ilmuwan muda jauh lebih penting daripada 20 orang politisi, Thomas Wilson

pandangan ilmuwan itu objektif, walaupun kadang terasa kaku, sedangkan pemikiran politisi itu membebaskan, tetapi  seringkali membingungkan

Waktu itu. Sekitar pukul 20.00 WIB. Baru sampai ke rumah. Anakku yang pertama, Iqbal muncul di depan pintu dan bertutur bahwa dirinya belum mau tidur, karena sedang nonton film. “Film Apa, A ?”  tanyaku.  “Film Kiamat” jawab anakku yang kini tengah beranjak pada usia 5 tahun. Hanya bisa tersenyum. Karena dalam pikiranku saat itu, yakin anakku tidak akan memahami apa yang dimaksud dengan kiamat itu sendiri. paling banter  yang membuatnya tertarik itu, karena ada pesawat  terbang dan planet bumi yang meledak. Maklum dalam seminggu terakhir, dia ujug-ujug senang nonton tentang film dokumentar mengenai Tata Surya. Kendati demikian, mendengar jawaban seperti itu hanya bisa membiarkan apa yang diinginkannya itu.

Sebagai sebuah hiburan (intertaint), film ini memang asyik ditonton. Film 2012, diawali dengan adegan yang berlokasi di India. Seorang ilmuwan bernama Dr.  Satnam Tsurutani (Jimi Mistry), melakukan penelitian dan menemukan fakta bahwa kulit bumi mengalami kenaikan suhu.  Perubahan suhu itu, kemudian akan berdampak lanjutan pada kehancuran yang sangat pada planet bumi.  Temuan ini, kemudian disampaikan pada rekan ilmuwannya, Dr Adrian Helmsley (Chiwetel Ejiofor), yang membuat laporan ke Gedung Putih bahwa kiamat akan tiba. Kendati kepala staff presiden, Carl Anheuser (Oliver Platt) kurang merespon secara baik, namun informasi itu terus dikomunikasikan ke pihak istana. Temuan tersebut kemudian dibawa ke pertemuan negara-negara G8 di tahun 2010. Dalam kesempatan itu, Presiden Amerika Serikat Thomas Wilson (Danny Glover) menyampaikan kepada para petinggi dunia bahwa bumi  akan dilanda musibah besar terkait inti bumi yang terus memanas.

Satu hal menarik dalam film ini, ternyata kalangan politisi itu memang cukup sulit untuk diyakinkan. Lebih bermasalahnya lagi, kadang para penguasa (presiden, misalnya) jauh lebih percaya kepada para politisi dibandingkan ilmuwan. Mungkin benar, karena para politisi itulah aktor utama dalam menopang kekuasaan. Mereka itulah yang memiliki kunci kekuasaan dalam membaca, memilih dan menetapkan kebijakan. Sehingga, seorang pemimpin yang tidak memiliki  kemandirian intelektual, akan mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan. Seperti itu pula, awal mulanya Presiden Thomas Wilson alami.

Politisi kerap kali membuat opini pembanding. Opini yang dikembangkannya adalah opini politik. Hukum politik sangat jelas. Opini politik itu sarat dengan kekuasaan. Opini politik bukanlah opini akademik. Ada pemeo, politisi itu boleh bohong tetapi tidak boleh salah.  Etika ini sudah tentu berbeda dengan kalangan akademik, yang boleh salah tetap tidak boleh bohong. Dua pola pikir yang berbeda, dan kerap kali diadu kepentingan dalam mempengaruhi kekuasaan.

Tetapi, hal menarik dari film ini, Presiden Amerika Serikat Thomas Wilson yang diperan Danny Glover, memberikan sikap positif dan tepat dalam mensikapi laporan dari ilmuwan muda Dr Adrian Helmsley.  Film  ini pun menunjukkan bagaimana ‘galau’nya seorang presiden, menghadapi sikap yang berbeda antara politisi dengan ilmuwan.  Kalau dalam bahasa kita, mungkin dapat disebutnya, opini yang dikeluarkan oleh tim pakar, dan pendukung partai.  Dalam situasi itu, Presiden ini pun mampu  mengambil sikap tegas, dan mengeluarkan pernyataannya bahwa, pandangan dari  ilmuwan muda jauh lebih penting daripada 20 orang politisi.

Sempat kaget dan terenyuh  dengan pernyataan itu.  Kagetnya itu, karena kadang dalam kehidupan kita ini, justru pandangan-pandangan politisi jauh lebih banyak digunakan dibandingkan dengan pandangan ilmuwan.  Perhatikan saja, kasus yang ada di sekitar kita.

Memvonis seseorang, bersalah  atau tidak,  ukurannya bukan benar salah, tetapi ada tekanan politik dari para penguasa atau demo dari massa tidak ? bila kita mengambil sikap dari situasi seperti ini, maka pandangan politisi atau gerakan politik jauh  lebih kuat dibandingkan dengan pandangan akademik.

Mengambil keputusan dalam merumuskan kebijakan publik, seperti Kurikulum pendidikan, draf undang-undang, akan banyak dipengaruhi oleh ‘telunjuk jari wakil rakyat’ dibandingkan dengan ‘lisannya dewan pakar’.

Menetapkan pejabat publik, seorang pimpinan akan banyak memperhatikan celotehan para pendukung koalisinya dibandingkan dengan analisis pakar.  Itulah kenyataannya.

Dalam konteks ini,  saya ingin mengatakan  bahwa  ‘pandangan ilmuwan itu objektif, walaupun kadang terasa kaku”, sedangkan ‘pemikiran politisi itu membebaskan, tetapi  seringkali membingungkan”.

Advertisements