindah haluan melamar ke instansi pemerintahan yang lainnya.

Overedukasi ditandai oleh menurunnya penghargaan masyarakat atau pengguna jasa (user) terhadap ijazah. Hal itu, bukan saja karena si pelamar terpaksa untuk menerima pekerjaan itu, dan atau si pelamar tidak menggunakan ijazah tertingginya (misalnya hanya menggunakan ijazah SMA) demi mendapatkan pekerjaan, demi menyambung hidup diri dan keluarganya. Inilah realitas overedukasi.

Ancaman lahirnya situasi overedukasi itu akan semakin kentara di lingkungan kita. Setidaknya, bila diperhatikan beberapa indikasi social yang ada di lingkungan masyarakat saat ini.

Pertama, ijazah tidak mencerminkan tingkat kesejahteraan. Ijazah bukanlah instrument untuk meningkatkan upah (secara ekonomi). Tidak ada hukum yang mengharuskan bahwa seorang yang lulus SMA atau Sarjana, harus memiliki tingkat kesejahteraan tertentu. Karena kesejahteraan lebih disebabkan oleh kinerja. Ini fakta sosialnya. Dengan demikian, Dan S Kennedy (2008) bahwa kesejahteraan tidak ada relevansinya dengan gelar pendidikan. Puncak karir dalam bekerja tidak ada kaitannya dengan jenjang pendidikan. Inilah mitos kehidupan yang perlu dicermati dengan seksama.

Pendidikan penting. Tetapi tidak boleh diartikan bahwa ada korelasi positif (hubungan langsung) antara ijazah dengan perjalanan karir (tingkat kesejahteraan). Karena pendidikan itu sendiri, lebih memainkan peran sebagai pendewasaan terhadap diri kita dalam mensikapi hidup dan kehidupan. Sementara untuk menjadi dewasa, banyak jalannya, pendidikan hanya salah satu menjadi hidup lebih berkualitas atau lebih dewasan.

Kedua, ijazah pun tidak ada kaitannya dengan produktivitas atau intelektualitas. Sewaktu kuliah, mungkin kita pernah (untuk tidak menyebut “tidak”) bertemu dengan dosen bergelar doctor atau professor. Namun, ketika bertanya mengenai karya tulis kedua tokoh tersebut, kita akan mengalami kesulitan yang sangat. Dosen-dosen kita, hamper dapat dikatakan masih pada malas menuliskan pemikirannya. Mungkin benar, jika dikatakan bahwa mereka itu pintar atau cerdas. Namun kecerdasan yang tidak ditunjukkan dalam bentuk karya tulis, menjadi sebuah “dongeng belaka”.

Gelar akademik tidak memiliki dampak langsung terhadap produktivitas kerja seseorang sebagai seorang ilmuwan atau akademisi. Ini adalah hukum social di masyarakat overedukasi. Gelar akademik lebih berperan sebagai portofolio (dokumen tambahan) untuk kenaikan pangkat dan golongan, dan bukan kepada pelecut produktivitas kemampuan.

Terakhir, dan ini yang perlu mendapat perhatian banyak pihak, yaitu tidak ada kaitan antara peningkatan gelar akademik dengan kuailtas pelayanan pendidikan. Ada pemeo, orang pintar itu kadang hanya pintar sendiri atau pintar di laboratorium, sedangkan bila berhadapan dengan anak didik (apalagi untuk tingkat SMP dan SMA), banyak mengalami hambatan. Para siswa, kadang bertutur bahwa cara ngajar orang pintar itu sulit dipahami. Terlalu tinggi, katanya. Entah apa yang dimaksudkannya.

Kendati penulis melakukan uji riset terhadap apa yang dituturkan ini, namun penulis merasa yakin bahwa semua hal itu (tiga poin) benar-benar akan menjadi sebuah kenyataan, manakala para guru yang melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi itu, hanya didorong oleh keinginan untuk mendapatkan gelar, dan atau mempercepat pangkat dan golongan. Dengan kata lain pula, kita semua berharap, bahwa melanjutkan sekolah itu, bukan sekedar gaya hidup, tetapi perlu diarahkan untuk peningkatan kualitas hidup. Kualitas diri, sehingga dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada peserta didik dan masyarakat, sehingga pada akhirnya terjadi peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Ciri utama dari keberhasilan pendidikan sebagai bagian dari peningkatan kualitas hidup, yaitu hadirnya kebahagiaan menjalankan profesi, dan kebahagiaan memberikan pelayanan terbaik kepada peserta didik. Hemat kata, melalui peningkatan kesejahteraan, diharapkan berpengaruh pada meningkatkan gairah untuk belajar, dan kemudian semangat untuk mendongkrak kualitas pelayanan pendidikan di satuan pendidikannya masing-masing.

Advertisements