Jika memang, film itu dapat memberikan pengaruah nyata terhadap penikmatnya, maka pertanyaan dasar yang bisa diajukan di sini, adalah bagaimana kita memanfaatkan film, sebagai bagian dari media pembelajaran, termasuk media pembelajaran geografi ?

Film adalah bagian dari budaya modern. Anak remaja tidak bisa dipisahkan dari film. Setidaknya, film merupakan salah satu dari santapan budaya, anak-anak remaja modern. Film bisa ditemukan, di berbagai media, seperti VCD atau home theater, internet, ataupun televisi. Media-media tersebut, menyajikan banyak film dengan keragaman yang luar biasa.

Sebagai seorang guru, kerap kali mengalami masalah besar terkait dengan kebiasaan anak remaja, atau peserta didik yang suka nonton film. Lebih sulit lagi, bila seorang pelajar sudah gila film. Menurut sebagian tenaga pendidik, kecanduan film itu menyebabkan prestasi belajar siswa menurun, bahkan perilaku personal dan sosial peserta didik mengalami perubahan.

Penelitian mengenai film terhadap pribadi penonton, atau penikmatnya sudah banyak dilakukan.  Pengaruh itu, bisa berdampak positif dan bisa pula berdampak negatif.  Khusus  yang negatif, jika memang ada, sudah tentu harus diminimalisir. Sedangkan untuk dampak yang positif, perlu mendapat perhatian yang seksama, khususnya bagi orang tua dan atau para pendidik.

Jika memang, film itu dapat memberikan pengaruah nyata terhadap penikmatnya, maka pertanyaan dasar yang bisa diajukan di sini, adalah bagaimana kita memanfaatkan film, sebagai bagian dari media pembelajaran, termasuk media pembelajaran geografi ?

Katie Algeo (2013) memberikan contoh pemanfaatan film Bend it Like Beckham, yang dirilis tahun 2002. Film dengan genre drama komedi itu, dikatakan Katie Algeo membantu pembelajaran geografi. Melalui film seorang guru dapat  berupaya untuk “…engaging students with core concepts, such as ethnicity, migration, acculturation, and assimilation, and with more advanced modes of analysis, such as the social construction of identity.”[1].  Sudah tentu, nilai-nilai edukatif seperti itu, bergantung pada jenis film dan isi film itu sendiri.

Film ‘5 cm’, misalnya, dilihat dari isinya adalah sebuah perjalanan menuju puncak Semeru untuk mengibarkan bendera Merah Putih di puncak tersebut tepat pada tanggal 17 Agustus. Film yang dilakoni oleh 5 orang pemuda, bermanfaat dalam pengembangan konsep-konsep geografi, seperti lokasi, morfologi dan juga aksesibilitas serta nilai kegunaan. Kreativitas guru dalam menafsirkan film tersebut, menjadi sangat penting. Kreativitas guru dalam menafsirkan film, menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta didik.  Begitu pula dengan film, Lasykar Pelangi dan atau Habibie-Ainun.

Dikaitkan dengan praktek belajar di kelas, sebuah film layar lebar memang terlalu panjang untuk digunakan sebagai media pembelajaran di  kelas. Teknik yang bisa digunakan, yaitu dilaksanakannya di luar jam pelajaran, dan atau memanfaatkan cuplikan-cuplikan film tersebut, dengan durasi sesuaia dengan waktu pembelajaran yang disediakan.

Persoalannya dasarnya, adakah hasrat guru geografi untuk memanfaatkan film sebagai salah satu sumber informasi geografi budaya  atau geografi fisik ? Untuk jenis PTK, tampaknya model seperti ini bisa dicoba ?!


[1] Katie Algeo. 2007. Teaching Cultural Geography with Bend It Like Beckham. Journal of Geography, 106:3, 133-143.  Di unggah, 27 February 201.

Advertisements