Tadi malam,  seorang pakar yang menyebut diri aktivis Interfaith, memberikan paparan mengenai uniknya tradisi Jawa dibandingkan tradisi Sunda. Dengan meminjam pandangan dari sejumlah penulis terdahulunya, dia mengatakan bahwa tradisi Sunda itu berakar pada tradisi huma (ladang berpindah). Karena memiliki tradisi ladang berpindah, maka di tengah masyarakat Sunda,  umumnya di Propinsi Jawa Barat tidak dikenal ada tempat pemujaan yang dimonumentalkan (seperti candi). Sangat sulit, kita menemukan candi atau tempat pemujaan sebagai artefak budaya Sunda. Saking sulitnya ini, untuk sekedar menemukan sisa-sisa kerajaan Sunda pun, menjadi sulit pula ditemukan.

 Hal itu berbeda dengan masyarakat Jawa. Di tanah Jawa, kita akan dengan mudah menemukan tempat-tempat monumental masa lalu, baik yang terkait  dengan simbol budaya (naskah), simbol agama (candi dan tempat pemujaan) maupun simbol kekuasaan (artefak kerajaan).  Masyarakat Jawa  saat itu sudah menerapkan  sistem pertanian yang menetap dan memiliki ekspresi budaya lebih kuat terwujud dalam artefak budayanya.

Masyarakat Sunda masa lalu, menggunakan model berladang. Karena sistem itu pula, maka  ikatan sosial kelompok (clan) jauh lebih kental dibandingkan dengan ikatan masyarakat luasnya (komunitas). Orang Sunda cenderung berkelompok-kelompok, dan sulit disatukan, dan tidak memiliki pemimpin kultural. Berbeda dengan masyarakat Jawa yang memiliki pimpinan kultural, seperti tokoh Sultan atau wali dalam komunitas agama.

Cukup panjang dia menuturkan pandangan-pandangannya itu. Bahkan, dia pun memberikan contoh dari paparannya itu ke dalam konteks kepemimpinan Sunda saat ini. Sangat sulit, katanya, saat ini kita menemukan tokoh Sunda yang menasional dan diakui secara kolektif. Elit Sunda cenderung bergerak sendiri. Sekali lagi, berbeda dengan tokoh Jawa, yang memiliki pemimpin kultural dan mampu menyatukan kesadaran kolektif masyarakatnya.

Sayangnya, ada aspek lainnya yang  kurang mendapat perhatian seksama dari aktivis interfaith tersebut. Aspek yang saya maksudkan itu, yaitu nilai positif dan sikap Sunda. Bukankah, dengan kesadaran Sundawi itu pula, masyarakat Sunda itu tidak mengenal adanya kultus individu, dan kultus geografi. Orang Sunda tidak mengenal ada tempat-tempat Suci yang dianggap memiliki ‘nilai spiritual’ atau ‘nilai kultural’ tinggi.

Kalau kita melihat tradisi Jawa, pada masyarakat ini sangat kuat kesadarannya mengenai kesucian istana atau keraton. Masyarakat Jawa memiliki apresiasi budaya khas terhadap tempat-tempat semedi, makam leluhur, dan juga lokasi spiritual lainnya. Tradisi ziarah ke makam leluhur, jauh lebih populer dan memasyarakat di tanah Jawa dibandingkan tanah Sunda.

Dengan memahami hal seperti ini, saya melihat bahwa kearifan lokal Sunda lebih relevan di sebut pandangan egaliter dan individual. Mestinya, sesuai dengan pandangan modern, tradisi individualis ini lebih cocok untuk konteks masyarakat modern. Perhatikan pandangan dari Alex Inkels atau Parsons.

Kesimpulan ini belum tuntas. Karena justru dengan kesimpulan seperti ini pula, muncul pertanyaan mengapa Sunda belum juga semaju yang seharusnya sesuai dengan mental tadi ?

Advertisements