Sampai tahun 2008, kita masih menemukan buku teks geografi, yang mengembangkan tradisi ilmu bumi sebagai salah satu pilar tradisi geografi.  Istilah yang populer di Indonsia, biasa disebut pendekatan keilmuan.

Saat kita membuka Getis-Getis-Fellmann (2008), kita disodori pemahaman mengenai tradisi kajian geografi.[1] Dalam buku itu, tradisi kajian geografi ada empat jenis, yaitu tradisi ilmu kebumian, tradisi lokasi, tradisi lingkungan-budaya, dan tradisi analisis wilayah.   Di luar tradisi ilmu kebumian, masih dapat mudah dipahami sebagai sebuah pandangan khusus dari penulisnya. Tetapi, khusus untuk ilmu kebumian, kiranya perlu mendapatkan perhatian serius dari kita semua.

Pandangan tentang tradisi ilmu kebumian (earth science tradition), disodorkan Getis-Getis-Fellmann sebagai pemikiran yang mengacu pada William D. Pattison. Pemikiran yang pernah muncul tahun 1964, dan kemudian dipublikasikan kembali oleh penulisnya ditahun 1990. Dengan kata lain, dalam rentang waktu yang cukup panjang itu, dan ternyata masih juga digunakan oleh penulis geografi di millenium III ini, menunjukkan bahwa pemikiran Pattison itu masih aktual. Masih ada pendukungnya. Masih dianggap mampu untuk menjelaskan mengenai pendekatan studi geografi.

Untuk memudahkan pemahaman kita mengenai pendekatan-pendekatan geografi,  perlu dikemukakan di bagian ini mengenai struktur keilmuan geografi. Hubungan antara pendekatan geografi dengan struktur keilmuan geografi sangat erat, ibarat tubuh dengan ruh-nya. Pentingnya kajian mengenai struktur keilmuan ini, karena ada buku-buku pengantar geografi yang masih menunjukkan sikap yang kurang objektif, dan atau tidak proporsional dalam memandang struktur keilmuan geografi ini.

William D. Pattison (1964/1990) menyebut ada empat tradisi keilmuan geografi, yaitu (1) a spatial tradition, (2) an area studies tradition, (3) a man-land tradition and (4) an earth science tradition.[2] Pandangan serupa, dan malah dirujuknya, walaupun ada perubahan konsep sedikit, dapat dilihat pada pandangan Getis-Getis-Fellmann (2008). Dalam bukunya, ketiga penulis itu menyebut ada empat tradisi keilmuan geografi, yaitu tradisi ilmu kebumian, tradisi lokasi, tradisi manusia-lingkungan (environment), dan tradisi analisis wilayah.

Pandangan Pattison itu relatif kuat dan banyak diterima oleh ilmuwan geografi.  Pandangan-pandangan itu,  diposisikan sebagai wakil dari pemikiran modern mengenai objek formal geografi. Namun demikian, terhadap pandangan itu, tidak berarti sepi kritik. Setidaknya J. Lewis Robinson dari University of British Columbia, pernah melontarkan kritik terhadap pemikiran W.D. Pattison, “The Four Traditions of Geography,” yang dipublikasikan pada Journal of Geography 63 (1964).[3]

Menurut pemikiran Robinson, di zaman sekarang ini, kita akan mengalami kesulitan untuk menetapkan identitas tradisi keilmuan yang khusus, dan bisa memisahkan dari tradisi keilmuan yang lainnya. Kita tidak bisa membatasi diri untuk membentuk karakter disiplin ilmu sendiri. Dalam konteks globalisasi ini, interaksi antar disiplin ilmu terus menguat. Pada interaksi keilmuan itu, bukan saja saling sumbangsaran ide dan pemikiran, tetapi saling pinjam pendekatan. Oleh karena itu, pendekatan yang ada hari ini, justru adalah sebuah karakter keilmuan yang bersifat multidisipliner dan interdisipliner.

Implikasi dari pemikiran tersebut, menurut Robinson, tradisi keilmuan geografi yang kini menjadi identitas objek formal geografi, tetap  membutuhkan peran dan sumbangan dari pendekatan ilmu yang lain, sehingga dapat memahami fenomena geografi secara lebih baik.  James F Marran (1985), salah satu diantara yang memberikan perkiraan bahwa di masa depan akan terjadi proses dinamis dalam membangun ‘keutuhan’ pendekatan geografi.[4] Khusus dengan adanya teknologi informasi, seperti halnya SIG atau  Inderaja atau sejenisnya (sesuai perkembangan selanjutnya) pendekatan geografi akan menjadi utuh, dalam memahami fenomena geosfera.

Kritik kita pun, dapat diajukan pada pencantuman ‘tradisi ilmu kebumian’ (earth science tradition). Mengapa hal ini perlu dicermati ?  ada dua hal penting yang harus diajukan terhadap persoalan ini, yaitu menetapkan hakikat awal sejarah perkembangan geografi, dan karakter geografi itu sendiri. Bila kita memandang bahwa sejarah perkembangan geografi itu berawal dari tradisi ilmu kebumian, dan atau berangkat dari pola pikir ilmu kebumian, maka pencantuman tradisi ilmu kebumian sebagai salah satu disiplin ilmu, menjadi sangat penting.

Khusus untuk konteks yang satu ini, kita melihatnya ada satu aspek yang “bolong”, dan kurang mendapat perhatian dari Pattison maupun Getis-Getis-Fellmann. Aspek yang bolong itu, adalah tradisi ilmu sosial. Artinya, bila tradisi ilmu kebumian dianggap sebagai salah satu tradisi geografi, mengapa tradisi ilmu sosial tidak dimasukkan pada tradisi geografi pula, sementara dalam kajian geografi, aspek-aspek sosial-budaya selalu muncul didalamnya ?

Untuk konteks itulah, dalam wacana ini, tradisi ilmu kebumian pada dasarnya adalah bahan dasar. Kehadirannya sama dengan kehadiran tradisi ilmu sosial.  Kedua tradisi  ilmu disiplin ini, tradisi ilmu kebumian dan tradisi ilmu sosial, menjadi informasi awal dalam  membangun struktur keilmuan geografi. Andaipun mau dianggap sebagai bagian dari struktur keilmuan, hendaknya kita membuat struktur keilmuan baru, yang tidak memasukkan tradisi keilmuan kebumian sebagai salah  satu tradisi atau pendekatan geografi itu sendiri.

Ilustrasi  ini memberikan ilustrasi bahwa kajian geografi, pada dasarnya ditopang oleh ilmu-ilmu sistematik, baik dari ilmu kebumian maupun ilmu sosial (humaniora). Kedua ilmu ini, bahkan bisa dikatakan sebagai informasi dasar (basic information) bagi geografi, khususnya untuk membangun kerangka keilmuan berikutnya, berdasarkan pendekatan-pendekatan yang dikembangkan geografi. Paradigma pemikiran ini, diajukan sebagai koreksi,  baik kepada Pattison (1964/1990) maupun Getis-Getis-Fellmann (2008), dan sekaligus menggenapkan pemikiran dari Lewis Robinson (1976).

 


[1] Arthur Getis, Judithh Getis dan Jerome D. Fellmann. 2008. Introductioin to Geography. New York : Higer Education McGraw Hill

[2] William D. Pattison. 1990. The Four Tradtions of  Geography. From Journal of Geography, September/October 1990, pp. 202–206. © 1990 by the National Council for Geographic Education

[3] J. Lewis Robinson. 1976. A New Look At The Four Traditions Of Geography. Di download dari http://atlas.geog.hawaii.edu/390/articles/robinson-newfourtraditionsgeography.pdf. Didownload tanggal 1 Oktober 2012.

 

Advertisements