Peggy Klaus (2007:9) menegaskan bahwa mengetahui diri sendiri, jauh lebih baik dan lebih penting dari mengenai pekerjaan. Setiap diantara kita, lebih penting mengenai diri sendiri daripada mengetahui jenis pekerjaan.[1]  Salah satu pendekatan yang perlu dilakukan itu, yaitu memahami mengenai apa yang dimiliki. Selepas kita paham mengenai diri sendiri, kita akan memiliki peluang lebih besar dan lebih baik lagi, untuk menetapkan apa yang harus dilakukan.

Terkait hal ini, kita dapat memperhatikan dua aspek penting yang bisa berpengaruh terhadap upaya memaksimalkan berfikir optimal (opthimal thinking). Kedua aspek itu, yaitu aspek kesadaran (awareness), dan kemampuan (competence). Perpaduan  atau dialektika antara kedua aspek ini, melahirkan keragaman perilaku dan kualitas manusia, atau kita sebut perbedaan eksistensi manusia dalam kehidupan.

Pertama, ada orang yang tidak sadar bahwa dirinya tidak kompeten. Dia tidak tahu bahwa dirinya tahu, atau dia tidak tahu bahwa dirinya bisa. Itulah yang terjadia pada orang pertama ini.  Ketidakberdayaannya bukan disebabkan karena factor luar, melainkan lebih disebabkan karena dirinya sendiri tidak sadar, tidak tahu, atau tidak paham bahwa dirinya itu mampu atau memiliki kemampuan.

Dari fenomena ini, kita bisa menyimpulkan bahwa kesuksesan bukan disebabkan karena dia tidak mampu, tetapi dia tidak sadar bahwa dirinya itu adalah mampu. Sehingga yang terjadi adalah kemalasan atau ketidakmauan dalam mengupayakannya.

Menurut saya, mungkin inilah, kelompok orang atau jenis orang yang perlu dikasihani atau disayangkan. Seperti bangsa kita. Sesungguhnya bangsa kita ini, kaya, tetapi Negara kita tidak sadar atau tidak tahu, bahwa dirinya itu adalah Negara kaya. Akibatnya, kita tidak pernah berusaha keras  untuk mengoptimalkan kemampuan. Kita tidak pernah mengoptimalkan ikhtiar hidup untuk memaksimalkan kemampuan dalam mewujudkan impian.

Kedua, ada orang yang tidak sadar  bahwa dirinya mampu (unawareness – Competence). Sikap ini kebalikan dari sikap orang pertama. Dalam beberapa kasus, bisa jadi, menghadapi orang kedua ini, lebih sulit lagi. Karena orang ini, tidak sadar bahwa dirinya mampu.

“gak mau ah,…”

“say amah, gak bisa…”

“Susah…?!”

 

Itulah sejumlah sikap reaktif dari orang kedua. Dia selalu menarik diri dari sebuah kompetensi. Dia selalu menarik diri dari sebuah pertandingan. Dia selalu menarik diri dari sebuah tantangan atau uji coba. Sikap minder lebih kuat, dibandingkan dari kebutuhannya untuk melakukan uji coba. Orang kedua ini, adalah tidak sadar bahwa dirinya itu memiliki kemampuan.

Ketiga, sadar bahwa drinya tidak kompeten (awareness – uncompetence). Kelompok kedua ini, adalah orang yang sadar bahwa dirinya tidak mampu, tidak tahu, atau kurang kompetensi. Akibat dari kondisi ini,  mereka memiliki potensi kuat, modal yang baik untuk belajar.

Seorang guru/dosen, memiliki kewajiban untuk memfasilitasi kelompok kedua ini.  Peserta didik pada kelompok kedua ini, sudah memiliki modal mental yang baik, yaitu kesadaran diri mengenai kondisi dirinya.  Kondisi psikologis ini, penting dan bahkan sangat penting, untuk upaya pemberdayaan masyarakat.

Kasus yang ada selama ini,  seorang  guru kadanga dengan serius memberika materi ajar kepada peserta didiknya. Sementara dilain pihak, pihak  siswanya sendiri tidak memiliki kemampuan, atau kesadaran untuk belajar.  Tidak mengherankan, bila kemudian, upaya guru itu tidak maksimal.

Keempat, kelompok orang yang sadar potensi dan kompeten (awareness – competence). Dari kelompok inilah, lahir negarawan, professional, atau entrepreneur unggul.  Prestasi mereka lahir, dari usaha keras mereka dalam memaksimalkan potensi dan kemampuan dirinya.

Orang pada kelompok ini, sadar betul, bahwa dirinya –baik sebagai individu mapun sebagai manusia, memiliki potensi yang sama  (sama unggul), dan memiliki pelaung yang sama (success is my right, Andri Wongso). Dengan demikian, kegigihannya yang ditunjukkannya itu adalah buah dari kesadaran diri, bahwa dirinya tahu mampu serta sadar memiliki kompetensi yang dibutuhkan.


[1] Peggy Klaus. 2007. The Hard Truth About Soft Skill. New York : HarperCollins Publishers

Advertisements