Buku Principles And Methods Of  Teaching Geography, karya Frederick L. Holtz diterbitkan pertama kali bulan September  1913, dan kemudian dilakukan digitasi oleh The Internet Archive pada tahun 2007 dengan pendanaan dari Microsoft Corporation.[1] Buku yang disusun dari sebuah pengalaman dan pelatihan geografi ini, memaparkan  prinsip dan metode  pembelajaran geografi, yang bisa dicerna oleh siapapun, bukan hanya ahli geografi atau pendidik geografi.

Dengan ketebalan 394 halaman, terbagi dalam 25 bab. Dibuka dengan menjelaskan mengenai tujuan pembelajaran geografi, dan kemudian ditutup dengan data-data buku yang bisa dimanfaatkan guru atau peserta didik saat belajar geografi.

Salah satu bahasan menarik dari buku ini, yaitu penjelasan mengenai peminatan peserta didik terhadap geografi. Menurut Holtz saat kita menjelaskan  mengenai prinsip dan metode pembelajaran geografi, ada dua wilayah kajian yang paling pokok. Lapisan pertama yaitu mengkaji mengenai aspek keilmuan (science), dan lapisan keduanya adalah aspek psikologis atau budaya. Pada lapisan kedua inilah, perhatian pendidik terhadap peminatan peserta didik menjadi penting.

Untuk kesempatan ini, kita akan mendiskusikan mengenai wacana peminatan siswa dalam belajar geografi (children’s interets in geography). Aspek ini dianggapnya sebagai  masalah pokok dalam pembelajaran. Efektivitas pembelajaran, bergantung pada kemampuan  pendidikan (macro), kurikulum (midle), materi ajar (micro) yang mampu memberikan jawaban terhadap peminatan siswa. Pendidikan yang efektif, yaitu pendidikan yang mampu memberikan jawaban terhadap masalah hidup dan kehidupan peserta didik. Dengan kata lain, minat siswa akan meningkat dan optimal, bila mempelajari sesuatu yang dianggapnya sebagai bagian penting dalam pemecahan  masalah hidupnya. Sulit untuk mengajarkan materi TIK kepada warga belajar di pegunungan, yang belum merasakan urgensinya benda canggih tersebut ! hal itu terjadi, bisa jadi bukan karena mereka tidak tahu benda canggih yang namanya komputer, tetapi karena mereka belum merasakan butuh benda tersebut.  Dalam konteks itulah, maka peminatan siswa menjadi penting untuk diperhatikan, dalam kaitannya dengan peningkatan efektivitas pembelajaran.

Penerapannya sangat jelas. Bila bangsa kita, Indonesia membutuhkan generasi muda yang gairah dalam wirausaha, maka pembelajaran mengenai geografi ekonomi, sumberdaya alam, serta  interaksi global, serta kota-kota bisnis di dunia menjadi penting untuk dikembangkan. Sedangkan, bila kita bermaksud untuk meningkatkan kepekaan, kepedulian, dan penguatan karakter spiritualnya, maka penjelasan mengenai geografi agama, tempat suci, dan lokasi peribadahan menjadi lebih penting untuk dilakukan.

Dalam praktiknya, kita akan dengan mudah menemukan indikasi empirik mengenai peminatan siswa dalam belajar geografi. Bila kita bertanya kepada peserta didik, kota apa dan negara apa yang paling terkenal, serta diimpikan untuk bisa dikunjungi ?

“makkah, madinah….”

“spanyol, manchester….milan..?”

“bali dan singapura…”

“jepang dan china…”

Variasi jawaban itu, bila ditelaah dengan seksama, ada kaitannya dengan memori yang ada dalam pikiran siswa. Orang yang sehari-hari belajar agama (Islam), tempat yang paling dikenang dan menjadi impiannya adalah Makkah dan Madinah. Sementara, bagi orang yang terbiasa dengan turisme, mungkin akan menyebutnya Singapura dan Bali. Sementara mereka yang terobsesi dengan sepakbola atau olahraga, kota-kota di negara Spanyol, Italia dan Inggris akan jauh lebih diminati dibandingkan kota lainnya. Semua itu menunjukkan bahwa setiap siswa memiliki peminatan tersendiri mengenai fenomena geosferanya.

Sehubungan hal ini, maka seorang guru geografi, selain memperhatikan aspek materi ajar, juga harus memperhatikan perkembangan mental siswa. Dua strategi bisa dilakukan, yang pertama dengan memanfaatkan peminatan siswa sebagai acuan pembelajaran, dan kedua memperhatikan tahapan perkembangan pembelajaran geografi. Strategi pertama, kiranya kurang cocok untuk situasi pembelajaran di Indonesia yang kurikulum pembelajarannya (kompetensi inti) ditetapkan oleh pemerintah.  Karena itu, strategi kedua, sebagaimana yang dikemukakan Holtz menjadi penting untuk diperhatikan.

Ada tiga tahap perkembangan siswa dalam belajar geografi. Pertama, tahap observasi dan persepsi  (the observational or perceptive stage). Kedua, tahap imajinasi dan memori (the memorizing and imaginative stage), dan terakhirnya yaitu refleksi (the reflective stage). Misalnya, saat kita belajar tentang gunung, maka siswa diajak untuk mengamati tentang fenomena gunung, mendengarkan penjelasan tentang gunung, dan mampu menunjukkan sikap atau penilaian terhadap fungsi gunung bagi kehidupan manusia.  Semua itu, menurut Holtz sebagai  bentuk dari perkembangan mental dalam pembelajaran geografi.

Tahapan terakhir (refleksi) itulah, yang perlu diberdayakan guru, sehingga peminatan siswa muncul dan merasakan ada manfaatnya dari materi ajar geografi.  Setiap guru, jangan abai terhadap tahapan ini. Abai terhadap aspek refleksi, potensial melahirkan keraguan dan kebimbangan akan nilai praktis geografi bagi kehidupan peserta didik.


[1] Frederick L. Holtz.  1917. And Methods Of  Teaching Geography. New York : The Macmillan Company

Advertisements