Kekerasan, dalam berbagai bentuk dan kualitas,  muncul di masyarakat. Ini adalah fakta. Itu adalah peristiwa sosial. Terhadap kekerasan itu, ada keprihatinan, ada kutukan, ada kejadian, dan ada penilaian. Dalam kekerasan ada masalah, dan ada ketegangan, dan akhirnya ada konflik. Semua itu menunjukkan bahwa kekerasan, adalah sebuah peristiwa. Kekerasan adalah sebuah peristiwa dalam kehidupan manusia.

Kendati demikian, kalangan tertentu, melihat bahwa peristiwa kekerasan, sebagaimana yang muncul di media massa, tidak selamanya erat dengan kualitas kekerasan yang terjadi di masyarakat. Media dengan karakternya sendiri, memiliki kemampuan untuk ‘melembutkan’ peristiwa, dan juga ‘mengeraskan peristiwa’. Dengan kemampuannya, media mampu mewartakan, sebuah peristiwa besar menjadi kecil, dan peristiwa kecil menjadi besar. Dari sudut pandang ini, kekerasan, apapun bentuk dan kualitasnya, dapat diartikan sebagai sebuah konstruksi-media.

Satrio Arismunandar (2005:160-177) , memberikan penjelasan mengenai makna ‘Islam” dalam konstruksi media Barat. Menurut Arismunandar, di media massa Barat cenderung ada simplifikasi dan generalisasi, Islam dianggap sebagai suku bangsa non-Barat, padahal umat Islam itu ada di Eropa, dan juga Amerika. Islam itu adalah negara berkembang, dan atau cenderung terbelakang. Padahal,  umat Islam dan negara Islam juga ada negara yang maju dan modern. Islam itu dianggap satu-jenis, padahal ada keragaman geografis, etnis, dan juga ideologi serta afiliasi politiknya.[1] Dengan demikian,  ketika ada kasus terorisme yang dilakukan oleh orang yang beragama Islam, kemudian ‘Barat” mempersepsikannya Islam sebagai teroris. Begitu pula sebaliknya. Barat dipersepsikan oleh Media Islam sangat kontras. Barat diartikan Amerika Serikat. Barat adalah kulit putih. Barat adalah Kapitalisme. Kapitalisme adalah jahat. Kesimpulan akhirnya, Amerika Serikat atau Barat adalah Jahat.

Dua wajah citra peradaban itu, pada dasarnya bukanlah peristiwa. Dua wajah yang hadir dalam persepsi kita itu, adalah sebuah konstruksi. Peter Berger, menyebutnya sebagai sebuah konstruksi sosial (social constracted), dalam konteks media, disebut pula sebagai konstruksi media.  Bila asumsi ini, dianut, maka dapat disimpulkan bahwa kekerasan yang kita pahami, sebagaimana yang tertangkap informasinya dari media massa, bisa jadi bukan kekerasan itu sendiri, tetapi adalah kekerasan sebagaimana yang dikonstruksi oleh media !

Media adalah media. Media itu tidak hidup, dan tidak memiliki kepentingan. Pemilik kepentingannya adalah ‘manusia dibalik media itu sendiri’.  Teori konspirasi, menegaskan bahwa pemilik modal dan pemegang akses pada kekuasaan media itulah, yang kemudian mampu membuat sebuah realitas sendiri.  Kristina Borjesson, adalah jurnalis, yang memberikan pemahaman, penyadaran dan kesaksian, bahwa media Barat, seperti yang terjadi di Amerika Serikat, memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi realitas, dan disajikan kepada masyarakat. Di Amerika Serikat, menurut Kristina  Borjesson ada ‘mesin penipuan’ yang memproduksi berita, dan mempengaruhi opini pejabat negara dan juga publik, bukan saja di Amerika Serikat, tetapi juga publik dunia.[2]  Pandangan Borjesson ini pun, menegaskan bahwa realitas dan kekerasan sebagaimana yang hadir di media, adalah sebuah konstruksi media.

Bila kita meminjam pandangan teori konflik, kekerasan itu terjadi, sebagai akibat dari adanya ketidakseimbangan kekuasaan. Di tengah masyarakat, konflik itu akan terus terjadi, bila kelas-kelas sosial tidak dikurangi. Konflik akan terjadi antara pemilik modal, dengan buruh.  Kesenjangan ekonomi, akan menyebabkan konflik antara kelas miskin dengan kelas kaya.

Pandangan fungsional, akan melihat dari sisi lain. Asumsi dari perspektif ini, memandang bahwa setiap komponen dan perilaku sosial, pada dasarnya adalah memilki nilai dan fungsi sosial bagi sistem yang lainnya, termasuk sistem yang lebih besar lagi. Konflik adalah tindakan yang menjadi ‘musuh’ bagi masyarakat. Tetapi, berita  konflik dan peristiwa konflik, menjadi sumber-informasi penting bagi media. Dengan kata lain,  adanya konflik, menjadi sumber informasi yang ‘baik’ bagi keberlangsungan media itu sendiri.

Awal April 2013, para penggiat media massa dunia  berburu berita mengenai konflik di Semenanjung Korea. Perang pernyataan, kesiapan pasukan militer, termasuk juga reaksi dunia mengenai ketegangan di Semenanjung Korea, menjadi berita hangat yang diburu awak media, dan juga menjadi banyak perhatian publik. Beralih perhatian publik, dari perhelatan Liga Champions terhadap ketegangan di Semenanjung Korea, selain menjadi aset besar bagi peningkatan jasa-media, juga merupakan sebuah fakta bahwa konflik sosial, baik dalam skala mikro maupun makro menjadi bagian penting dari ‘mati-hidupnya’ media.

Pada posisi seperti itu, maka kehadiran konflik dipandang sebagai bagian penting dalam menjaga ‘keberlanjutan sistem sosial’ tertentu. Hal ini, sama dengan teori mengenai fungsionalismenya. Pandangan ini, seolah mengantarkan bahwa konflik itu adalah sesuatu yang wajar, dan harus dipelihara, untuk kepentingan tertentu.

Kasus yang terjadi pada penyerangan oleh sekelompok “tak dikenal” ke  LP Cebongan Jogjakarta tahun 2013 pun, bisa ditafsirkan beragam, diantaranya, (a) polisi bermain citra, (b) menyudutkan TNI, dan (c) mafia narkoba mengadudomba polisi dengan TNI, dan ada juga yang menafsirkannya sebagai upaya pengalihan isu dari berita satu ke berita lainnya.  Tafsiran apapun terhadap masalah itu, tampak bahwa peristiwa kekerasan, menjadi konsumsi media, dan menjadi ‘tunggangan’ kepentingan kelompok tertentu. Termasuk bisa jadi, ini adalah tunggangan untuk menggolkan upaya meratifikasi masalah ‘hukuman mati’ bagi para pengguna narkoba !

Sekali lagi, bila pandangan ini dibenarkan, maka publik bisa mengajukan sikap kritis. Siapa yang membiarkan konflik Israel-Palestina berlanjut ? Siapa yang diuntungkan dengan konflik Timur Tengah  ? Siapa yang diuntungkan dengan konflik SARA di Indonesia ? Siapa yang melestarikan berbagai bentuk konflik yang ada di satu negara, dan atau di beberapa negara ini ?


[1] Satrio Arismunandar. “Islam di Media Barat” dalam Idi Subandy (ed.).  2005. Media dan Citra Muslim. Jogjakarta : Jalasutra.

[2] Kristina Borjesson. 2006. Mesin Penindas Pers. Bandung “ Q-Press Pustaka Hidayah. Penerjemah Yanto Musthofa.

Advertisements