Untuk meningkatkan kualitas profesi guru, mengenal model pembelajaran menjadi penting. Untuk meningkatkan pelayanan pendidikan di kelas, menguasai model-model pembelajaran menjadi sangat penting.  Sajian teori atau panduan yang mengulas masalah model pembelajaran ini, sangat melimpah. Saking melimpahnya, banyak juga diantara guru yang dibuatnya. Apa perbedaan antara satu dengan yang lainnya. Terlebih lagi, kadang-kadang kita demam istilah. Karena sedang ngetrend, cooperative learning, seolah-olah semuanya pingin cooperative learning, walaupun kadang bingung apa maksud dari model itu, dan yang bagaimana tekniknya.

Sekedar urun rembug membincangkan mengenai model-mode pembelajaran, di sini pun kita akan mencoba untuk merinci jenis-jenis model pembelajaran dimaksud. Maksud penulisan ini, tiada lain mempermudah dan memperjelas pemilahan antara satu dengan yang lainnya. Walaupun mungkin, selepas uraian ini pun, kita malah dibingungkan dengan jenis pemilahan yang lainnya.

Pada kesempatan ini, model-model pembelajaran dibagi ke dalam empat kelompok. Pengelompokkan ini tidak baku, dan tidak final. Artinya, bisa jadi, besok pagi, selepas kita menuliskan dan mengkaji model-model pembelajaran ini, muncul jenis baru yang dapat dimanfaatkan untuk diterapkan di dalam kelas.

Untuk membedakan pemilahan model pembelajaran ini dengan model pembelajaran yang lainnya, yaitu dilihat dari prosentasi keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Nilai partisipasi siswa dalam proses pembelajaran itulah, yang kemudian menjadi pembeda antara satu jenis model pembelajaran dengan model pembelajaran yang lainnya.

Pertama, model pembelajaran mandiri. Istilah yang bisa digunakan untuk menjelaskan model pembelajaran ini, ada self-regulation learning, self-direct learning, self-efficacy, atau self-motivated learning. Ciri utama dari model pembelajaran ini, yaitu peserta didik  mampu merancang, melaksanakan, dan melakukan evaluasi pembelajaran sendiri.  Dalam proses pembelajarannya, peran guru sangat minim, dan atau malah hampir tidak ada.

Kedua, model pembelajaran kompetitif (competitive learning). Pada jenis ini, peserta didik yang satu  bersaing dengan peserta didik yang lainnya. Sifatnya bisa klasikal, dan bisa pula dilaksanakan secara group (kelompok). Tetapi antara satu peserta didik dengan peserta didik yang lainnya, tidak saling komunikasi. Ciri utama pembelajaran ini, individualitas peserta didik sangat menonjol, dan mereka bersaing meraih prestasi puncak.

Ketiga, model pembelajaran  kerjasama (cooperative learning). Ciri utama pembelajaran ini, yaitu siswa membentuk kelompok dan mereka melakukan pembelajaran bersama. [1]Nilai individualitas minim, yang muncul adalah sosialitas dikalangan peserta didik. Melalui pembelajaran ini pula, siswa dikondisikan mampu menunjukkan sikap sosial dan afeksi yang tinggi terhadap sesama peserta didik yang lainnya.

Terakhir, yaitu kolaborasi (colaborative learning).  Lanjutan dari model cooperative learning. Dalam Cooperative Learning, peran guru sangat minim. Siswa lebih banyak belajar bersama dengan sesama siswa. Sementara dalam colaborative learning, guru melibatkan diri dalam proses pembelajaran, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan eksplorasi materi ajar.[2]


[1] Elizabeth G. Cohen, Celeste M. Brody, Mara Sapon-Shevin (ed.). 2004. Teaching cooperative learning : the challenge for teacher education. Albany : State University of New York Press.

[2] Timpthy S. Roberts. 2004. Online collaborative learning : theory and practice .Singapure : Idea Group Publishing