menuliskan ide yang buruk adalah lebih baik, daripada ide baik yang tidak dituliskan. Karena ide buruk yang dituliskan bisa diperbaiki, sedangkan ide baik yang tidak dituliskan akan dilupakan banyak orang.

Sering terucap dalam pikiran kita, “kalau nulis yang begituan mah, aku juga bisa ?” pernyataan ini, sering muncul dalam benak kita, selepas kita membaca tulisan orang lain. Tulisan-tulisan itu, baik yang dipublikasikan di blog, media cetak harian umum, atau pada sebuah buku. Persis.  Pertamanya kita tertarik dengan judulnya. Kemudian mau membacanya. Eh, setelah menghabiskan beberapa saat untuk membacanya, kita tersadarkan oleh sebuah ‘dunia lama’, dan tercetus kalimat yang tadi, “kalau nulis yang  begituan mah, aku juga bisa ?!”

Pernyataan ini sering muncul.  Bagi seorang pengamat bahasa, atau kecerdasan linguistik, gejala seperti ini merupakan informasi tambahan untuk memperkuat keyakinan bahwa pada dasarnya, setiap orang memiliki kemampuan menulis. Celetukan seperti itu, menunjukkan bahwa setiap orang memiliki minat, kemampuan  atau bakat dasar untuk menulis. Setidaknya, ada pengakuan secara tidak langsung bahwa dirinya itu mampu membuat sebuah tulisan.

Perhatikan dengan seksama, kita tidak berbicara dulu mengenai baik buruknya sebuah tulisan sendiri. Tetapi untuk sekedar introspeksi, bila kita sudah berani mengatakan  “kalau nulis yang  begituan mah, aku juga bisa ?!”, menunjukkan bahwa kualitas tulisan orang lain itu, tidak jauh standarnya dengan kemampuan diri kita. Setidaknya, itu pengakuan pribadi, atau pengakuan diri mengenai kemampuan diri. Bila demikian adanya, maka masalah penting itu, ternyata bukan masalah kualitas tulisan. Karena tulisan orang lain yang ‘begituan’ juga ternyata dapat dipublikasikan, sementara tulisan sendiri yang bisa ‘begituan’ tidak di dipublikasikan.

Dalam kaitan inilah, Jeremy Harmer (2004) melihat adanya kaitan antara kemampuan berbicara dengan kemampuan menulis. Kedua-duanya adalah produk dari keterampilan berbahasa.[1] Perbedaan antara keduanya, terletak pada bentuk berbahasanya itu sendiri. Artinya, jika kedua-duanya, kita sebut bersumber dari pikiran, maka berbicara dengan menulis itu hanya berbeda bentuk saja. Berbicara adalah mengujarkan apa yang ada dalam pikiran, sedangkan menulis adalah menggambarkan lambang bahasa dari apa yang dipikirkan. Atau sebaliknya, menulis adalah menggambarkan lambang ujaran, dan berbicara adalah mengujarkan lambang yang dituliskan. Orang yang sudah mampu berbicara memiliki bahan dasar yang melimpah untuk menulis, dan orang yang bisa menulis  memiliki bahan ujaran yang melimpah.

Tetapi mengapa banyak yang menganggap bahwa menulis itu lebih sulit daripada berbicara ?   pertanyaan seperti ini, sering muncul, khususnya bila kita berhadapan dengan peserta didik, atau  peserta pelatihan menulis. Karena sering muncul pula, maka tulisan yang berisi tentang ‘yang begituan’ pun muncul pula. Tulisan ini pun, hanyalah rangkaian dari kepenasaran diri mengenai masalah yang terkait dengan hal itu. Dan untuk menjawabnya, ada beberapa hal yang ingin disampaikan dalam kesempatan ini.

Pertama, adanya standar ganda. Kalau berbicara kita merasa bebas, tetapi kalau mau menulis, kita menerapkan standar yang ‘terlalu tinggi’. Padahal, antar berbicara dengan menulis, adalah sama-sama menyampaikan pesan. Tetapi mengapa kita malahan bersikap standar ganda terhadap proses menulis ?

Kita hendaknya bisa berbuat adil. Jika lisan kita diberi kebebasan untuk menuturkan isi pikiran secara leluasa, mengapa jemari kita dipaksa dan dipenjara dengan aturan menulis yang ‘sangat tidak kreatif’ ? saya khawatir, justru karena ketidakadilan kita itulah, kreativitas kita menulis menjadi terhambat.

Kedua, gaya menulis yang kerap labih banyak diajukan pada gaya orang lain. Saat ingin menulis, kita membayangkan ingin menulis dengan gaya si penulis profesional. Sementara kalau kita berbicara, kita ego dengan gaya sendiri.   padahal, kita pun, bisa menulis dengan gaya sendiri, dan tidak perlu larut atau dihantui dengan gaya menulis orang lain. Perhatikan dengan seksama. Sekarang sudah banyak muncul buku dengan tulisan yang sangat mempribadi banget. Menulis dengan menggunakan kata ganti pertama, “saya”. Walaupun judul dan isi buku terbilang serius, tetapi si penutur seolah sedang curhat dihadapan pembacanya. Posisi kita, sebagai pembaca, adalah orang yang dengan setia ‘mendengarkan’ curhatan tersebut. Poin pemikiran yang ingin disampaika pada bagian kedua ini, yaitu lugaslah menulis, selugas kita berbicara. Bebaskan gaya menulis, sebebas kita berbicara.

Terakhir, maksudnya, supaya tidak terlalu panjang diskusi ini, saya ingin mengatakan ini adalah point terakhir untuk kali ini. Point masalah yang menghambat kita menulis itu adalah bermimpi untuk menuliskan sesuatu yang diluar pengetahuan kita. Padahal kita pun, tidak pernah berbicara mengenai sesuatu yang tidak ada dalam benak kita. Bila kita tidak bisa bicara tentang apa yang tidak ada dalam pikiran kita, maka kita pun tidak akan bisa menulis mengenai apa yang tidak ada dalam benak kita. Artinya, menulislah mengenai apa yang ada dalam pikiran, pengalaman dan kekuasaan kita.

Ketidaklancaran kita dalam menulis, bisa disebabkan karena kita memaksakan diri untuk menulis sesuatu yang tidak ada dalam pikiran kita.  Sudah tentu, menuliskan sesuatu yang tidak kita kuasai, akan menjadi hambatan besar bagi kita dalam merampung tulisan dimaksud. Oleh karena itu, tuliskan apa yang diketahui, dan ketahui apa yang akan dituliskan !

Mengapa menuliskan itu menjadi penting buat kita ? karena ternyata, perbedaan kita dengan mereka, yang kita baca tulisannya dan kemudian kita berujar, “kalau nulis yang begituan mah, aku juga bisa ?”, sebenarnya sangat sederhana. Mereka menuliskan, dan kita tidak !

Perlu ditegaskan di sini, jika kita meminjam pandangan dari Jeremy Harmer (2004:6), kita bisa melihat bahwa proses menulis itu ada empat tahap, yaitu perencanaan (rencana ingin menulis sesuatu), kemudian membuat draf (tulisan mentah), pengeditan (baik bahasa maupun ide), dan draf terakhir. Perhatikan dengan baik, dalam proses menulis itu, kita memiliki waktu atau tahap edit. Kesempatan ini tidak pernah ada dalam berbicara. Ketika kita berbicara, kita tidak bisa mengedit. Apa yang tertuturkan, langsung akan diterima oleh banyak pihak. Bila salah bicara, kita akan langsung mendapatkan komentar atau sanggahan. Tetapi, bila kita membuat sebuah tulisan, maka sebelum dipublikasikan, kita sendiri memiliki kesempatan untuk mengeditnya, baik terkait dengan edit tata bahasa ataupun ide. Ini artinya, bahwa kita memiliki peluang untuk memperbaiki tulisan tersebut.

Dengan demikian, mengapa kita masih ragu  untuk menuliskannya ? menuliskan ide yang buruk adalah lebih baik, daripada ide baik yang tidak dituliskan. Karena ide buruk yang dituliskan bisa diperbaiki, sedangkan ide baik yang tidak dituliskan akan dilupakan banyak orang.


[1] Jeremy Harmer. 2004. How To Teach Writing. England : Pearson Education Limited.

Advertisements