“ini, daun-daunan yang berkhasiat bagi kesehatan…”tutur Pak Mumu Mubarak. Guru Matematika, yang berasal dari Tasikmalaya. Senior yang satu ini, memang patut diacungi jempol. Bukan saja supel di perumahannya, sehingga mendapat kepercayaan menjadi RT yang amanah, juga memiliki pengetahuan yang luas mengenai jenis tanaman, yang memiliki khasiat obat. Bapak, dua orang anak ini, memiliki pengetahuan yang cukup mumpuni mengenai sejumlah tanaman obat, seperti pecah beling, temulawak,  handeuluem, jahe, dan sambiloto.

Memang, bagi masyarakat umum, istilah pengobatan tradisional sudah biasa. Kalau di Kampung, beberapa jenis tanaman, atau bagian dari tanaman itu, biasa digunakan untuk obat-obatan. Meminjam istilah kerennya, mungkin itulah yang disebut obat farmasi yang alamiah (natural pharmacy). Bukan saja, sumbernya ada di alam, tetapi efeknya pun, memang sudah bisa di’alami. Walaupun tidak tokcer seperti obat-farmasi-kimiawi, tetapi khasiatnya sangat mudah dirasakan. Sehingga, wajar bila masyarakat desa pada umumnya masih memanfaatkan khasiat dari tanaman obat (medicinal plant) tersebut.

Bagaimana orang geografi memandang  hal ini ? saya  hanya ingin mengatakan, salah satu kebutuhan mendesak bagi kita ini, adalah memetakan sebaran tanaman obat. Inilah yang belum banyak dilakukan oleh kalangan geograf. Kalangan geograf, selama ini, lebih banyak berkutat dalam aspek fisik, dan atau geografi sosial seperti ekonomi, pertania dan politik. Sementara untuk aspek geografi kesehatan, belum banyak mendapat sentuhan. Padahal, bidang kajian ini pun memiliki materi riset yang menarik.

Sekedar pengalaman, di tahun 2007,saat melakukan kajian mengenai layanan pengobatan tradisional di Kota Bandung, dengan kajian dari aspek sosiologi, saya mengalami kesulitan untuk menemukan referensi. Kajian mengenai hal itu, mungkin sudah banyak. Mungkin. Tetapi, kajian ilmiah yang dipublikasikan di Indonesia masih sangat terbatas. Terlebih lagi, kajian-kajian yang dipublikasikan umum.

Banyak buku mengenai pengobatan alternatif, tetapi sifatnya hanya tulisan dari pelaku, atau penjelasan umum dengan gaya tulisan populer, dan bukan kajian intensif mengenai hal itu. Untuk kepentingan pembelajaran sosiologi kesehatan, penggalan kajian mengenai pengobatan alternatif, sudah saya tuliskan pada Sosiologi Untuk Kesehatan.

Namun, terkhusus mengenai sebaran obat tradisional di Indonesia, belum menemukanya. Oleh karena itu, praktisi geografi saat ini, setidaknya untuk kepentingan akademik, memiliki tanggungjawab moral untuk memperhatikan aspek yang satu ini, yakni membuat peta sebaran tanaman obat di Indonesia.

Advertisements