Setiap pusat kebudayaan memiliki karakter tersendiri. Fenomena ini menantang kita untuk mengkaji mengenai geopolitik pusat kebudayaan. tetapi pada sisi lain,  kita pun diajak untuk melakukan kajian mengenai pertukaran geopolitik pada pusat-pusat kebudayaan. Bagaimana ini terjadi ?!

Dimana pusat kebudayaan berada ? menarik untuk menjawab pertanyaan ini.  Dalam kesempatan ini, kita tidak bermaksud untuk melakukan kajian empirik atau kajian terhadap artefak  peradaban, yang menunjukkan pusat-pusat kebudayaan. Apa yang kita lakukan saat ini, adalah merangkum pandangan, inspirasi atau pemikiran mengenai simbol-simbol dari pusat kebudayaan.

Cukup banyak simbol dari pusat kebudayaan.  Kesimpulan ini, setidaknya dapat kita temukan pada pemikiran Andrew Kakabadse and Nada Kakabadse (2001). Setidaknya, dalam pandangan mereka, ada empat organisasi sosial yang berkembang saat ini, yaitu pasar, organisasi hierarkhis, komunitas (clan) dan asosiasi. [1] Pemerintahan atau lembaga politik, dimasukkan pada jenis organisai berjenjang (hierarkhis). Namun yang menjadi menarik, pandangan Andrew Kakabadse and Nada Kakabadse kemudian mengkerucut pada dua lembaga saja, yaitu pemerintahan (berhierarkhi), dan market (pasar).

Untuk menggenapkan pemikiran Andrew Kakabadse and Nada Kakabadse, kita memasukkan simbol pusat kebudayaan yang lainnya. Dengan memasukkan  simbol pusat kebudayaan itu, kita dapat merinci pusat-pusat kebudayaan ke dalam beberapa pusat.

Pertama, Istana. Istana adalah simbol pusat kebudayaan. Maksud dari istana ini adalah sekretariat pemerintahan. Gedung Putih di Amerika Serikat atau Istana Merdeka di Indonesia. Dari gedung inilah, pikiran dan agenda budaya dan pembudayaan lahir dan berkembang. Program pembangunan, termasuk didalamnya adalah agenda ekonomi, dirumuskan dari dalam gedung ini. Meminjam pandangan Soedjatmoko (1983), pembangunan secara keseluruhan dan pembangunan ekonomi secara khusus pada dasarnya adalah bagian utama dari masalah kebudayaan.

Kedua, keraton. Secara politik, keraton adalah istana juga. Tetapi, keraton dalam pemahaman Jawa bukan sekedar simbol politik, tetapi juga simbol budaya. Keraton adalah sinkretik dari pandangan-dunia (world view) politik dengan pandangan-dunia budaya memadu. Seorang raja, bukan saja berposisi sebagai pemegang kekuasaan politik, tetapi juga pemegang mandat kultural.

Ketiga, pasar.  Di lihat dari struktur, dan sistem sosial yang tumbuh kembang di pasar, harus dibedakan dari keraton ataupun istana. Transaksi dan hukum pasar jauh lebih dominan, dibandingkan dengan hierarkhi atau kewenangan politik seseorang. Suasana demokratis dan cair, jauh lebih terasa tumbuhkembang kembang di pasar dibandingkan dengan Istana dan keraton.

Keempat, masjid. Koentjawidjoyo menyebutka bahwa ada tarikan kultural pada masyarakat modern saat ini. Tarikan kultural itu antara tarikan masjid dengan pasar. Masjid dan Pasar  memiliki karakter yang berbeda. Masjid bernuansakan sakral,  dan pengabdian, sedangkan pasar bernuansakan duniawi dan transaksi. Keunikan karakter dari masjdi itulah, yang kemudian kita harus pula memosisikan masjid sebagai salah satu simbol dari pusat kebudayaan.

Terakhir, yaitu rumah.  Kalangan pendidik mengatakan rumah adalah lembaga pendidikan pertama dan utama. Karena itu pula, pusat kebudayaan dan pembudayaan yang peryama dan utama itu sesungguhnya ada di rumah.  Sistem dan struktur sosial di rumah,  berbeda dengan yang terbangun pada istana, keraton, pasar dan masjid.

Meminjam  tesis dari Andrew Kakabadse and Nada Kakabadse tersebut, kelima pusat kebudayaan itu, memiliki karakter geopolitiknya yang berbeda. Persoalannya, adalah apakah ada interchange atau interface antar pusat kebudayaa itu ? atau, jangan-jangan ada pemerintahan dikelola gaya rumahan, atau rumah dikelola gaya pasar, atau pasar dikelola gaya masjid, atau masjid dikelola gaya pasar ?


[1] Andrew Kakabadse and Nada Kakabadse.  2001.  The Geopolitics Of Governance: The Impact Of Contrasting Philosophies. New York : Palgrave

Advertisements