Kajian ini membantu kita untuk meningkatkan pelayanan kesehatan. Perawatan lingkungan, perawatan tempat dan kebersihan lingkungan, serta penciptaan tempat perawatan yang indah, nyaman dan menyegarkan, adalah bagian penting dalam usaha-usaha pelayanan kesehatan.

Membesuk orang sakit. Itulah kegiatan yang mungkin pernah kita lakukan. Kita datang ke rumah sakit, dengan maksud untuk membesuknya. Bagi yang terbiasa datang ke rumah sakit tersebut, akan dengan mudah menemukan lokasi perawatan orang yang akan di besuk. Tetapi, bagi yanag tidak terbiasa, menemukan lokasi perawatan orang yang dituju, cukup menyulitkan juga.

Kaget. Setengah tidak percaya. Itulah yang dirasakan. Datang ke sebuah rumah sakit milik pemerintah. Ini bukan yang pertama kali. Justru karena bukan yang pertama kalinya itulah, kita merasakan kaget. Sebelumnya pernah beberapa kali datang ke lokasi ini, tetapi situasi dan kondisi tidak berubah. Kamar perawatan pasien, sumpek, dan tidak bersih secara istimewa, dan juga berbau. Bau obat-obatan menjadi ciri khas kamar perawatan pasien.

Kata perawat, “wajar, ini rumah sakit, bukan hotel”. Itulah pembelaannya. Di rumah sakit, senantiasa berbau obat. Tempat yang harum itu adalah hotel. Kalau mau harum, yang pindahlah ke hotel, jangan di rumah sakit.

Emang. Siapa yang mau berlama-lama tinggal di rumah sakit. Tidak ada yang mau. Ke rumah sakit itu, kalau bisa jangan pernah. Andaipun terpaksa ke rumah sakit, upayakan jangan berlama-lama. Cepatlah sembuh dan pulanglah ke rumah tinggal sendiri. Di rumah tinggal sendiri, jauh lebih nyaman dan melegakan.

Tetapi, kita pun bisa mengajukan pertanyaan, apakah dan memang haruskah rumah sakit itu berbau ? alasan karena itu adalah identitas lokasi. Mungkin tidak seluruhnya benar. Di rumah sakit, setiap hari obat dan pelayanan pasien dilakukan. Tetapi, bukan berarti di lokasi ini, harus terjadi ‘pencemaran udara’ dengan bau-baru rumah sakit. Walaupun ini adalah rumah sakit, tidak mesti di ruangan itu, di lokasi itu ada pencemaran udara karena bau-bau obat yang dilayankan rumah sakit kepada pasien.

Adalah Esther M. Sternberg (2009) yang memberikan pencerahan kepada kita mengenai pentingnya memperhatikan tempat (place) dalam proses penyembuhan. Bahkan, lokasi atau tempat pun pada dasarnya, bisa dimanfaatkan untuk mendukung percepatan penyembuhan yang kita lakukan. Sulit dipahami,  kita akan mendapatkan kesembuhan, jika lingkungan tempat kita dirawat pun sudah tidak sehat dan menyehatkan. Kesehatan tubuh kita, disumbang dari kesehatan lingkungan, dan persepsi sehat kita mengenai lingkungan.

Dalam penelitian yang dilakukan Esther M. Sternberg (2009:3), pasien yang tinggal di kamar dengan jendela terbuka langsung ke laur, melihat alam, memiliki waktu penyembuhan lebih cepat dibandingkan dengana mereka yang tinggal di kamar menghadap ke dinding-tertutup.[1] Temuan ini meyakinkan Esther M. Sternberg, bahwa tempat atau lokasi, bisa memberikan sumbangsih untuk proses penyembuhan pasien.

Tatapan ke alam luar, membuka impian dan perasaan pasien lebih terbuka. Dinding tertutup dan kaku,  membuat persepsi dan pikiran pasien ‘sumpek’ dan tertekan. Melihat dunia luar,  mendorong harapan dan hasrat pasien terbuka, sedangkan  ruang perawatan yang tertutup mendorong hadirnya perasaan kaku, beku, dan terkungkung. Secara psikologis, dua kondisi ini potensial melahirkan efek psikologis yang berbeda terhadap pasien.

Kajian ini membantu kita untuk meningkatkan pelayanan kesehatan. Perawatan lingkungan, perawatan tempat dan kebersihan lingkungan, serta penciptaan tempat perawatan yang indah, nyaman dan menyegarkan, adalah bagian penting dalam usaha-usaha pelayanan kesehatan.


[1] Esther M. Sternberg.  2009. Healing Place. Cambridge : The Belknap Press Of Harvard University Press.

Advertisements