Banjir adalah bencana alam yang disebabkan pola penggunaan lahan yang tidak ramah lingkungan. Banjir di kota, maupun banjir di desa, termasuk Wasior Papua, adalah bukti tambahan mengenai dampak perilaku manusia terhadap menurunnya kualitas lingkungan.

Terkait dengan bencana alam ini, setidaknya ada dua hipotesis umum, yang muncul dan berkembang di masyarakat. Pertama, memandang bahwa bencana alam itu merupakan bagian dari mekanisme alam.  Gunung  meletus, seperti Gunung Merapi, adalah mekanisme alam yang memiliki dampak nyata terhadap  kehidupan manusia. Tsunami di Aceh (2004) dan Mentawai (2010), adalah contoh lain mengenai mekanisme alam  yang berdampak pada kehidupan manusia. Kewajiban manusia terhadap peluang terjadinya mekanisme alam itu adalah melakukan usaha peminimalisiran (mitigasi) bencana. Hanya dengan cara itulah, berbagai kejadian alam –termasuk dugaan akan terjadinya badai matahari antara tahun 2012-2015, dapat dikurangi.

Di samping itu, ada hipotesis kedua, yaitu berbagai bencana alam yang erat kaitannya dengan perilaku manusia. Salah satu diantaranya adalah banjir. Kemudian contoh lainnya, yaitu kekurangan air, pangan, dan merebaknya penyakit malaria atau demam berdarah. Munculnya penyakit dan atau bencana alam itu, erat kaitannya dengan perilaku manusia. Oleh karena itu, tindakan yang harus dilakukannya pun, bukan saja  masalah mitigasi bencana, tetapi dibutuhkan untuk melakukan perubahan perilaku, dari perilaku yang potensial menimbulkan penyakit dan bencana kea rah perilaku yang ramah lingkungan.

Pada konteks kedua itulah, ketidakmengertian kita akan terus muncul, jika di negeri ini, terus-terusan terjadi bencana banjir dan longsoran,  baik di tengah kota maupun di luar perkotaan. Sampai-sampai pada tanggal 4/12/2010 lalu, saya mendapatkan sms dari seorang teman :

gila, baru kali ini, saya merasa tersiksa di perjalanan. Waktu yang mestinya dibutuhkan hanya 1 jam, kini harus menghabiskan waktu hamper 6 jam. Macet, hujan, banjir dan tidak bisa bergerak. Saya kapok, tinggal dilokasi seperti ini…” ketusnya.

Saya yang membaca informasi singkat itu, tidak bisa berbuat apa-apa, dan juga tidak bisa  membantu apa-apa. Opini yang dikirimkan pun, hanya ucapan normative belaka. “itulah negeri kita, dan mengapa harus terus seperti ini selamanya…”. Artinya, mengapa masalah dampak buruk dari bencana itu sudah kita rasakan berkali-kali, namun kita tetap mendapatkan musibah ini lagi ?

Merenungkan rumusan masalah itu, setidaknya ada beberapa rumusan yang dapat dikemukakan.

Pertama, setiap kejadian ada akibatnya. Akibat yang muncul berulang-ulang, menunjukkan adanya penyebab yang berulang-ulang. Oleh karena itu, untuk memutuskan akibat, hanya ada satu langkah yang harus dilakukan, yaitu menghentikan penyebabnya. Dengan kata lain, untuk menghentikan terjadinya bencana, maka harus dilakukan berbagai upaya untuk menghentikan penyebabnya. Inilah langkah rasional dan objektif dalam menjawab pertanyaan tersebut.

Kedua,   andai kita sudah melakukan tindakan yang diasumsikan dapat menghentikan akibat itu, bencana bisa terjadi karena adanya orang lain yang masih tetap melakukan sejumlah penyebab lahirnya musibah. Hal ini, berdampak pada satu kebutuhan, bahwa untuk mengantisipasi dan atau mengurangi munculnya musibah, adalah perlu adanya tindakan kolektif dalam membangun perilaku yang ramah lingkungan.

Membangun lingkungan yang ramah lingkungan, tidak bisa dan tidak cukup hanya oleh seseorang. Setiap orang di muka bumi ini, memiliki peran dan sumbangsihnya masing-masing dan dalam ukurannya masing-masing.  Dengan kata lain, untuk membangun lingkungan yang ramah lingkungan, membutuhkan adanya kerjasama dengan semua pihak, tanpa kecuali. Di sinilah, gerakan kolektif, gerakan social atau kerjasama semua pihak menjadi penting untuk dilakukan.

Ketiga,  bila ternyata gerakan social itu tidak juga diwujudkan, maka persoalan terletak pada mental atau pola pikir manusia itu sendiri. Artinya, gerakan social sangat sulit diwujudkan bila tidak ada kepahaman mengenai apa yang terjadi, dan bagaimana harus bertindak. Ketidaksepahaman terhadap realitas kehidupan, menjadi penyebab awal adanya ketidaksepahaman tindakan dalam menghadapi masalah hidup.

Seseorang akan merasa nyaman tinggal di  daerah kumuh, ketika dirinya menganggap bahwa tempat itu adalah tempat terbaik bagi dirinya. Dia akan merasa nyaman, dan senang menebang pohon di sekitar rumahnya, bila dirinya hanya melihat pohon sebagai kayu bakar yang harus digunakannya, tanpa memperhatikan efek jangka panjang bagi lingkungannya. Seseorang akan merasa perlu memasang paping blok di seluruh permukaan halamannya, tanpa harus membuat sumur resapan, ketika dirinya hanya berfikir mengenai kepuasan dirinya dalam membangun rumah, tanpa harus memperhatikan mengenai keselamatan ekologis dan hidrologis di sekitar rumah dan daerahnya. Semua itu, saya sebut sebagai ketidakpekaan seseorang terhadap lingkungan, dan atau nasib lingkungan dalam jangka panjang.

Pada konteks yang terakhir itulah, saya memandang bahwa kajian mengenai sense of place[1], menjadi penting untuk dilakukan. Karena masalah sense of place adalah sebuah kondisi psikologis manusia mengenai lingkungannya.  Kelemahan atau ketidakpekaan seseorang terhadap tempat dan lingkungannya, akan menjadi sumbangan utama dalam kesalahan perilaku dirinya terhadap lingkungan. Geografi, memiliki tanggungjawab moral dalam menyentuh, mengoreskan, menguatkan dan membangkitkan sens of place !


[1] Jennifer E. Cross. 2001. What is Sense of Place? Department of Sociology Colorado State University.  Prepared for the 12th Headwaters Conference, Western State College, November 2-4, 2001.

Advertisements