Istilah guru spiritual marak di kota besar.  Mereka banyak dimanfaatkan oleh orang kelas menengah – atas. Sementara orang desa, bila berkonsultasi masalah agama, akan lari ke guru agama. Masalahnya, siapa yang salah, bila kita, tahu-tahu, berguru kepada guru spiritual yang kemudian ternyata adalah bukan guru agama ?

Kasus yang sedang dibicarakan orang saat ini, yaitu konflik Adi Bing Slamet dengan Eyang Subur, atau antara mantan murid-guru spiritualnya, memancing kita untuk memikirkan kembali makna guru spiritual. Mau tidak mau, mendengar, membaca, dan membicarkaan masalah ini, kita terpancing untuk membicarakan makna “spiritual” dalam konteks guru spiritual.

Adalah Danah Zohan dan Ian Marshal, yang sudah mempublikasikan karya ilmiahnya dengan menggunakan memanfaatkan istilah spiritual. Kedua psikolog modern ini, membuat karya ilmiah dengan judul, Spiritual Intelligence. Kehadiran buku ini, satu sisi memberikan gairah baru bagi kalangan pendidik, dan psikolog. Dan pada sisi lain, membangkitkan kembali keyakinan kalangan agama mengenai pentingnya aspek spiriulitas. Bahkan, ada juga yang memanfaatkan kajian ini sebagai dalil untuk mengukuhkan bahwa kapitalisme sekarang ini, modernisme sekarang ini, telah melahirkan kekosongan spiritual, dan marginalisasi  kemanusiaan. Kondisi ini, kemudian menuntunnya manusia modern kembali ke spiritual.

Kendati demikian, apakah istilah spiritual itu, mengacu pada masalah agama ? apakah seorang guru spiritual, sebagaimana yang seringkali dijadikan rujukan kalangan selebritis atau politisi adalah guru agama ?

Pertama, ada yang mengartikan spiritualitas (spirituality) secara kelembagaan. Rujukan yang digunakannya, yaitu mengacu pada spiritualitas agama, seperti Islam, Hindu, Budha atau pun lembaga ‘keagamaan’ lainnya. Oleh karena itu, guru spiritual dalam konteks ini, adalah guru agama.

Kedua, spiritualitas tidak ada kaitannya dengan agama. Perkembangan pemikiran memberikan pengaruh terhadap makna spiritual. Dalam kaitan ini, “spiritual yes, religion, NO”.  Zohar dan Marshall (2000:8) menegaskan bahwa yang dimaksud dengan  kecerdasan spiritual itu bukan agama, dan istilah spiritualnya itu sendiri, tidak ada kaitan dengan lembaga agama (religion). Bagi masyarakat modern, khususnya di Barat, kesadaran dan pemahaman mengenai pentingnya spiritual yang cukup kuat, tetapi mereka ‘keukeuh’ menegaskan bahwa “spiritual Yes, religion, No”.

Bila demikian adanya, guru spiritual dapat dikatakan sebagai orang yang berbeda dengan guru agama. Guru spiritual adalah guru spiritual, dan bukan guru agama, dan karna itu pula, bisa jadi, tidak perlu sebagai penganut agama, walaupun mungkin paham agama.

Terakhir, ada yang jauh lebih cair lagi mengartikan spiritualitas. Spiritualitas diangkat dari makna “spirit”, yang bisa mengandung makna ‘jiwa’, atau ruh, atau semangat. Dengan kesadaran dan keyakinan ini, maka spiritualitas itu adalah yang berkaitan dengan masalah psikologis, dan atau kejiwaan, dan tidak ada kaitannya dengan agama. Untuk kategori ketiga ini, dukun, atau pelaku kebathinan dapat disebut sebagai guru spiritual.  Orang yang percapa pada kebathinan atau kejawen bisa dikelompokkan pada kategori ketiga ini.

Sehubungan hal ini, kita dapat melihat bahwa konsep spiritual sangat cair. Kebutuhan kita, (a) jangan terkecoh dengan isilah guru spiritual, (b) kita perlu memanfaatkannya secara proporsional. Sebab, bisa jadi Guru spiritual bisa paham agama, tetapi bukan penganut agama formal.  Begitu pula sebaliknya, ada guru agama, yang tidak mau disbeut sebagai guru spiritual, mereka tetap sebagai guru agama atau guru kerokhanian.

Istilah guru spiritual, khusus di Indonesia, lebih banyak digunakan oleh orang kota, atau kelas menengah-atas.  Selebritis, dan politisi atau pejabat adalah orang-orang yang rajin memanfaatkan jasa guru spiritual. Sementara ahli agama, atau pelaku kebathinan, termasuk dukun, adalah istilah yang populer di masyarakat desa.  Orang desa atau kelas menengah bawah, akan menjadikan guru agama sebagai tempat konsultasi  .

Persoalannya, dengan adanya arus urbanisasi dan migrasi, ternyata orang bisa pindah tempat dan status sosial. Nama, gelar dan atau istilah pun bisa beralih. Semua itu memgalami mutasi, dan atau migrasi.  Guru agama ada yang beralih profesi menjadi guru spiriual, ahli kebathinan  atau dukun pun ada yang beralih nama menjadi spiriual

Masalahnya, siapa yang salah, bila kita, tahu-tahu, berguru kepada guru spiritual yang kemudian ternyata adalah bukan guru agama ?

Advertisements