Untuk sementara, dan sampai tahap ini, kesimpulan yang bisa dikembangkan di sini, adalah kemajuan kita, dan keberdayaan kita, bergantung pada kemampuan kita merespon lingkungan.

Bila kita merasa gelisah dengan keadaan dan kondisi lingkungan, keluarlah  dengan semangat mencari solusi pemecahannya. Itulah ciri dari upaya kreatif manusia

Enam tahun sudah, bekerja dan tinggal di kawasan Cipadung. Bekerja sebagai guru geografi di madrasah aliyah, dan juga tinggal di kawasan Cipadung. Madrasah ini, memiliki karakter yang berbeda dengan sejumlah sekolah yang pernah disinggahi. Walaupun tidak berbeda secara signifikans dari sisi kualitas pelayanan dan kualitas lulusan, namun lingkungan kerja dan nama lembaga ada pengaruh terhadapnya perilaku setiap orang yang bekerja di lembaga ini.

Hal yang kecil, misalnya, di sekolah umum, membaca Al-Qur’an masih merupakan sebuah anjuran. Di sekolah lain bukan tidak ada,  di sekolah umum pun, seperti dulu waktu bertugas di SMA PGRI 1 Bandung, mengaji sebelum belajar adalah kegiatan yang dianjurkan sekolah. Walaupun tidak wajib, dan bukan jadi penekanan, tetapi kegiatan itu sudah menjadi ide umum di sejumlah sekolah di kota Bandung. Tetapi, kalau di lingkungan madrasah, sudah bukan lagi anjuran, tetapi menjadi tuntutan awal bagi setiap pelajar. Hal inilah yang membedakan antara sekolah lain dengan madrasah ini. Sekali lagi, walaupun di akhir perjalanannya, kemudian banyak pula sekolah umum yang menjadikan muatan keagamaan sebagai unggulan dan mampu melampaui kualitas keagamaan di lingkungan madrasah, namun dalam beberapa hal penting kita dapat mengatakan bahwa sebuah lembaga memiliki karakternya sendiri, dan bisa dibedakan dari karakter lembaga yang lainnya.

Kesimpulan terakhir tadi, semula dianggap sebagai sebuah pemahaman subjektif. Tetapi ternyata pemahaman seperti itu, pada dasarnya merupakan bentuk lain dari kesadaran geografi mengenai keruangan. Dalam pandangan geografi, bahwa ruang adalah sebuah keunikan tersendiri, yang merupakan aksentuasi dari dinamika komponen ruang itu sendiri. Bagi kalangan pengkaji administrasi atau masalah keorganisasian, keunikan itu kemudian disebutnya sebagai sebuah budaya organisasi.

Sebuah lembaga memiliki karakternya sendiri. Kata orang administrasi, sebuah lembaga memiliki budaya organisasinya sendiri.  Dalam pemahaman kita, selaras dengan teori geografi itu sendiri budaya ruang itu merupakan sebuah aksentuasi dinamika komponen ruang, baik di dalam maupun dengan lingkungannya sendiri.  Itulah yang disebut dengan keruangan.

Dalam pengalaman itu pula, saya melihat, merasakan, dan melakukan satu proses alami dalam hidup. Hidup itu tidak sendirian. Hidup itu, khususnya manusia, tidaklah sendirian. Ada orang lain di sekitar kita. Ada masyarakat di sekitar kita. Ada budaya dalam  hidup kita.  Ini adalah kenyataan hidup, yang juga harus direspon dengan secara optimal.

Kehebatan kita, begitu pula kata Charles Darwin, yaitu kemampuan beradaptasi dengan lingkungan. Banyak diantara teman-teman yang tidak kerasan bekerja di lembaga ini, kemudian pindah ke madrasah lain. Banyak siswa yang tidak kerasan di madrasah, kemudian mutasi ke sekolah lain. Ada pula siswa yang tidak mampu beradaptasi dengan budaya madrasah, hingga drop out dari sekolah ini. Semua itu menunjukkan bahwa kehebatan manusia itu, bukan ditentukan oleh dimana tempat kita tinggal, tetapi bagaimana kita merespon lingkungan tersebut.

Ada rekanku yang menilai secara pesimis. Bahwa kemampuanku, hobiku, pengalaman akademikku tidak akan dapat berkembang secara optimal di lembaga ini. Terlampau banyak hambatan yang ada di lembaga ini, yang akan menjadi penghambat berkembangnya potensi seseorang.  Komentar dan kekhawatiran itu mungkin benar. Tetapi, tidak seluruhnya tepat. Saya teringat pada Muhammad Yunus di Bangladesh, yang mampu mengembangkan kreativitas dan kecerdasan ekonomiknya di negara berkembang, bahkan kecerdasan dan kreativitasnya dalam mengembangkan Grameen Bank, bank untuk rakyat miskin, mampu mengantarkannya meraih penghargaan Nobel tahn 2006 dalam bidang ekonomi. Di negara kecil dan miskin itulah, dan ditengah masyarakat miskin itulah, Grameen Bank mampu berkembang dengan pesat dengan bersandarkan pada prinsip trust dan solidarity.

Keberhasilan Muhammad Yunus itu pun, menyadarkan diri ini bahwa kualitas lingkungan bukanlah –atau lebih tepatnya, tidak boleh ditafsirkan, sebagai penghambat pengembangan diri, tetapi perlu dijadikan rangsangan untuk pengembangan diri. Teori yang lain, karena kemiskinan, kita terdorong untuk berubah maju, dan bisa jadi kareka kekayaan dan kemelimpahan orang bisa terlena. Oleh karena itu, kepesimisan sebagai rekan terhadap masa depanku, sedikit terobat dengan adanya beberapa kasus yang menunjukkan fakta berbeda. Bahkan, saya merasakan, karena saya mengajar di madrasah inilah, tahun 2013, saya bisa menerbitkan dua buah buku, Insya Allah, yang bertemakan keagamaan. Walaupun bukan berlatarbekalang pendidikan agama, tetapi pengalaman, penghayatan dan dialektika dengan lingkungan agama itulah, mendorong  kreasi menulis ini menjadi bervariasi.

Untuk sementara, dan sampai tahap ini, kesimpulan yang bisa dikembangkan di sini, adalah kemajuan kita, dan keberdayaan kita, bergantung pada kemampuan kita merespon lingkungan.

Bila kita merasa gelisah dengan keadaan dan kondisi lingkungan, keluarlah  dengan semangat mencari solusi pemecahannya. Itulah ciri dari upaya kreatif manusia

Berbagai persoalan yang ada selama ini, khususnya di madrasah ini, kian hari kian memberikan penyadaran terhadap diri bahwa pelajaran terpenting dari semua itu adalah penampilan diri hari ini. Berbagai masalah dan tantangan di masa lalu, adalah asahan terhadap diri kita. Karena itu pula, mungkin inilah, yang dimaksudkan dengan lingkungan itu adalah pengasah terhadap kemampuan kita guna menghadapi hari esok. Hasil asahan ini, apakah mempertajam kualitas diri kita, atau malah menumpulkannya ?

 

Advertisements