Sudah banyak kajian yang mengedepankan pandangan sosiologi mengenai sains dan teknologi. Selama ini, kajian mengenai sains dan teknologi banyak mengundang pemikir dari kalangan komunikasi, sosiologi, antropologi dan filosof. Mereka mencurahkan pikiran dan pandangannya mengenai keberadaan sains dan teknologi.  Sepanjang mencermati masalah seperti ini, kiranya kita belum banyak menemukan informasi mengenai geography of science and technology.

Apa urgensinya mengembangkan wacana geografi sains dan teknologi ? meminjam pandangan Rogers, aspek pertama yang perlu dilakukan itu adalah memahami mengenai difusi inovasi teknologi.[1]  Pertanyaan dasarnya, apakah difusi inovasi itu hanya memperhatikan aspek struktur dan kultur masyarakat, dan mengabaikan aspek geografi, khususnya geografi budaya  ?

Sebagaimana diketahui bersama, sampai pada tahun 2013 ini, masih ada sejumlah masyarakat yang melakukan penolakan terhadap media komunikasi sosial modern, seperti facebook atau twitt. Sebaran teknologi komunikasi modern ini, tidak mulus ke berbagai daerah di pelosok bumi. Sejumlah daerah, baik karena aspek sosial, budaya maupun geografi belum terjangkau oleh teknologi komuniksi modern.

Aspek kedua, sebagaimana yang juga dipahami oleh kalangan tim pemasaran (marketing). Segmentasi pangsa pasar (market share) tidak sekedar dilakukan berdasarkan aspek psikologis dan sosiologis, tetapi juga aspek geografi.  Pasar kawasan pedesaan perlu perlakukan secara khusus dibandingkan dengan pasar dari masyarakat perkotaan.  Memasarkan karya musik, untuk kawasan  Pantai Utara Jawa, berbeda karakter dengan kawasan Pusat Kota Jawa.  Pantai Utara Jawa, kental dari tradisi pantainya. Karakter atau aliran musiknya, menyesuaikan dengan kebutuhan seni budaya masyarakat Pantai. Tarling (gitar dan suling) merupakan bentuk seni budaya yang populer di kawasan masyarakat Pantai Utara Jawa –khususnya Cirebon, dan Indramayu Jawa Barat.

Pada konteks kedua ini, aspek geografi menjadi penting untuk diperhatikan. Sosialsiasi produk sains dan teknologi, dan juga pola komunikasi membutuhkan adanya kearifan geografi tersendiri.  Kearifan geografi merupakan kunci dalam mendukung efektivitas komunikasi infovasi pada masyarakat.

Urgensi melakukan geografi sains dan teknologi ini, erat kaitannya pula dengan kebutuhan strategi adaptasi teknologi. Kebutuhan sekarang ini, bukanlah teknologi yang mengubah lingkungan, tetapi yang berwawasan lingkungan dan mendukung pada peningkatan daya dukung lingkungan. Dari sisi pendidikan, misalnya pengembangan program studi dan teknologi itu dituntut untuk memperhatikan kebutuhan lingkungan. Sebagai negara agraris, maka kebutuhan akan inovasi teknologi pertanian menjadi sangat penting dibandingkan dengan teknologi kelautan, begitu pula sebaliknya.

Perhatian ketiga ini, menekankan aspek orientasi bentuk dan fungsi teknologi.  Ketidakpekaan terhadap masalah ini, berdampak pada perkembangan dan perubahan sosial.  Fenomena kekagetan budaya (culture shock) atau kesenjangan budaya (culture lag) pada dasarnya merupakan bentuk nyata dari perkembangan dan pengembangan teknologi yang kurang berwawasan pada kultur lokal masyarakat, sehingga melahirkan gejala kesenjangan geografi.

Poin terakhirnya, kesadaran masyarakat modern saat ini, mengarah pada upaya pemberdayaan kearifan lokal dalam menyelesaikan masalah kehidupan manusia modern, termasuk masalah lingkungan. Eksplorasi nilai-nilai keariofan lokal dan juga teknologi lokal, menjadi bagian penting dalam membaca dan menyelesaikan masalah-masalah modern saat ini.

Teknologi canggih bukanlah teknologi yang membunuh lingkungan dan atau merusak lingkungan. Teknologi canggih adalah teknologi yang mampu menjaga lingkungan, dan meningkatka daya dukung lingkungan. Adapun sumber teknologinya itu sendiri, tidak harus merupakan hasil inovasi, tetapi dapat pula bersumber dari pemberdayaan sains dan teknologi bernilai kearifan lokal.

Pada konteks itulah, kajian mengenai geografi sains dan teknologi, dipandang perlu dikembangkan secara optimal, dengan maksud untuk mendamping wacana-wacana yang dikembangkan kalangan sosiologi dalam memahami sains dan teknologi.  Melalui kajian ini pula, diharapkan, komunikasi inovasi, bukan saja mampu memberdayakan dan meningkatkan kualitas masyarakat tetapi juga mampu meningkatka daya dukung lingkungan.


[1] Everett M. Rogers. 1983. Diffusion of Innovations. New York : The Free Press.

Advertisements