Berdasarkan pengalaman itu, tunjuklah diri sendiri untuk memanfaatkan peluang, karena dengan cara itulah, jalan menuju sukses akan semakin terbuka ?! semakin sering kita menunjuk orang lain, semakin kita jauh kita tertinggal ! selama kita tidak pernah menunjuk diri untuk unjuk kemampuan, selama itu pula kita tidak akan tahu, kemampuan kita yang sesungguhnya, dan kita akan tetap terlelap dalam ketertinggalan.

Bagi seorang guru atau dosen, bisa jadi sering menyaksikan tingkah peserta didiknya yang saling tunjuk. “Ahmad, pa…?”, “dia, bu…”, “Sinta, Pa…?”, “gak mau, fifih aja bu…”. begitulah hiruk pikuk, saring tunjuk antar peserta di kelas.  Mereka saling tunjuk dan kadang diselingi dengan canda tawa. Entah serius, entah bergurau. Tetapi, tradisi saling tunjuk itu,  kerap kali hadir di hadapan mata kita, dalam ruang kelas, pada saat kita sedang menjalani profesi sebagai pendidik.

Fenomena ini memang wajar terjadi. Alamiah. Setidaknya, merupakan fenomena pendidikan yang kerap kita lihat, rasakan, dan alami sendiri.  Peristiwa itu, umumnya terjadi bila kita berkehendak untuk memberikan tugas. Misalnyam untuk mempresentasikan makalah di depan kelas, atau mengulas ulang pelajaran  di depan teman-teman sekelas.

Melempar usulan dengan maksud untuk memindahkan beban dan tanggungjawab dari dirinya kepada pihak lain. Melempar usulan dengan maksud untuk menyelamatkan diri, supaya tidak terkena kewajiba melaksanakan tugas, sebagaimana yang akan ditimpakan pengajar kepada peserta didik.

Pelajaran apa yang dapat kita petik dari pengalaman itu ?

Pertama, kejadia itu, atau perilaku itu, sesungguhnya menunjukkan adanya ketidaksiapan mental pada diri kita (peserta didik) untuk unjuk kemampuan. Mereka yang saling tunjuk, adalah mereka yang kurang  memiliki rasa percaya diri mengenai kemampuannya.

Kedua, dan ini yang lebih penting lagi, kejadian atau perilaku saling tunjuk, bisa jadi menggambarkan bahwa peserta didik kita kurang memiliki rasa mau mencoba mengenai kemampuannya. Mereka lebih mendahulukan melembar tanggungjawab, daripada memanfaatkan kesempatan untuk mencoba menguji kemampuan.

Ketiga, menghindar dari peluang. Tidak disadari oleh para peserta didik kita. Dengan melakukan saling tunjuk itu, sesungguhnya mereka sudah kehilangan kesempatan untuk belajar. Mereka kehilangan kesempatan untuk melakukan unjuk kemampuan dihadapan guru. Mereka kehilangan kesempatan untuk menguji kemampuan yang sudah dimiliki.

Terakhir, sikap saling tunjuk, pada dasarnya bukan melempar tanggungjawab kepada orang, dan bukan ‘menyudutkan orang lain’. Melempar kesempatan kepada orang lain, seperti yang terjadi di kelas, pada dasarnya adalah melempar peluang untuk maju atau melempar peluang untuk sukses.

Perhatikan dengan seksama. Kita sering menunjuk wakil rakyat untuk menjadi anggota legislatif. Dengan tindakan itu, siapa yang kaya ? siapa yang terhormat ? siapa yang mendapatkan fasilitas hidup yang melimpah ?

Dalam pemilihan pilkada, atau pilwakot, atau pilpres, kita menunjuk dan memilih orang lain untuk menjadi pemimpin kita. Pertanyaanya, siapa yang menjadi orang terhormat ? siapa yang kaya ? siapa yang terhormat ? siapa yang mendapatkan fasilitas hidup yang melimpah ? sementara kita, dengan kebiasaan, sekedar menunjuk orang lain melulu, mendapatkan apa ?

Berdasarkan pengalaman itu, tunjuklah diri sendiri untuk memanfaatkan peluang, karena dengan cara itulah, jalan menuju sukses akan semakin terbuka ?! semakin sering kita menunjuk orang lain, semakin kita jauh kita tertinggal ! selama kita tidak pernah menunjuk diri untuk unjuk kemampuan, selama itu pula kita tidak akan tahu, kemampuan kita yang sesungguhnya, dan kita akan tetap terlelap dalam ketertinggalan.

Advertisements