kembali ke habitat, dan tunjukkan kualifikasi dan kredibilitas kita, dengan cara melahirkan karya yang sesuai dengan profesi kita…

“Fokus…”, katanya, “itu penting dalam membantu kita untuk mencapai keinginan…” kata Mamat Rukhimat dalam sebuah pelatihan profesi guru geografi. Pernyataan itu, disampaikan secara umum, dan dikemukakan di depan peserta pendidikan dan latihan profesi guru (2012). Kendati demikian, tak ayal lagi, pernyataan itu seolah menghantam pikiranku sendiri.  Bukan apa-apa. Perasaan ini hadir dan kemudian berkecemuk, seiring dengan paparan panjang di hari itu.

Sebelumnya, dinyatakan bahwa salah satu kegagalan pendidikan di Indonesia adalah adanya mismatch. Tidak sinkron. Tidak berkesinambung. Tidak cocok. Di lembaga pendidikan Indonesia saat ini, khususnya lembaga pendidikan formal, ternyata ketidaksinambungan antara latar belakang pendidikan dengan mata pelajaran yang diampunya. Pelajaran matematika dipegang oleh guru berlatar belakang olahraga. Pelajaran geografi diampu oleh guru berlatar  belakan pendidikan agama. Guru dengan ijazah bahasa Indonesia, mengajar kesenian dan keterampilan. Mismatch, itulah fenomena yang terjadi saat ini.

Secara pribadi, tidak ada masalah. Mata pelajaran yang diampu geografi. Latar belakang pendidikan pun geografi. Tidak ada masalah dengan diri ini. Bahkan, bagi sejumlah orang, khususnya peserta didik, menganggap bahwa posisi selama ini adalah hal yang wajar-wajar saja. Tidak ada masalah dengan profesi ini. Selama itu, tidak ada masalah.

Tetapi, mengapa pernyataan dosen UPI tersebut menjadi menyinggung perasaan ini ? mengapa pernyataan orang yang menjadi dosen semasa kuliahku itu, menjadi pikiran berat saat ini ? alasan yang paling nyata, dan ini yang menjadi perhatian beliau saat itu, adalah karya nyata, atau produktivitas dari tenaga profesi itu sendiri.

Latar belakang pendidikan, geografi. Sekarang mengajar di Madrasah pun, adalah mata pelajaran geografi. Tidak ada masalah, dan bukan mismacth. Mestinya tetap menjadi satu kebanggaan, atau menjadi modal untuk menjalankan profesi ini secara lebih baik. Karena,  kondisi ini tidak banyak dialami oleh guru-guru lain, khususnya guru-guru di lingkungan Kementerian Agama.

Pada waktu menjalani PLPG masa lalu, dari 33 peserta, hampir 80 % adalah berijazahkan non-geografi, dan bahkan sebagian diantara non-kependidikan. Walaupuan pada waktu itu, saya sempat berkilah, bahwa mereka itu adalah ahli geografi. Kendati ijazah non-geografi, tetapi mereka sudah mengajar mata pelajaran geografi. Memang ada yang sudah memiliki masa kerja panjang, dan ada yang masih pendek, bahkan kurang dari 1 tahun. Tetapi, mereka itu pun adalah “Sarjana Ahli Geografi, (S.Ag.)…”kataku.

Mendengar pernyataan itu, kelas PLPG saat itu, bergemuruh, mendengar lelucon di siang hari itu. S.Ag. yang secara resminya adalah Sarjana  Agama, sebuah gelar akademik yang diberikan oleh Lembaga Pendirikan Tinggi Keagamaan, khususnya Agama Islam. Tetapi, di siang itu diplesetkan menjadi Sarjana Ahli Geografi.

Kemenyayatan hati yang terjadi pada diri ini, lebih karena ada tantangan akademik. Setiap profesi akan dituntut kinerjanya. Apapun profesi itu. Termasuk seorang guru. Apapun makna kita terhadap konsep guru itu, tetapi siapapun dia, sepanjang menyandang jabatan profesi dituntut kinerjanya. Salah satu diantara bukti fisik kinerja seorang akademisi, adalah karya tulis.

Itulah masalahnya !

Sampai saat ini, masih banyak yang mengalami kesulitan dengan pekerjaan yang satu ini. Bila sekedar mengajar ke kelas, katanya mudah. Bila sekedar membuat administrasi pendidikan, itu masih bisa dilakukan. Bila dituntut untuk membina siswa, itupun masih bisa dikembangkan. Bahkan, bila sekedar harus mengikuti kegiatan profesi seperti seminar, atau lokakaryaa, dan bila sekedar jadi pesertanya, adalah hal yang masih bisa dilakukan oleh banyak orang. Tetapi, bila sudah dikaitkan dengan membuat karya tulis, ‘nah…inilah masalahnya…?”

Di lingkungan organisasi dan alumni, saya termasuk orang yang sudah banyak dikenal. Saya adalah salah satu alumni yang rajin membuat karya tulis. Di koran, jurnal termasuk sejumlah buku sudah dipublikasikannya. Temanya beragam. Bukan satu tulisan. Di media massa sudah ada puluhan tulisan dipublikasikan. Tetapi, ‘belum banyak yang terkait dengan geografi…”. itulah masalahnya !

Kita memiliki hak yang luas dan luar biasa untuk mengembangkan minat dan bakat. Tetapi, bila dikaitkan dengan jabatan profesi kita, maka “Fokus…”, kata Dr. Mamat Rukhimat, “itu penting dalam membantu kita untuk mencapai keinginan…”.  Kita akan dituntut untuk mengeluarkan karya akademik kita, yang selarasa dengan profesi kita. Karena dengan seperti itulah, kualifikasi dan kredibilitas kita, akan dihargai orang.

Mendengar pernyataan itu, terbersit dalam diri, akan hal ini, menuntut kita untuktaubat akademik ? kembali ke habitat, dan tunjukkan kualifikasi dan kredibilitas kita, dengan cara melahirkan karya yang sesuai dengan profesi kita ?!

Advertisements