Kiranya, mungkin itu pulalah, makna lain dari carilah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina. Arti sempitnya, carilah ilmu walaupun sampai ke sekolah Cina ! bahkan, pengalaman ini pun, menunjukkan bahwa ilmu-kesadaran-diri, tidak selamanya didapat di sekolah Ibu Kota, di Garut pun saya mendapatkan ilmu-kesadaran-diri yang baik !

“Enak juga ya tinggal di sini…?” sahut teman, yang duduk di sampingku di selasaran masjid. Saat itu, kami tengah beristirahat. Menunggu redanya hujan.  Sudah ada sejumlah puluhan menit kami abaikan, hanya untuk menunggu reda. Hujan tidak terlalu besar.rintik-rintik. Tetapi sudah pasti, membuat pakaian siapapun akan kuyup dibuatnya. Sehingga, daripada kuyup gak karuan, dan membuat dingin disekujur tubuh,  banyak orang yang  mengambil posisi untuk menantu hujan reda, dengan duduk-duduk beristirahat di Masjid Besar Al-Musaddadiyah Kabupaten Garut.

“betul.” Jawabku, “tempat ini, indah…”. timpalku terhadap rasa kekaguman sahabatku yang satu ini. Saya pun cukup merasakan nyaman tinggal di sini. Di depan Masjid, di lingkungan pendidikan, dan sedang ada kegiatan. Sejatinya, kami tidak bermaksud singgah di masjid. Karena waktu itu pun, hanya untuk beribadah selepas memenuhi undangan sahabat kami yang menikahkan putranya. Dengan sendirinya, tinggal di selarasan Masjid ini, lebih merupakan keterjebakanselepas shalat, oleh hujan yang turun saat itu.

Halaman bersih. Gedung megah. Suasana indah. Nama pesantren, tokoh, dan nama lembaga ini, sudah tidak asing lagi di telinga kami. Bagi mereka yang terbiasa mengkaji sejarah pendidikan Indonesia, atau sejarah politik Indonesia,  terlebih  lagi adalah masalah gerakan Islam di Indonesia, kemungkinan besar mengenal Prof. KH. Anwar Musaddad.

Alasan itu pulalah, kemudian satu diantara rekan kami ada yang menuturkan mengenai penggalan sejarah tokoh agama yang satu ini. Mulai dari aktivitas beliau sebagai tokoh agama, rekan berhajinya Presiden Soekarno, politisi dan juga penggiat pendidikan agama di Kabupaten Garut, serta aktivis Organisasi Nahdhatul Ulama.

Seingat saya, kenalan pertama dengan nama ini,  terjadi saat membaca nama beliau pada sebuah Kata Pengantar Al-Qur’an dan Terjemahnya, yang dikeluarkan oleh Departemen Agama Republik Indonesia (1982). Di lembaran awal buku itu, ada penjelasan mengenai Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an. Di Kata Pengantar itu, diterakan sejumlah tokoh, seperti Prof. TM. Hasbi Ashshiddiqi, dan DR. H.A. Mukti Ali, termasuk KH. Anwar Musaddad yang menjadi orang yang berjasa dalam membuka, mempelopori, dan melayani penerjemahan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Indonesia, khususnya yang dikelola Pemerintah Republik Indonesia saat itu. Beliau pun adalah salah seorang pendiri UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan juga Rektor UIN (1967-1974).

Ada hal yang menarik, dari perjalanan pendidikan beliau. Di ujung kehidupannya, beliau adalah tokoh Muslim, politisi, dan pendidik yang sangat mumpuni. Lahir di Garut 3 April 1909. Selepas menamatkan pendidikan di Volk School tahun 1922, Beliau melanjutkan ke MULO (setingkat SMP) Kristelijk di Garut, lalu ke AMS (setingkat SMA) Kristelijk di Sukabumi. Setelah menamatkan pendidikan pendidikan di sekolah Katolik tersebut, ia melanjutkan ke Pesantren Darussalam Wanaraja, Garut. Mondok selama 2 tahun,  kemudian berangkat ke Tanah Suci Makkah dan belajar di Madrasah Al-Falah selama 11 tahun.

Satu diantara diantara pelajaran penting dari peneggalan sejaraha KH. Anwar Musaddad adalah belajar dan mencari pengetahuan itu, tidak pilih tempat. Belaiu sudah menunjukkan diri, bahwa mencari ilmu bisa dilakukan dimanapun. Pada saat itu, pesantren sudah banyak hadir di Indonesia. Pondok Pesantren Tebuireng didirikan oleh Kyai Hasyim Asy’ari pada tahun 1899 M. Kemudian, Pada tahun 1908 atau tiga tahun setelah berdirinya Pondok Pesantren Suryalaya, Abah Sepuh mendapatkan khirqoh (legitimasi penguatan sebagai guru mursyid) dari Syaikh Tholhah bin Talabudin. Dan Masih banyak lagi. Tetapi, perjalanan pendidikan KH. A. Musaddad, ternyata tidak melulu belajar agama di pesantren.

Melihat sejarah hidupnya, beliau sempat belajar di sekolah umum, sekolah non-Islam (khususnya Kristen Katolik), maupun ke pesantren.  Hal ini menunjukkan, sikap egaliter dalam belajar, dan sikap terbuka dalam mencari ilmu. Mungkin jadi, itulah yang menjadi contoh nyata, contoh intelek dari sikap pepatah, Imam Ali bin Abi Thalib kw.,  yang mengatakan, ilmu itu adalah keledari yang liar, siapapun dan dimanapun kamu berada, berhak untuk meraihnya.

Kiranya, mungkin itu pulalah, makna lain dari carilah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina. Arti sempitnya, carilah ilmu walaupun sampai ke sekolah Cina !

Kesadaran lainnya, makna dari “carilah ilmu walau sampai ke negeri cina” menunjukkan pentingnya sikap terbuka, tidak boleh fanatik. Dimanapun ilmu, tetaplah ilmu, dan kita perlu belajar dan mempelajarinya.

Bahkan, pengalaman ini pun, menyadarkan diri ini bahwa kesadaran, penyadaran, dan ketersadaran diri,  tidak selamanya didapat di sekolah-sekolah Ibu Kota, di Garut pun saya mendapatkan ilmu-kesadaran-diri yang baik !

sadar, bahwa ilmu itu luas, maka tidak ada waktu untuk berhenti mempelajarinya

ilmu itu liar, maka butuh kesungguhan untuk mengikatnya

bahwa ilmu itu ada dimana-mana, dibutuhkan ketelatenan untuk mendapatkannya, dimanapun kita berada !

Advertisements