Sepasangan keluarga muda berkeras hati untuk keluar dari Pondok Mertua Indah. Ada kekurangnyamanan, atau ada impian yang tidak optimal diwujudkan, bila dia tetap tinggal serumah dengan mertuanya. Harapan dan sikap seperti ini,  merupakan bentuk lain dari perilaku seseorang yang digerakkan oleh imajinasi geografis.  Sikap  itu merupakan bentuk lanjutan, dari  persepsi dirinya mengenai ruang atau rumah tinggalnya saat ini. 

Setidaknya, kita bisa membagi imajinasi geografi rumah mertua dalam beberapa jenis, (a) rumah mertua adalah rumah sendiri, (b) rumah mertua adalah rumah bersama, dan harus di bangun bersama, dan/atau (c) rumah mertua adalah rumah mertua, bukan rumah sendiri.

Pasangan suami-istri yang menganggap rumah mertua sebagai rumah sendiri, dia akan secara optimal akan melakukan penataan dan atau perawatan terhadap rumah mertuanya tersebut. Sementara yang menganggap rumah mertua, adalah rumah bersama, dia senantiasa melakukan dialog atau kerjasama dalam menata atau merawat rumah mertua tersebut.  Kemudian, bagi mereka yang menganggap bahwa rumah mertua adalah tetap sebagai rumah mertuanya, dan bukan rumah dirinya sendiri, dia akan mengambil posisi menjaga jarak dan tidak optimal dalam melakukan penataan atau perawatan terhadap rumah mertua tersebut.

Mirip dengan sebuah rumah kontrakan. Sebuah perguruan tinggi swasta di Kota Bandung, banyak yang  masih memiliki gedung kampus  dengan statusnya sewaaan atau kontrakan. Imajinasi geografi pihak lembaga kampusnya, akan ditunjukkan dengan peran nyata dalam menata atau merawat gedungnya tersebut. Lembaga pendidikan (yang kontrak) yang memiliki imajinasi bahwa gedungnya itu adalah gedung orang lain, dia tidak secara serius melakukan perawatan terhadap gedung tersebut. Penataan dan perawatan, diserahkan seluruhnya kepada  pemilik gedung tersebut. Sementara dirinya, hanya merasa sebagai pengguna pakai dari gedung di maksud. Ini adalah bentuk sosial dari imajinasi geografi yang dimilikinya.

Dalam skala besar, kita pun akan berhadapan dengan imajinasi geografi yang beragama dari warga negara Indonesia. Peta imajinasi geografis warga negara Indonesia pun tidak jauh berbeda dengan imajinasi geografiknya pasangan muda pada keluarga tersebut. Ada warga negara Indonesia, yang mengimajinasikan NKRI sebagai sebuah rumah sendiri, ada yang mengimajinasikan sebagai rumah bersama, dan ada yang mengimajinasikannya sebagai rumah orang lain.

Menarik untuk dicatat imajinasi geografi manusia itu tumbuh dan berkembang secara beragam. Manusia mengembangkan imajinasi keruangannya, sesuai dan seiring dengan perkembangan pemikiran dan peradaban masyarakatnya.  Secara individual,  tahapan perkembangan pemikiran manusia, menunjukkan adanya perbedaan karakter imajinasi keruangan. Perbedaan itu pun, kemudian ditunjukkan dengan respon individu terhadap ruang.  Respon individu tersebut, sebagai bentuk nyata dari upaya manusia memenuhi kebutuhan hidupnya.

Seorang anak memiliki imajinasi keruangan terhadap halaman rumahnya, berbeda dengan seorang orangtua. Seorang anak mengartikan halaman rumah sebagai tempat bermain, sedangkan bagi orang tua, termasuk ibu-ibu menjadikan halaman rumah sebagai tempat istirahat. Sambil menyeduh dan minum kopi di pagi atau senja hari, para orangtua itu memanfaatkan ruang halaman rumah sebagai tempat istirahat hariannya.

Sementara dalam konteks lebih luasnya, imajinasi keruangan manusia itu pun dipengaruhi oleh tahapan  peradabannya masing-masing. Halaman di depan rumah sudah mulai tidak merata. Ada rumah tanpa halaman, dan ada rumah yang masih memiliki halaman rumah. Hal ini menggambarkan, kebutuhan tempat bermain atau istirahat sudah beralih. Mereka yang memandang bahwa rumah sebagai tempat istirahat, akan memaksimalkan halaman rumah sebagai peristirahatan sementara. Sedangkan, bagi mereka yang memandang istirahat bisa dilakukan di tempat lain,  merasa tidak membutuhkan halaman rumah.

Fenomena ini mengantarkan kita untuk melakukan pengklasifikasian imajinasi keruangan yang tumbuh kembang di masyarakat.

Pertama, imajinasi keruangan fungsional. Halaman rumah diartikan secara fungsional, bila kehadirannya dikaitkan dengan kebutuhan praktis hidup sehari-hari, seperti untuk istirahat, pelajaran, atau sarana usaha. Sebuah ruang, diartikan terimajinasikan secara fungsional, bila individu itu memandangnya dari sisi fungsi praktis ruang bagi kehidupan sehari-hari.

Kedua, imajinasi keruangan mitologis.  Ruang diartikan secara mitologis, bila kehadirannya dikaitkan dengan upaya kontrol metafisis bagi kehidupan sehari-hari. Kepercayaan masyarakat adat terhadap kampung adat, tanah adat, atau lingkungan-lingkungan adat, merupakan bentuk nyata dari imajinasi keruangan mitologis. Kehadiran tanah adat, yang kemudian dipercaya sebagai warisan nenek moyang yang harus dijaga dan dipelihara, merupakan bentuk dari imajinasi keruangan mitologis.

Ketiga,  imajinasi keruangan politis. Maksud dari imajinasi keruangan politis, yaitu  terjadi bila seseorang membangun kesadaran untuk memanfaatkan ruang bagi pemenuhan hasrat ‘kekuasaan’nya.  Orang menggunakan imajinasi keruangan politis, karena dirinya berharap mendapatkan manfaatkan lebih dari ruang dimaksud. Seorang guru, memarahi anak yang tidur di kelas, merupakan contoh kecil yang memosisikan dirinya sebagai pemilik kekuasaan di kelas. Seorang preman akan menganggap jalan atau gang-gang tertentu sebagai ruang-kekuasaannya.

Perbedaan dasar imajinasi keruangan politis dengan imajinasi fungsional, yaitu perilaku aktif dari individu. Seseorang yang membangun imajinasi keruangan politis, cenderung memiliki sikap agresif dalam memanfaatkan dan menguasai ruang dimaksud. Pembangunan kesadaran nasionalisme, pada dasarnya merupakan salah satu bentuk dari pembangunan imajinasi keruangan politis.

Terakhir, imajinasi keruangan spiritualis.  Gunung Merapi dan Bromo bagi masyarkat Jawa merupakan tempat dan juga simbol spiritualisme. Aktivitas kedua gunung tersebut, tidak semata-mata dianggap sebagai aktivitas geologis. Aktivitas gunung tersebut, merupakan bagian dari aktivitas makrokosmos. Aktivitas itu sendiri sebagai bentuk lain dari komunikasi dan interaksi antara alam dengan manusia.

Dalam konteks ini, imajinasi spiritualis terhadap ruang ini, tidak berarti sebagai sesuatu yang mistis. Sayyid Hossein Nasr, pada saat menjelaskan mengenai perspektif Islam mengenai alam semesta, menyebutkan bahwa Islam menganggap alam itu sebagai sesuatu yanag suci. Bumi adalah suci. Langit adalah Suci. Alam semesta adalah suci. Itulah yang disebut geofani. Di saat tidak ada air, maka bersucinya orang muslim (thaharah)  dapt dilakukan dengan menggunakan debu, atau biasa disebut tayamum. Praktek ini menunjukkan bahwa alam secara hakiki berada pada posisi yang suci. Itulah yang disebut imajinasi spiritual terhadap ruang dan keruangan.

Kearifan tradisional, sebagaimana banyak diyakini oleh masyarakat tradisional di Indonesia, merupakan contoh lain mengenai imajinasi spiritualis terhadap ruang.  Objek-objek spiritualismenya sangat beragam, ada yang berupa hutan, gunung, pohon, sungai atau pun yang lainnya. Variasi objek spiritualisme ruang itu, merupakan kekayaan budaya yang tumbuh kembang di masyarakat.

 

Daftar Pustaka

Derek Gregory. 1994. Geographical Imaginations. Cambridge : Blackwell

C. Wright Mills. 1970.  Sociological Imaginaton. Harmondsworth – Penguin

Advertisements